Terbit: 9 Februari 2018
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com – Kebiri kimiawi sebenarnya sudah banyak dilakukan di negara lain sebelum isu ini muncul di Indonesia. Kebiri jenis ini adalah salah satu hukuman khusus yang harus diterima oleh mereka yang melakukan kejahatan seksual pada anak. Dengan melakukan kebiri, pria yang melakukan kejahatan akan mengalami penurunan hasrat seksual secara signifikan.



Terlepas dari fungsinya, apakah cara kebiri ini berbahaya untuk kesehatan pria mulai dari tubuh hingga fungsi seksualnya?

Menurunkan hasrat seksual pada pria
Kebiri kimiawi tidak sama dengan kebiri konvensional. Pria tidak akan dibedah alat kelaminnya dan dihilangkan salah satu organ seksualnya. Kebiri jenis ini dilakukan dengan memberikan semacam zat atau obat dengan suntikan. Individu yang mengalami suntikan ini akan mengalami penurunan gairah seksual karena kadar testosteron di dalam tubuh akan ditekan hingga batas terbawah.

Selain digunakan untuk penurunan kadar testosteron, beberapa negara menggunakan kebiri ini untuk terapi. Pria yang mengalami kelainan seksual seperti memiliki kecenderungan berhubungan seks setiap hari, bisa menggunakan cara ini untuk menurunkan gangguannya. Jadi, kebiri kimiawi tidak selalu berhubungan dengan hukuman saja.

Efek jangka panjang untuk kesehatan pria
Kebiri kimiawi biasanya dilakukan setiap 3 bulan sekali. Seseorang yang tidak mendapatkan suntikan ini akan mengalami gangguan lagi pada aktivitas seksualnya. Biasanya mereka yang sudah melakukan kebiri ini akan terus melakukannya karena mengalami ketergantungan.

Efek samping dari kebiri kimiawi cukup banyak. Namun, yang paling sering dialami oleh pria adalah adanya kerapuhan pada tulang, osteoporosis, penyakit yang berhubungan dengan kardiovaskular, dan adanya gangguan metabolisme gula dan lemak di dalam tubuh.

Efek lain dari kebiri jenis ini adalah kesuburan pria menurun, sering berkeringat, anemia, dan mengalami depresi. Mengingat risiko kebiri kimiawi yang banyak, melakukan tindakan ini harus dengan pengawasan dokter dan psikolog.


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi