Terbit: 2 Juni 2020 | Diperbarui: 5 Juni 2020
Ditulis oleh: Rhandy Verizarie | Ditinjau oleh: dr. Eko Budidharmaja

Salah satu gejala dari adanya kerusakan pada otak adalah ataksia. Kondisi ini tentu harus diwaspadai karena dampaknya bisa sangat buruk bagi tubuh secara keseluruhan. Lantas, apa itu ataksia dan apa saja ciri, penyebab, serta metode pengobatannya? Simak informasi selengkapnya berikut ini!

Ataksia: Penyebab, Gejala, Pengobatan, Pencegahan, dll

Apa Itu Ataksia?

Ataksia adalah sebuah kondisi neurologis di mana seseorang mengalami gangguan koordinasi fisik seperti berjalan, berbicara, melihat, dan menelan. Perlu digarisbawahi, ataksia ini bukan merupakan suatu penyakit melainkan dampak dari adanya suatu gangguan, dalam hal ini kerusakan pada bagian otak yang disebut cerebellum (otak kecil) atau kerusakan di tempat lain yang terkait dengan sistem saraf tubuh.

Cerebellum sendiri merupakan bagian otak yang fungsinya mengatur koordinasi otot-otot tubuh. Maka ketika cerebellum tersebut mengalami kerusakan, otak tidak dapat menyelaraskan kontraksi dan relaksasi otot satu sama lain untuk mencapai suatu gerakan yang diinginkan. Serangan ataksia bisa terjadi secara tiba-tiba (akut) atau terus berkembang dari waktu ke waktu (kronis).

Ciri dan Gejala Ataksia

Gejala ataksia biasanya pertama kali terlihat pada masalah keseimbangan dan koordinasi tungkai. Orang dengan ataksia dapat mengimbangi kondisi dan kurangnya keseimbangan dengan cara memberi cara jarak cukup jauh di setiap langkah. Gejala selanjutnya yang bisa muncul adalah berbicara cadel (disartria) dan kesulitan menelan (disfagia). Selain itu, mata orang dengan ataksia bisa bergerak tak menentu dari sisi ke sisi atau naik dan turun (oscillopsia).

Gejala lain yang juga harus Anda kenali adalah:

  • Tangan gemetar
  • Kehilangan sensasi dan kekuatan pada tungkai
  • Masalah kandung kemih dan usus
  • Penurunan daya ingat
  • Kecemasan dan depresi

Pada penderita ataksia stadium lanjut, kaki dan telapak kaki akan terasa lemah sehingga menyebabkan sulit untuk berjalan. Pelemahan pada kaki akan berlanjut menjadi kelumpuhan dan penderita harus menggunakan kursi roda atau hanya berbaring di tempat tidur. Pelemahan anggota gerak juga akan terjadi pada tangan, meskipun pelemahan pada tangan seringkali muncul setelah terjadinya kelumpuhan pada kaki.

Kapan Harus Periksa ke Dokter?

Anda sangat disarankan untuk segera memeriksakan diri ke dokter apabila mengalami kondisi-kondisi berikut ini:

  • Kehilangan keseimbangan tubuh
  • Koordinasi otot tangan dan kaki mengalami penurunan
  • Kesulitan berjalan
  • Kesulitan ketika berbicara
  • Kesulitan menelan makanan

Penyebab Ataksia

Ada banyak faktor penyebab ataksia. Faktor-faktor tersebut lantas membagi ataxia ke dalam beberapa jenis. Setidaknya, ada sekitar 100 jenis ataxia yang telah terdentifikasi berdasarkan area tubuh terdampak. Namun secara garis besar, kondisi ini terbagi menjadi 3 (tiga), yaitu:

  • Acquired Ataxia
  • Inherited Ataxia
  • Idiophatic Ataxia

1. Acquired Ataxia

Jenis ini terjadi ketika adanya kerusakan pada saraf yang dipicu oleh faktor eksternal. Faktor-faktor eksternal yang dimaksud meliputi:

  • Cedera kepala
  • Tumor otak
  • Stroke
  • Meningitis
  • HIV
  • Multiple sclerosis
  • Sindrom Paraneoplastik
  • Hipotiroidisme
  • Defisiensi vitamin B12 dan vitamin E
  • Konsumsi obat kemoterapi
  • Paparan bahan kimia
  • Konsumsi alkohol jangka panjang

2. Inherited Ataxia

Sesuai dengan namanya, jenis yang satu ini disebabkan oleh mutasi genetik yang diwariskan orang tua kepada anaknya. Gen yang mengalami mutasi tersebut lantas mengakibatkan kerusakan atau degenerasi pada jaringan saraf. Lebih lanjut, diwarisinya gen yang mengalami mutasi ini terbagi menjadi 2 (dua), yaitu:

  • Dominan, yakni ketika salah satu orang tua mewarisi 1 (satu) gen yang sudah bermutasi. Jenis inherited ataxia yang termasuk kategori dominan adalah Spinocerebellar dan Episodik
  • Resesif , yakni ketika kedua orang tua mewarisi masing-masing satu gen yang sudah bermutasi. Jenis inherited ataxia yang termasuk kategori resesif ini adalah Friedrich’s ataxia dan ataxia telangiectasia.

Selain mewarisi masalah genetik atau cedera, penyebab lain dari ataksia Friedreich, meliputi:

  • Infeksi bakteri termasuk meningitis atau ensefalitis
  • Infeksi virus seperti cacar atau campak yang menyebar ke otak
  • Stroke, perdarahan di otak, transient ischemic attack (TIA)
  • Cerebral palsy
  • Multiple sclerosis (MS)
  • Penyalahgunaan alkohol
  • Kelenjar tiroid yang kurang aktif
  • Kanker
  • Paparan racun atau pestisida
  • Beberapa obat, termasuk benzodiazepin untuk kecemasan atau gangguan tidur
  • Kondisi autoimun, termasuk lupus
  • Epilepsi

3. Idiophatic Ataxia

Ada beberapa kasus di mana gejala ataksia yang muncul tidak bisa dipastikan apa penyebabnya. Mereka yang mengalami masalah kesehatan ini kemungkinan besar akan divonis terserang ataxia jenis idiopatik (idiophatic ataxia).

Diagnosis Ataksia

Guna memastikan kondisi, dokter perlu melakukan serangkaian tes pemeriksaan pada pasien. Pemeriksaan untuk mendiagnosis ataksia terdiri dari wawancara (anamnesis), pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Berikut penjelasannya.

1. Anamnesis

Pertama-tama, dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan kepada pasien terkait dengan keluhan yang dirasakan.

  • Gejala apa saja yang dirasakan?
  • Sudah berapa lama kondisi ini berlangsung?
  • Apakah pernah mengalami kondisi ini sebelumnya?
  • Apakah mengonsumsi alkohol?
  • Apakah pernah mengalami cedera kepala?

2. Pemeriksaan Fisik

Selanjutnya, dokter dibantu perawat akan melakukan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik di sini untuk mengetahui apakah memang ada indikasi pasien mengalami ataksia. Selain itu, dokter juga akan melakukan prosedur pemeriksaan fisik standar seperti mengukur tekanan darah dan berat badan.

3. Pemeriksaan Penunjang

Dokter akan melakukan prosedur pemeriksaan penunjang untuk menguatkan diagnosis sekaligus mencari tahu apakah ada jenis penyakit lain yang diderita oleh pasien. Pemeriksaan penunjang yang biasa dilaksanakan adalah sebagai berikut:

  • Pemeriksaan konduksi saraf. Tes ini berfungsi untuk mengukur kecepatan rangsang saraf melalui pembuluh saraf. Tes ini dapat memberikan informasi jika terdapat kerusakan jaringan saraf. Selama tes, kulit di bagian tertentu akan ditempeli sepasang elektroda. Salah satu elektroda berfungsi sebagai pemberi rangsangan, sedangkan elektroda lainnya berfungsi sebagai penangkap rangsangan saraf.
  • Uji genetik. Pemeriksaan genetik bertujuan untuk mencari tahu apakah kondisi ini berkaitan dengan adanya mutasi gen atau tidak.
  • Magnetic Resonance Imaging (MRI). Pemindaian MRI pada penderita ataksia difokuskan pada otak dan tulang belakang. Pada penderita ataksia, khususnya jenis Friedreich, dapat ditemukan adanya atrofi, terutama pada saraf tulang belakang bagian leher.
  • Pungsi Lumbal. Pemeriksaan ini bertujuan untuk memeriksa cairan serebrospinal apakah terdapat abnormalitas di dalamnya (biasanya mengindikasikan telah terjadi infeksi bakteri maupun proses autoimun) sehingga menimbulkan gejala yang serupa dengan ataxia
  • Elektrokardiografi (EKG). Pemeriksaan ini berfungsi untuk menganalisis kondisi rangsangan saraf pada jantung. Hasil EKG pada penderita ataksia Friedreich, biasanya menunjukkan adanya hipertrofi ventrikel dan inversi gelombang T.
  • Ekokardiografi. Tes ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran kondisi jantung dengan menggunakan gelombang suara. Hasil analisis ekokardiografi pada penderita ataksia Friedreich dapat menunjukkan adanya hipertrofi ventrikel, hipertrofi septal, dan kardiomiopati hipertrofik.

Pengobatan Ataksia

Pengobatan ataksia disesuaikan dengan jenisnya. Berikut adalah beberapa macam metode pengobatan ataxia yang perlu Anda ketahui:

  • Fisioterapi, adalah terapi yang tujuannya adalah untuk mengembalikan keseimbangan tubuh sekaligus kekuatan serta fleksibilitas otot.
  • Terapi Wicara, adalah terapi yang tujuannya adalah untuk membantu pasien agar bisa kembali berbicara secara normal. Selain itu, terapi ini juga bertujuan untuk mengembalikan kemampuan pasien dalam menelan makanan.
  • Terapi Okupasi, adalah terapi yang tujuannya untuk membantu pasien agar dapat menjalani kehidupan sehari-hari secara normal.
  • Alat Bantu, juga bertujuan untuk membantu pasien dalam beraktivitas sehari-hari. Alat bantu bisa berupa kursi roda, tongkat berjalan, hingga kacamata khusus.
  • Obat-obatan, adalah metode pengobatan yang tujuannya untuk meringankan gejala-gejala yang dialami pasien. Obat yang biasa diberikan seperti paracetamol dan ibuprofen (untuk meredakan nyeri), gabapentin dan amitriptyline (untuk meredakan nyeri saraf), tizanidine (untuk mengatasi kram otot), dan sildenafil (untuk mengatasi disfungsi ereksi).

Pencegahaan Ataksia

Pada kasus ataksia yang disebabkan oleh faktor eksternal seperti kecelakaan hingga berujung cedera kepala, makan cara mencegahnya adalah dengan selalu berhati-hati ketika sedang beraktivitas. Sementara untuk kasus ataxia yang disebabkan oleh mutasi genetik, hingga saat ini belum dapat dipastikan apa yang bisa dilakukan untuk mencegahnya. Rutin melakukan pemeriksaan genetik selama hamil mungkin masih menjadi opsi terbaik untuk setidaknya mencari tahu potensi.

 

  1. Anonim. Ataxia. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/ataxia/symptoms-causes/syc-20355652 (Diakses pada 2 Juni 2020)
  2. Anonim. Ataxia. https://www.nhs.uk/conditions/ataxia/ (Diakses pada 2 Juni 2020)
  3. Brazier, Y. 2019. What is Ataxia and What Causes It? https://www.medicalnewstoday.com/articles/162368 (Diakses pada 2 Juni 2020)
  4. Seladi-Schulman, J. 2020. What is Ataxia? https://www.healthline.com/health/ataxia#bottom-line (Diakses pada 2 Juni 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi