Terbit: 25 April 2019
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com – Lari adalah salah satu olahraga termudah yang bisa dilakukan setiap orang. Olahraga yang tidak membutuhkan instruktur atau alat-alat khusus ini dipercaya mampu menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan. Saat ini tengah berkembang sebuah tren di mana lari tanpa alas kaki atau lari tanpa sepatu, bagaimana dunia medis melihat hal ini?

Benarkah Lari Tanpa Alas Kaki Menyehatkan? Ini Penjelasannya

Perbedaan Lari Tanpa Sepatu dan Menggunakan Sepatu

Lari tanpa alas kaki atau menggunakan alas kaki pada dasarnya memiliki manfaat dan risikonya masing-masing. Pada umumnya, banyak orang khawatir bahwa joging tanpa alas kaki atau olahraga tanpa sepatu akan membuat cedera. Kekhawatiran ini tidak salah, karena memang terdapat risiko yang bisa dihadapi, namun ada juga manfaat yang bisa Anda dapatkan.

Lari tanpa alas kaki atau dengan alas kaki minimal berarti terdapat lebih sedikit massa untuk berakselerasi pada setiap langkah yang dilakukan. Sebuah studi mengungkapkan bahwa manfaat lari pagi tanpa alas kaki terbukti menggunakan energi sekitar 5 % lebih sedikit daripada berlari dengan sepatu. Meski begitu, lari tanpa sepatu juga berisiko menimbulkan luka dan tekanan berlebih pada kaki.

Manfaat Lari Tanpa Alas Kaki

Lari tanpa alas kaki disebut-sebut meningkatkan kekuatan dan keseimbangan, sekaligus mempromosikan gaya lari yang lebih alami. Sedangkan berlari menggunakan sepatu hanya membuat kaki terlindungi dari benda-benda tajam dan membuat berlari lebih nyaman.

Berikut adalah beberapa manfaat yang bisa didapatkan apabila lari tanpa alas kaki, di antaranya:

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku PTH - Advertisement

1. Memperkuat otot

Manfaat lari tanpa alas kaki yang pertama adalah memperkuat otot, ligamen dan tendon karena tidak dibatasi oleh sepatu. Selain itu, manfaat olahraga tanpa sepatu ini juga dapat menguatkan otot-otot kecil pada telapak kaki, pergelangan kaki dan pinggul.

2. Menurunkan risiko osteoporosis

Salah satu tindakan sederhana yang bisa dilakukan untuk menurunkan risiko osteoporosis adalah dengan lari tanpa alas kaki. Jogging tanpa alas kaki dapat mencegah terbuangnya kalsium dari tubuh.

3. Mengurangi tekanan pada tubuh bagian bawah

Saat Anda lari tanpa alas kaki, otomatis hal ini akan membuat Anda mendarat lebih lembut di permukaan yang keras. Kondisi ini juga membuat Anda secara otomatis melenturkan lutut, pinggul dan pergelangan kaki.

4. Memperlancar aliran darah

Manfaat lari tanpa alas kaki berikutnya adalah membuat peredaran darah lebih lancar. Hal ini bisa terjadi karena lari tanpa sepatu dapat merangsang titik sensitif di telapak kaki untuk melancarkan aliran darah seperti halnya terapi akupuntur.

5. Meningkatkan fungsi saraf

Selain menguatkan otot telapak kaki, lari tanpa alas kaki dapat meningkatkan ketajaman saraf sensorik dan motorik di bagian kaki

6. Keseimbangan tubuh lebih baik

Setelah meningkatkan fungsi saraf, efek positif lainnya dari lari tanpa alas kaki adalah memperbaiki keseimbangan tubuh dengan meningkatkan kemampuan sensasi gerakan otot, di mana hal ini berguna untuk memaksimalkan gerakan tubuh.

7. Meningkatkan daya tahan tubuh

Banyak orang tidak menyangka bahwa manfaat lari tanpa alas kaki adalah meningkatkan daya tahan tubuh. Lari tanpa sepatu ini dapat meningkatkan kinerja sel darah putih dan sel darah merah, di mana hal ini berguna untuk mengurangi risiko terkena penyakit.

8. Meningkatkan kualitas tidur

Bagi Anda yang memilik masalah tidur seperti insomnia, sepertinya Anda bisa mencoba untuk mendapatkan manfaat lari tanpa alas kaki. Manfaatnya adalah menurunkan hormon kortisol, sehingga membuat Anda tidur lebih nyenyak.

Bahaya Lari Tanpa Alas Kaki

Sebagian orang mungkin khawatir untuk jalan atau lari bertelanjang kaki, karena takut terluka dan cedera. Hal tersebut memang tidak sepenuhnya salah. Lari bertelanjang kaki memang memiliki risiko tertentu terhadap kesehatan.

Berikut adalah bahaya yang bisa mengancam kaki Anda, di antaranya:

1. Meningkatkan cedera otot

Meski penjelasan sebelumnya mengatakan terdapat manfaat lari tanpa alas kaki khususnya untuk otot, perlu Anda ketahui juga bahwa lari tanpa sepatu berisiko membuat cedera apabila otot kaki tidak dipersiapkan dengan baik untuk berlari.

2. Menimbulkan masalah pada tendon dan persendian

Selain masalah pada otot, lari tanpa alas kaki juga meningkatkan stres pada bagian tendon achilles. Jika lari tanpa sepatu tidak dilakukan dengan tepat, dampak lanjutannya adalah stres berlebih pada sendi lutut dan tempurung. Kondisi inilah yang merupakan salah satu faktor risiko dari pengapuran sendi.

3. Rasa sakit di telapak kaki

Hal yang umum terjadi saat Anda mencoba lari tanpa alas kaki adalah rasa sakit. Pada beberapa kasus, kondisi ini bisa memicu terjadinya plantar fasciitis, penyakit yang terjadi pada jaringan yang menghubungkan tumit dengan jari kaki.

4. Terpapar bakteri atau kuman

Lari tanpa alas kaki yang dilakukan di luar ruangan berisiko membuat Anda terpapar bakteri dan kuman, di mana hal ini berisiko meningkatkan infeksi.

5. Luka atau kapalan

Selain berisiko meningkatkan terjadinya infeksi, hal lain yang mungkin terjadi apabila lari tanpa alas kaki adalah kapalan, lepuh, hingga luka.

Pada akhirnya, terlepas dari manfaat lari tanpa alas kaki seperti yang dijelaskan sebelumnya, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memeriksa risiko-risiko lainnya yang mungkin bisa terjadi.

Sebelum Anda melakukan lari tanpa alas kaki di luar ruangan, biasakan terlebih dahulu untuk lari tanpa sepatu di dalam ruangan terlebih dahulu. Selain di dalam ruangan, Anda juga bisa mencoba lari di tempat yang datar atau di rumput. Pastikan permukaan tanah bebas dari benda-benda tajam.

Hal penting lainnya adalah jangan langsung lari tanpa alas kaki dengan durasi yang lama. Biasakan kaki untuk berjalan tanpa alas selama beberapa menit, setelah itu Anda bisa menambah durasi secara perlahan.

Jika Anda ragu, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan ahli mengenai olahraga tanpa sepatu yang akan Anda lakukan.


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi