Terbit: 21 Oktober 2020
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Aromaterapi adalah teknik perawatan kesehatan tubuh yang mengacu pada rangkaian terapi tradisional dengan menggunakan minyak esensial. Ketahui penjelasan lengkap mengenai manfaat, jenis, hingga aturan penggunaannya.

Aromaterapi: Manfaat, Jenis, Dosis, dan Risiko

Apa Itu Aromaterapi?

Aromaterapi yaitu terapi yang menggunakan minyak esensial untuk mengobati suatu penyakit. Aroma yang dihasilkan dari minyak esensial menghasilkan reaksi emosional dan fisiologis yang berbeda pada setiap orang. Ketika terhirup, molekul dalam minyak ini bergerak dari saraf penciuman langsung ke bagian otak yang mengatur emosi.

Bagaimana Cara Kerja Minyak Esensial?

Terapi ini bekerja melalui indra penciuman, penyerapan kulit, atau dengan menggunakan alat-alat seperti:

  • Diffuser
  • Penyemprot aromatik
  • Inhaler
  • Garam mandi
  • Body oil, krim, atau losion untuk pijat/penggunaan topikal

Minyak aromaterapi mengaktifkan area pada hidung yang disebut odorant receptors, yang kemudian mengirimkan pesan melalui sistem saraf ke otak. Selain memengaruhi bagian otak yang mengatur emosi, aroma yang dihasilkan dari terapi berdampak pada hipotalamus—dengan memproduksi hormon serotonin—senyawa kimia yang berperan menciptakan rasa bahagia.

Manfaat Aromaterapi bagi Kesehatan

Pada dasarnya, ini adalah terapi pelengkap yang mendukung pengobatan konvensional. Beberapa manfaat yang mungkin berguna adalah mengurangi:

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Family Fest - Advertisement

  • Mual
  • Badan pegal
  • Kecemasan, stres, dan depresi
  • Insomnia
  • Otot yang sakit
  • Sakit kepala
  • Gangguan peredaran darah
  • Masalah menstruasi
  • Gangguan menopause
  • Rambut rontok

Beberapa gangguan lainnya seperti psoriasis, sariawan, dan masalah pencernaan mungkin mendapatkan manfaat dari minyak ini, akan tetapi tidak semua penggunaannya didukung oleh bukti ilmiah.

Dosis Aromaterapi

Minyak esensial adalah minyak yang sangat pekat sehingga jika Anda tidak mengetahui dosis penggunaan, Anda bisa mendapatkan pengalaman yang tidak menyenangkan saat menggunakannya.

Berikut ini adalah beberapa contoh dosis minyak esensial:

  • Jika digunakan untuk pijat, campurkan 10 hingga 20 tetes minyak yang dicampur dengan minyak sayur seperti minyak zaitun atau minyak bunga matahari.
  • Mandi aromaterapeutik, campurkan 3 sampai 15 tetes ke dalam air.
  • Intimate shower, campurkan 3 hingga 5 tetes dalam 970 ml air.
  • Pengharum ruangan, campurkan 20 tetes dalam 120 ml air.
  • Obat kumur, campurkan 1 hingga 3 tetes untuk 1/4 gelas air.
  • Merendam tangan atau kaki, campurkan 10 tetes dalam 970 ml air.

Sementara itu, jika digunakan untuk keperluan membuat minyak pijat, masker rambut/wajah, serta losion pelembap, yang terbaik adalah mencampurkan minyak esensial dengan minyak dasar. Minyak dasar adalah minyak nabati yang kaya vitamin A, E, dan F.

Jenis Minyak Esensial

Terdapat berbagai minyak esensial yang bisa digunakan, setiap minyak memiliki kegunaan dan efek yang berbeda. Berikut jenis dan manfaatnya yang bisa Anda dapatkan, antara lain:

  • Minyak kemangi digunakan untuk mempertajam konsentrasi dan meringankan beberapa gejala depresi. Meski dapat meredakan sakit kepala dan migrain, minyak ini harus dihindari selama kehamilan.
  • Minyak bergamot dipercaya bermanfaat untuk saluran kemih dan saluran pencernaan. Ketika dikombinasikan dengan minyak kayu putih, minyak ini dapat membantu meringankan masalah kulit, termasuk yang disebabkan oleh stres dan cacar air.
  • Minyak lada hitam biasanya digunakan untuk menstimulasi sirkulasi darah, nyeri otot, dan memar. Jika dikombinasikan dengan minyak esensial jahe, bermanfaat untuk mengurangi nyeri radang sendi dan meningkatkan fleksibilitas.
  • Chamomile oil dipercaya dapat mengobati eksim.
  • Citronella oil berfungsi sebagai pengusir serangga.
  • Clove oil adalah analgesik topikal atau penghilang rasa sakit yang biasa digunakan untuk sakit gigi. Minyak ini juga dapat digunakan untuk mencegah muntah, mual, dan mengeluarkan gas dari saluran pencernaan.

Minyak Esensial Lainnya

Perlu diketahui juga, terdapat minyak yang biasanya dicampur dengan minyak pembawa dengan tujuan untuk memberikan pelumasan dan membuatnya lebih encer. Berikut adalah jenis minyak lainnya yang bisa digunakan, antara lain:

  • Eucalyptus oil dapat membantu melegakan saluran udara saat pilek atau flu.
  • Geranium oil dapat digunakan untuk mengatasi masalah kulit, mengurangi stres, dan sebagai pengusir nyamuk.
  • Jasmine oil berguna untuk meningkatkan gelombang beta yang terkait dengan kewaspadaan.
  • Lavender oil dapat digunakan sebagai antiseptik untuk luka ringan, luka bakar, dan untuk meningkatkan relaksasi.
  • Minyak lemon dapat digunakan meningkatkan suasana hati dan membantu meredakan gejala stres serta depresi.
  • Rosemary oil dapat digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan rambut, meningkatkan daya ingat, mencegah kejang otot, mendukung sistem peredaran darah dan saraf.
  • Minyak cendana diyakini oleh beberapa orang memiliki kualitas afrodisiak (meningkatkan gairah seksual).
  • Tea tree oil dipercaya memiliki kualitas antimikroba, antiseptik, dan disinfektan. Minyak ini biasanya digunakan dalam sampo dan produk perawatan kulit untuk mengobati jerawat, luka bakar, dan gigitan serangga.
  • Thyme oil dapat digunakan untuk membantu mengurangi kelelahan, gugup, dan stres.
  • Yarrow oil dapat digunakan untuk mengobati gejala pilek, flu, dan membantu mengurangi peradangan sendi.

Baca Juga: 8 Manfaat Minyak Jahe, Cara Pakai, dan Efek Sampingnya

Lilin Aromaterapi

Selain dalam bentuk minyak esensial, terapi ini juga populer dalam bentuk lilin. Lilin jenis ini terbuat dari minyak esensial dan beberapa bahan-bahan lainnya. Namun, aroma yang ditimbulkan lilin tidak memberikan ‘efek yang sebenarnya’ secara keseluruhan.

Oleh karena itu, saat menggunakan lilin aromaterapi pastikan lilin yang digunakan menggunakan bahan-bahan alami seperti kedelai, biji anggur, bunga, lilin lebah, atau kombinasi dari beberapa bahan tersebut.

Sementara itu, lilin yang terbuat dari parafin atau wewangian sintetis biasanya terbuat dari produk sampingan minyak bumi yang mengandung benzene derivatives, aldehydes, toluene, dan bahan kimia beracun lainnya yang dapat menyebabkan masalah kesehatan.

Sebagian besar lilin terbuat dari parafin, saat dibakar parafin dapat melepaskan senyawa beracun volatile organic compounds ke udara yang dikenal sebagai karsinogen. Ini adalah bahan kimia yang juga ditemukan dalam emisi bahan bakar diesel.

Bahaya lilin aromaterapi yang harus diwaspadai adalah menyebabkan alergi, serangan asma, dan masalah kulit. Selain melepaskan bahan kimia beracun, membakar lilin parafin menghasilkan jelaga dengan partikel yang dapat tetap melayang di udara selama berjam-jam, sehingga berisiko masuk ke dalam paru-paru dan terserap ke dalam aliran darah.

Memahami Bahaya Aromaterapi

Pada dasarnya, sebagian besar minyak esensial aman digunakan. Namun, ada beberapa tindakan pencegahan yang harus Anda ambil saat menggunakannya, serta efek samping yang harus diwaspadai, terutama jika bersamaan dengan penggunaan obat resep.

Jangan mengoleskan minyak esensial langsung ke kulit. Selalu gunakan minyak pembawa (carrier oil) untuk mengencerkan minyak. Lakukan uji tempel kulit sebelum menggunakannya.

Anak-anak dan wanita yang sedang hamil/menyusui sebaiknya menggunakan minyak esensial dengan hati-hati dan dibawah pengawasan dokter.

Efek samping penggunaan minyak esensial meliputi:

  • Ruam
  • Sakit kepala
  • Reaksi alergi
  • Iritasi kulit
  • Mual

Gunakan minyak esensial dengan hati-hati jika Anda memiliki:

  • Alergi serbuk bunga
  • Asma
  • Epilepsi
  • Tekanan darah tinggi
  • Eksim
  • Psoriasis

 

  1. Anonim. What Is Aromatherapy?. https://www.webmd.com/balance/stress-management/aromatherapy-overview#1. (Diakses pada 21 Oktober 2020).
  2. Anonim. Essential oils- your guide to storage, dosage and usage!. https://chicagointernalcleansing.com/essential-oils-your-guide-to-storage-dosage-and-usage/. (Diakses pada 21 Oktober 2020).
  3. Anonim. The hidden dangers of scented candles. https://www.iqair.com/us/blog/health-wellness/hidden-dangers-scented-candles. (Diakses pada 21 Oktober 2020).
  4. Allard, Nathalie. 2020. What Is An Aromatherapy Candle?. https://petitsrituels.com/blogs/petits-rituels-blog/what-is-an-aromatherapy-candle. (Diakses pada 21 Oktober 2020).
  5. Brazier, Yvette. 2017. Aromatherapy: What you need to know. https://www.medicalnewstoday.com/articles/10884#essential_oils. (Diakses pada 21 Oktober 2020).
  6. Cronkleton, Emily. 2019. Aromatherapy Uses and Benefits. https://www.healthline.com/health/what-is-aromatherapy. (Diakses pada 21 Oktober 2020).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi