Terbit: 5 Januari 2020
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Jati Satriyo

Asma adalah suatu penyakit kronis pada saluran pernapasan yang membuat penderitanya sulit bernapas. Penyakit asma mengganggu saluran napas yang menyebabkan otot saluran napas berkontraksi, menyempit dan menjadi meradang atau memproduksi lendir.

Asma: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pengobatan

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, prevalensi asma di Indonesia adalah 4,5% dari populasi, dengan jumlah kumulatif kasus asma sekitar 11.179.032. Penyakit pada saluran pernapasan ini berpengaruh pada disabilitas dan kematian dini terutama pada anak usia 10-14 tahun dan orang tua usia 75-79 tahun. Di luar usia tersebut kematian dini berkurang, namun lebih banyak memberikan efek disabilitas.

Penyebab Asma

Penyebab pasti asma tidak diketahui, namun penyakit pada saluran pernapasan ini sering kali merupakan hasil dari respons kuat sistem kekebalan terhadap alergen yang ada di lingkungan.

Berikut ini adalah faktor-faktor penyebab penyakit pada saluran pernapasan ini, di antaranya:

1. Genetika/Keturunan

Penyebab asma yang pertama adalah genetika. Jika orang tua menderita asma, Anda lebih mungkin untuk mengalami penyakit yang sama di kemudian hari. Beberapa gen terlibat dalam bagaimana sistem kekebalan merespons alergen. Gen-gen ini dapat menyebabkan reaksi yang lebih kuat di saluran udara.

2. Sistem Kekebalan Tubuh

Gejala asma terjadi ketika saluran udara menuju paru-paru menyempit sehingga membuat penderitanya lebih sulit untuk bernapas. Penyempitan ini biasanya disebabkan oleh peradangan yang membuat saluran udara membengkak dan menyebabkan sel-sel saluran napas membuat lendir berlebih.

Bronkospasme atau pengetatan otot-otot di sekitar saluran udara juga membuat saluran udara menyempit dan menyebabkan kesulitan bernapas. Seiring waktu, jika penyakit pada saluran pernapasan ini tetap aktif, dinding saluran napas bisa menjadi lebih tebal.

3. Alergi

Sebuah studi diterbitkan di Annals of Asthma, Allergy, and Immunology menunjukkan, bahwa lebih dari 65 persen orang dewasa dengan penyakit pada saluran pernapasan ini di atas usia 55 tahun juga memiliki alergi, dan angka tersebut mendekati 75 persen untuk orang dewasa antara usia 20 dan 40 tahun.

Sumber umum alergen dalam ruangan termasuk protein hewani, sebagian besar dari bulu kucing dan anjing, tungau, debu, kecoa, dan jamur.

4. Merokok

Sebuah penelitian yang dilakukan Partners Asthma Center mengungkapkan, asap rokok dikaitkan dengan peningkatan risiko asma, mengi, infeksi saluran pernapasan, dan kematian akibat asma. Selain itu, anak-anak dari orang tua yang merokok memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit pada saluran pernapasan ini.

Merokok membuat efek asma pada saluran udara menjadi lebih buruk dengan menambahkan batuk dan sesak napas pada gejalanya, serta meningkatkan risiko infeksi akibat kelebihan produksi lendir.

5. Faktor Lingkungan

Polusi udara baik di dalam maupun di luar rumah dapat berdampak pada perkembangan dan pemicu penyakit ini. Reaksi alergi dan gejala asma sering terjadi karena polusi udara dalam ruangan berasal dari jamur, pembersih, atau cat.

Pemicu penyakit asma lainnya di rumah dan lingkungan termasuk:

  • Sulfur dioksida.
  • Nitrogen oksida.
  • Ozon.
  • Suhu dingin.
  • Kelembapan tinggi.

6. Obesitas

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh National Institutes of Health mengungkapkan, terdapat hubungan antara obesitas dan penyakit asma. Penelitian tersebut menunjukan bahwa mekanisme inflamasi yang mendorong asma juga terkait dengan obesitas.

7. Stres

Orang yang mengalami stres memiliki tingkat asma yang lebih tinggi. Peningkatan perilaku terkait kondisi ini selama stres yaitu merokok—mungkin menjelaskan kenapa hal ini berkaitan. Selain itu, respons emosional termasuk tertawa dan kesedihan juga bisa memicu serangan asma.

8. Siklus Menstruasi

Salah satu jenis asma yang dikenal sebagai perimenstrual asthma (PMA) menyebabkan gejala akut selama siklus menstruasi dan sensitivitas tertentu terhadap aspirin.

Hormon seks yang bersirkulasi selama menstruasi, seperti luteinizing hormone (LH) dan follicle-stimulating hormone (FSH), berdampak pada aktivitas kekebalan tubuh. Tindakan imun yang meningkat ini dapat menyebabkan hipersensitivitas di saluran udara.

Pemicu Asma

Selain beberapa penyebab seperti di atas, berikut ini adalah beberapa kondisi yang bisa menjadi pemicu penyakit pada saluran pernapasan ini, antara lain:

  • Zat yang terbawa udara seperti serbuk sari, tungau, debu, bulu hewan peliharaan atau partikel limbah kecoa.
  • Infeksi pernapasan, seperti flu biasa.
  • Aktivitas fisik (penyakit pada saluran pernapasan akibat olahraga).
  • Udara dingin.
  • Polutan dan iritasi udara, seperti asap.
  • Obat-obatan tertentu, termasuk beta blocker, aspirin, ibuprofen dan naproxen .
  • Sulfit dan pengawet ditambahkan ke beberapa jenis makanan dan minuman.
  • Gastroesophageal reflux disease (GERD), suatu kondisi di mana asam lambung kembali ke tenggorokan bisa memicu penyakit ini.

Faktor Risiko

Sejumlah faktor dianggap meningkatkan peluang Anda terkena asma, antara lain:

  • Mengalami kondisi alergi lain, seperti dermatitis atopik atau rinitis alergi (hay fever).
  • Menjadi perokok pasif.
  • Paparan bahan kimia yang digunakan dalam pertanian, tata rambut, dan manufaktur.

Gejala Asma

Seberapa sering tanda dan gejala asma terjadi tergantung pada seberapa parah, atau intensnya asma, dan apakah Anda terpapar alergen. Beberapa orang memiliki gejala setiap hari, sementara yang lain memiliki gejala hanya beberapa hari dalam setahun.

Bagi sebagian orang, penyakit ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan tetapi tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Namun, jika Anda menderita penyakit ini dengan gejala yang lebih parah, hal tersebut bisa mengganggu aktivitas sehari-hari.

Ketika gejala terkontrol dengan baik, mungkin tidak menimbulkan gejala. Ketika gejala memburuk, hal itu disebut serangan asma, eksaserbasi, atau kambuh. Seiring waktu, penyakit ini yang tidak terkontrol dapat merusak paru-paru.

Berikut adalah ciri ciri asma, antara lain:

  • Sesak dada.
  • Batuk, terutama pada malam hari atau dini hari.
  • Napas pendek.
  • Mengi, kondisi yang menyebabkan suara siulan saat menghembuskan napas.

Serangan asma adalah episode yang terjadi ketika gejalanya memburuk. Serangan penyakit ini dapat terjadi secara tiba-tiba dan dapat mengancam jiwa. Orang yang menderita asma parah mengalami serangan pernapasan lebih sering.

Pola dalam gejala asma penting dan dapat membantu dokter membuat diagnosis. Perhatikan kapan gejala terjadi:

  • Di malam hari atau dini hari.
  • Selama atau setelah olahraga.
  • Selama musim-musim tertentu.
  • Setelah tertawa atau menangis.
  • Saat terkena pemicu asma biasa.

Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter?

Serangan asma berat bisa mengancam jiwa. Oleh karena itu, tanda-tanda penyakit asma darurat meliputi:

  • Memburuknya napas dengan cepat atau mengi.
  • Tidak ada perbaikan bahkan setelah menggunakan inhaler seperti albuterol.
  • Napas pendek ketika melakukan aktivitas fisik minimal.

Diagnosis Asma

Dokter dapat mendiagnosis penyakit ini berdasarkan riwayat medis, pemeriksaan fisik, dan hasil dari tes diagnostik. Riwayat gejala penyakit pernapasan akan membantu dokter menentukan apakah Anda menderita gejala ringan, sedang, atau berat. Tingkat keparahan digunakan untuk menentukan perawatan yang akan diterima.

1. Pemeriksaan Fisik

Guna menyingkirkan kemungkinan kondisi lain seperti infeksi pernapasan atau penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menanyakan pertanyaan tentang tanda dan gejala serta masalah kesehatan lainnya.

2. Tes Fungsi Paru-Paru

Anda juga mungkin diberikan tes fungsi paru-paru untuk menentukan berapa banyak udara yang masuk dan keluar saat Anda bernapas. Tes-tes ini mungkin termasuk:

  • Spirometri. Tes ini memperkirakan penyempitan saluran bronkial dengan memeriksa berapa banyak udara yang bisa dihembuskan setelah menarik napas dalam-dalam dan seberapa cepat Anda bisa bernapas.
  • Peak flow. Peak flow meter adalah alat sederhana yang mengukur seberapa keras Anda bisa bernapas. Pembacaan puncak arus yang lebih rendah dari biasanya adalah pertanda paru-paru mungkin tidak berfungsi dengan baik dan kondisi yang mungkin semakin buruk. Dokter akan memberi Anda petunjuk tentang cara melacak dan menangani pembacaan aliran puncak rendah.

Tes fungsi paru sering dilakukan sebelum dan sesudah minum obat yang disebut bronkodilator—seperti albuterol untuk membuka saluran udara. Jika fungsi paru-paru membaik dengan menggunakan bronkodilator, kemungkinan Anda menderita asma.

3. Tes Lainnya

Berikut ini adalah tes lain yang bisa dilakukan untuk mendiagnosis penyakit pernapasan, di antaranya:

  • Methacholine challenge

Methacholine challenge adalah suatu tes pemicu asma yang akan menyebabkan penyempitan saluran udara ringan. Jika Anda bereaksi terhadap methacholine, kemungkinan Anda menderita asma. Tes ini dapat digunakan bahkan jika tes fungsi paru-paru awal Anda normal.

  • Nitric oxide test

Meskipun tidak tersedia secara luas, tes ini dapat mengukur jumlah gas, nitric oxide, yang Anda miliki dalam napas. Ketika saluran udara meradang, Anda mungkin memiliki kadar oksida nitrat yang lebih tinggi dari normal.

  • Tes pencitraan

X-ray dada dan high-resolution computerized tomography (CT) paru-paru dan rongga hidung (sinus) dapat mengidentifikasi segala kelainan struktural atau penyakit (seperti infeksi) yang dapat menyebabkan atau memperburuk masalah pernapasan.

  • Tes alergi

Tes ini dapat dilakukan dengan tes kulit atau tes darah. Tes alergi dapat mengidentifikasi alergi terhadap hewan peliharaan, debu, jamur, dan serbuk sari. Jika pemicu alergi penting diidentifikasi, hal itu dapat mengarah pada rekomendasi untuk imunoterapi alergen.

  • Sputum eosinophils

Tes ini mencari sel darah putih tertentu (eosinofil) dalam campuran air liur dan lendir (dahak) yang Anda buang saat batuk. Eosinofil hadir ketika gejala berkembang dan menjadi terlihat ketika diwarnai dengan pewarna mawar (eosin).

  • Tes provokatif untuk olahraga dan asma yang disebabkan oleh dingin

Dalam tes ini, dokter akan mengukur obstruksi jalan napas sebelum dan sesudah Anda melakukan aktivitas fisik yang kuat atau menghirup udara dingin beberapa kali.

Komplikasi Asma

Komplikasi penyakit meliputi:

  • Penyempitan permanen saluran bronkial (renovasi saluran napas) yang memengaruhi seberapa baik Anda bernapas.
  • Masuk ke ruang gawat darurat atau rawat inap untuk serangan asma parah.
  • Efek samping dari penggunaan jangka panjang beberapa obat yang digunakan untuk menstabilkan asma parah.

Agar komplikasi tidak terjadi, perawatan yang tepat membuat perbedaan besar dalam mencegah komplikasi jangka pendek dan jangka panjang yang disebabkan oleh asma.

Pengobatan Asma

Beratnya serangan asma dapat meningkat dengan cepat, sehingga sangat penting untuk mengobati sesegera mungkin. Obat untuk serangan asma adalah inhaler yang bersifat bronkodilator atau melebarkan otot jalan napas.

Pengobatan secara dini dan agresif adalah kunci untuk menghilangkan gejala. Berikut adalah cara mengobati asma yang bisa dilakukan, di antaranya:

1. Obat Asma

Obat asma dapat bekerja dengan cepat untuk menghentikan batuk dan mengi dengan cara mengencerkan lendir saluran napas dan membuka otot jalan napas. Konsultasi dengan dokter mengenai dosis dan pemakaian obat. Biasanya, obat ini yang diminum ini adalah sebagai “pengontrol gejala” dan tidak digunakan ketika gangguan terjadi.

2. Inhaler

Inhaler dapat digunakan sendiri di rumah. Penekanan tombol inhaler sebaiknya dilakukan ketika serangan asma dan usai membuang napas. Ketika disemprotkan saat membuang napas, momen selanjutnya adalah ketika penderita menghirup napas sehingga obat justru akan masuk. Jika disemprotkan ketika menarik napas, penekanan tombol bisa saja terlambat dan justru obat malah terbuang.

3. Nebulizer untuk Asma

Cara mengobati asma berikutnya adalah menggunakan nebulizer. Nebulizer merupakan suatu alat untuk memberikan obat uap ketika seseorang mengalami serangan gangguan pernapasan. Alat ini dapat mengubah cairan.

4. Mengendalikan Pemicu

Apa yang membuat gejala asma timbul? Belajar lebih banyak tentang pemicu kambuhnya penyakit ini dapat membantu penderita mengurangi kesempatan mengalami serangan asma. Setiap orang memiliki pemicu yang berbeda, dapat berupa debu, udara dingin, asap rokok, kelelahan, pikiran yang tertekan, makanan seperti seafood, telur, dan lain-lain. Catat apa yang menjadi pemicu sehingga dapat dihindari di kemudian hari.

Pencegahan Asma

Karena penyebabnya belum diketahui dengan pasti, sulit untuk mengetahui bagaimana seseorang dapat mencegah kondisi peradangan.

Berikut adalah langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah penyakit pada saluran pernapasan ini, antara lain:

  • Menghindari pemicu. Hindari bahan kimia atau produk beraroma kuat yang menyebabkan masalah pernapasan di masa lalu.
  • Mengurangi paparan alergen. Jika Anda telah mengidentifikasi alergen, seperti debu atau jamur, yang memicu serangan asma, hindarilah sebaik mungkin.
  • Mendapatkan suntikan alergi. Imunoterapi alergen adalah jenis perawatan yang dapat membantu mengubah sistem kekebalan tubuh. Dengan suntikan rutin, tubuh Anda mungkin menjadi kurang sensitif terhadap pemicu yang Anda temui.
  • Minum obat sesuai resep. Hanya karena penyakit pernapasan ini tampak membaik, jangan mengubah konsumsi obat tanpa terlebih dahulu berbicara dengan dokter. Sebaiknya ceritakan obat yang Anda konsumsi setiap kunjungan dokter, sehingga dokter dapat memeriksa ulang apakah Anda menggunakan obat dengan benar dan mengonsumsi dosis yang tepat.

 

  1. Asthma. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/asthma/symptoms-causes/syc-20369653. (Diakses pada 5 Desember 2019).
  2. Asthma. https://www.nhlbi.nih.gov/health-topics/asthma. (Diakses pada 5 Desember 2019).
  3. Felman, Adam. 2018. What is asthma?. https://www.medicalnewstoday.com/articles/323523.php. (Diakses pada 5 Desember 2019).
  4. Healthline Editorial Team and Kimberly Holland. 2018. What Do You Want to Know About Asthma. https://www.healthline.com/health/asthma#treatment. (Diakses pada 5 Desember 2019).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi