Apakah Abon Bermanfaat Bagi Kesehatan?

http://doktersehat.com/wp-content/uploads/2018/07/abon_doktersehat_1.jpg
Photo Source: www.infopeluangusaharumahan.com

DokterSehat.Com– Salah satu makanan yang disukai oleh banyak orang dan dijadikan lauk adalah abon. Sebagaimana kita ketahui, abon terbuat dari bahan makanan yang kaya akan protein seperti daging ayam, daging sapi, atau daging ikan. Lantas, apakah dengan makan abon kita juga bisa mendapatkan protein dan nutrisi sehat lainnya?

Pakar kesehatan menyebutkan bahwa meskipun terbuat dari bahan makanan yang kaya akan sumber protein, dalam realitanya abon lebih pantas untuk disebut sebagai penyedap saja. Hal ini disebabkan oleh cara pengolahan abon yang menggunakan suhu tinggi. Cara pengolahan ini membuat abon memiliki warna cokelat yang justru menandakan bahwa protein di dalamnya sudah rusak atau tidak dapat dicerna.

Meskipun memiliki rasa yang enak, jika sebuah makanan tidak mampu dicerna oleh tubuh, maka tentu tidak akan bisa memberikan manfaat kesehatan apapun. Karena alasan inilah abon lebih pantas disebut sebagai penyedap saja, bukannya sumber gizi makanan.

Pengolahan makanan dengan memakai suhu yang sangat tinggi memang bisa menyebabkan kerusakan kandungan gizi dan mutunya. Biasanya, yang paling mudah mengalami kerusakan adalah vitamin, khususnya vitamin larut air. Sebaliknya, pengolahan makanan dengan suhu panas yang tidak terlalu tinggi justru bisa meningkatkan nilai gizi makanan.

Tanpa kita sadari, cara mengolah makanan dengan suhu sangat tinggi seperti saat membuat abon yang membuatnya memiliki tekstur yang kering juga bisa membuatnya mengalami kerusakan protein. Protein pada abon telah mengalami polimerisasi atau ikatan yang sangat kompleks yang sulit untuk dicerna oleh enzim pencernaan tubuh.

Lantas, apakah abon aman untuk dikonsumsi? Pakar kesehatan menyebutkan bahwa jika untuk dijadikan lauk nasi, maka ada baiknya kita juga menambahkan bahan makanan lain yang kaya akan protein dan sayuran demi membuatnya memiliki nilai gizi yang cukup bagi tubuh kita.