Terbit: 5 Agustus 2020
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Atelektasis adalah kondisi ketika kantong udara kecil (alveolus) di paru-paru tidak berkembang sebagaimana mestinya ketika bernapas. Kondisi ini terjadi ketika aleveoli (bentuk jamak alveolus) menjadi kempes atau terisi dengan cairan alveolar. Simak gejala, penyebab, hingga cara mengatasinya di bawah ini.

Atelektasis: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Apa Itu Atelektasis?

Atelektasis adalah kondisi yang bisa membuat seseorang kesulitan bernapas, terutama jika sudah memiliki penyakit paru-paru. Gangguan ini bisa menyebabkan paru mengalami kolaps total, parsial, atau sebagian (lobus). Kondisi ini membuat pengobatan yang dilakukan tergantung pada penyebab dan tingkat keparahan.

Gejala Atelektasis

Jika seseorang memiliki kondisi ini, gejala utama yang umum dirasakan adalah seperti tidak mendapatkan cukup udara. Gejala lain yang bisa terjadi, antara lain:

  • Batuk
  • Sesak napas
  • Nyeri dada
  • Detak jantung yang cepat
  • Kulit atau bibir kebiru-biruan

Pada beberapa kasus, gejala tergantung pada seberapa banyak paru-paru yang terpengaruh dan seberapa cepat kondisi tersebut berkembang. Jika hanya beberapa alveolus yang terlibat atau terjadi secara lambat, Anda mungkin tidak memiliki gejala apa pun.

Kadang-kadang, pneumonia berkembang di bagian paru yang terkena. Ketika ini terjadi, Anda dapat memiliki gejala khas pneumonia, seperti batuk produktif, demam, dan nyeri dada.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Tempo Scan Baby Fair - Advertisement

Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter?

Segera cari pertolongan medis jika Anda kesulitan bernapas. Kondisi ini membutuhkan diagnosis yang akurat dan perawatan yang cepat.

Penyebab Atelektasis

Pada dasarnya kondisi ini bisa disebabkan oleh dua hal: jalan napas tersumbat (obstruktif) atau tekanan dari luar paru (nonobstruktif).

Sementara itu anestesi umum adalah penyebab umum dari atelektasis. Prosedur ini bisa mengubah pola pernapasan reguler dan memengaruhi pertukaran gas paru-paru, kondisi yang membuat alveolus mengempis.

Hampir setiap orang yang menjalani operasi besar mengalami kondisi ini, terutama mereka yang baru menjalani operasi bypass jantung.

Sementara itu, atelektasis obstruktif dapat disebabkan oleh banyak hal, antara lain:

  • Sumbatan lendir. Penumpukan lendir di saluran udara biasanya terjadi selama dan setelah operasi. Kondisi ini juga sering ditemukan pada anak-anak, orang dengan fibrosis kistik, dan selama serangan asma yang parah.
  • Foreign body/corpus alienum (benda asing). Atelektasis sering terjadi pada anak-anak yang menghirup suatu benda, seperti kacang atau bagian mainan kecil ke dalam paru-paru.
  • Tumor di saluran pernapasan. Pertumbuhan abnormal dapat mempersempit jalan napas.

Kemungkinan penyebab atelektasis nonobstruktif, antara lain:

  • Trauma dada karena terjatuh atau kecelakaan dapat menyebabkan Anda menghindari untuk mengambil napas dalam-dalam (karena rasa sakit). Kondisi ini dapat menyebabkan kompresi paru-paru.
  • Efusi pleura. Kondisi ini melibatkan penumpukan cairan antara jaringan (pleura) yang melapisi paru-paru dan bagian dalam dinding dada.
  • Radang paru-paru. Berbagai jenis pneumonia, infeksi paru-paru, dapat menyebabkan atelektasis.
  • Udara bocor ke ruang antara paru-paru dan dinding dada, secara tidak langsung menyebabkan sebagian atau seluruh paru-paru kolaps.
  • Jaringan parut pada paru-paru. Jaringan parut dapat disebabkan oleh cedera, penyakit paru-paru, atau operasi.
  • Tumor besar dapat menekan dan mengempiskan paru-paru karena menghalangi saluran udara.

Faktor Risiko Atelektasis

Pada beberapa kasus, terdapat beberapa orang yang lebih mungkin mengalami atelektasis daripada lainnya. Berikut adalah hal-hal yang membuat seseorang memiliki risiko lebih tinggi mengalami hal ini, antara lain:

  • Memiliki kebiasaan merokok
  • Penyakit paru jangka panjang seperti penyakit paru obstruktif kronis (PPOK)
  • Kondisi yang merusak saraf dan otot seperti cedera tulang belakang atau distrofi otot
  • Penyakit atau cedera yang membuat sulit bernapas atau menelan
  • Obat yang memengaruhi pernapasan
  • Kegemukan
  • Memakai tabung oksigen untuk waktu yang lama
  • Istirahat jangka panjang
  • Mereka yang sudah lanjut usia

Diagnosis Atelektasis

Dokter bisa menyarankan Anda untuk melakukan rontgen dada untuk mendiagnosis kondisi. Namun, tes lain juga dapat dilakukan untuk mengonfirmasi diagnosis, menentukan jenis, atau tingkat keparahan. Beberapa tes tersebut, di antaranya:

  • CT scan. Dibanding sinar-X, pemeriksaan ini jauh lebih sensitif sehingga dapat membantu dokter untuk mendeteksi penyebab dan jenis atelektasis.
  • Oksimetri. Ini adalah tes sederhana menggunakan perangkat kecil yang ditempatkan di salah satu jari untuk mengukur kadar oksigen dalam darah. Pemeriksaan ini membantu menentukan tingkat keparahan.
  • Ultrasonografi toraks. Tes noninvasif ini dapat membantu membedakan antara atelektasis, pengerasan dan pembengkakan paru-paru karena cairan di kantung udara (lung consolidation), dan efusi pleura.
  • Bronkoskopi. Prosedur ini dilakukan dengan memasukan selang fleksibel bercahaya yang dimasukkan ke tenggorokan. Tes ini memungkinkan dokter untuk melihat apa yang menyebabkan penyumbatan, seperti sumbatan lendir, tumor, atau benda asing.

Pengobatan Atelektasis

Perawatan yang dilakukan pada dasarnya tergantung pada penyebabnya. Jika kondisi hanya menimbulkan gangguan ringan biasanya dapat hilang tanpa pengobatan. Kadang-kadang, obat digunakan untuk melonggarkan dan mengencerkan lendir. Jika kondisi ini disebabkan penyumbatan, operasi atau perawatan lain mungkin diperlukan.

  • Fisioterapi Dada

Teknik ini membantu Anda bernapas dalam setelah operasi untuk memperluas kembali jaringan paru-paru yang kolaps. Beberapa teknik yang bisa dipelajari, seperti mengetuk dada untuk membantu memecah lendir, berbaring di satu sisi, atau memosisikan kepala lebih rendah dari dada bisa dilakukan untuk mengeringkan lendir.

  • Perawatan Pernapasan

Dalam beberapa kasus, tabung pernapasan mungkin diperlukan. Continuous positive airway pressure (CPAP) dapat membantu seseorang yang terlalu lemah untuk batuk dan memiliki kadar oksigen rendah (hipoksemia) setelah operasi.

  • Pembedahan

Pengangkatan obstruksi jalan napas dapat dilakukan dengan menyedot lendir atau dengan bronkoskopi. Selama bronkoskopi, dokter dengan lembut mengarahkan selang fleksibel ke tenggorokan untuk membersihkan saluran udara.

Jika tumor menyebabkan atelektasis, pengobatan mungkin melibatkan pemotongan jaringan tumor dengan operasi atau terapi kanker lainnya (kemoterapi atau radiasi).

Komplikasi Atelektasis

Meski bisa diobati, kondisi ini juga bisa menyebabkan masalah kesehatan lainnya. Berikut adalah beberapa komplikasi yang bisa terjadi, di antaranya:

  • Darah kekurangan oksigen (hipoksemia)
  • Radang paru-paru
  • Gagal napas

Pencegahan Atelektasis

Atelektasis pada anak-anak sering disebabkan oleh penyumbatan di jalan napas. Guna mengurangi risiko atelektasis, jauhkan benda-benda kecil dari jangkauannya.

Pada orang dewasa, atelektasis paling sering terjadi setelah operasi besar. Jika Anda dijadwalkan untuk operasi, bicarakan dengan dokter tentang strategi untuk mengurangi risiko.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa latihan pernapasan dan pelatihan otot tertentu dapat menurunkan risiko setelah operasi tertentu.

 

  1. Anonim. Atelectasis. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/atelectasis/symptoms-causes/syc-20369684. (Diakses pada 5 Agustus 2020).
  2. Anonim. Atelectasis. https://www.webmd.com/lung/atelectasis-facts. (Diakses pada 5 Agustus 2020).
  3. Moyer, Nancy L. 2018. Atelectasis. https://www.healthline.com/health/atelectasis#treatment. (Diakses pada 5 Agustus 2020).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi