Terbit: 23 November 2020
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Seksomnia atau sexsomnia adalah perilaku seksual saat seseorang tidur, misalnya masturbasi atau berhubungan seksual (jika tidur bersama pasangan). Simak informasi selengkapnya mulai dari definisi, gejala, penyebab, pengobatan hingga pencegahannya!

Seksomnia: Gejala, Penyebab, Cara Mengobati, Pencegahan, dll

Apa Itu Seksomnia?

Seksomnia adalah kondisi ketika seseorang melakukan tindakan seksual saat seseorang tertidur dan tidak mengingat tentang apa yang telah terjadi dan tidak dapat mengontrol tindakannya.

Sebagian besar penelitian yang ada telah menemukan bahwa bagian sexsomnia sering kali terjadi pada non rapid eye movement (NREM), tahap siklus tidur tanpa mimpi dan terdalam. Setelah bangun, seseorang biasanya tidak mengingat kembali peristiwa yang terjadi.

Seksomnia adalah kondisi yang relatif baru, dengan kasus resmi pertama dilaporkan pada tahun 1986. Menurut sebuah penelitian pada tahun 2015, hanya 94 kasus seks dalam tidur telah terdokumentasikan di seluruh dunia. Sexsomnia juga sangat sulit dipelajari dalam jangka panjang karena berlangsung secara acak pada malam hari.

Tanda dan Gejala Seksomnia

Seks dalam tidur sering kali menyebabkan perilaku atau gerakan seksual, tetapi juga bisa menyebabkan seseorang mencari keintiman seksual dengan orang lain tanpa sadar. Perilaku ini juga dapat terjadi bersamaan dengan aktivitas parasomnia lainnya, seperti berjalan dalam tidur atau berbicara.

Terkadang perilaku itu terjadi pada pasangan, teman sekamar, atau orang tua, yang pertama kali memerhatikan gejala tersebut. Pasangan seksual mungkin juga memerhatikan bahwa pasangannya memiliki tingkat agresi seksual yang tidak normal dan mengurangi hambatan secara acak pada malam hari.

Berikut ini sejumlah gejala seksomnia yang umum:

  • Menggoda atau membelai.
  • Mengerang.
  • Pernapasan berat dan denyut jantung tinggi.
  • Berkeringat.
  • Masturbasi.
  • Menyodorkan panggul.
  • Memulai foreplay dengan orang lain.
  • Hubungan seksual (jika tidur bersama pasangan).
  • Orgasme spontan.
  • Tidak mengingat kejadian seksual keesokan harinya.
  • Tatapan terlihat kosong.
  • Tidak responsif terhadap lingkungan luar.
  • Ketidakmampuan atau kesulitan terjaga.
  • Penolakan aktivitas pada siang hari saat sadar sepenuhnya.
  • Berjalan dalam tidur atau berbicara.

Selain gejala fisik yang terjadi selama sexsomnia, perilaku ini dapat menimbulkan konsekuensi emosional, psikososial, dan bahkan berbahaya.

Kapan Harus ke Dokter?

Beberapa perilaku seks dalam tidur mungkin tidak berbahaya, misalnya masturbasi. Namun, bagi orang lain bisa sangat serius. Faktanya, sexsomnia telah disalahgunakan sebagai pertahanan dalam kasus pemerkosaan.

Sementara pada pasangan pengidap seksomnia mungkin juga mengkhawatirkan perilakunya yang merupakan tanda ketidaksenangan dalam hubungan. Hal ini dapat menyebabkan masalah antar pasangan.

Oleh karena itu, segera cari bantuan dokter atau dokter spesialis tidur, jika pasangan atau orang terdekat memiliki perilaku tidur yang tidak biasa selama beberapa minggu atau bulan.

Baca Juga: Tidur Berjalan (Sleepwalking): Gejala, Penyebab, Cara Mengobati, dll

Penyebab Seksomnia

Seksomnia adalah kondisi yang mungkin terjadi karena kurang tidur, stres, dan kerja shift. Seperti parasomnia lainnya, misalnya berjalan dalam tidur, nampaknya seks dalam tidur disebabkan oleh gangguan saat otak bergerak antara siklus tidur yang dalam. Gangguan ini sering disebut confusion arousals (CAs) alias gairah kebingungan.

Meski penyebab hubungan seks tetap tidak diketahui, penelitian menunjukkan kondisinya memiliki faktor risiko yang jelas, terutama kondisi medis, gaya hidup, pekerjaan, dan obat-obatan yang mengganggu pola tidur.

Sejumlah faktor yang meningkatkan risiko seksomnia antara lain:

  • Kurang tidur.
  • Sangat kelelahan.
  • Minum alkohol berlebihan.
  • Penggunaan obat-obatan terlarang.
  • Kecemasan.
  • Stres.
  • Kondisi tidur yang buruk (lampu terlalu terang, berisik, atau panas).
  • Kurangnya kebersihan.
  • Shift kerja, terutama pekerjaan dengan tekanan tinggi, seperti pekerjaan militer atau rumah sakit.
  • Berbagi tempat tidur dengan seseorang, terlepas dari hubungan mereka dengan orang tersebut.
  • Obstructive sleep apnea (OSA) atau pernapasan berhenti sesaat ketika tidur, ini terkait dengan banyak kasus seks, kemungkinan karena hal itu menyebabkan gangguan saat tidur nyenyak.

Beberapa penderitanya ketika dewasa terlibat dalam perilaku parasomnia lainnya, yang paling sering tidur sambil berjalan, atau pada masa kanak-kanak. Kondisi medis yang dianggap menjadi faktor risiko seksomnia, termasuk:

  • Obstructive sleep apnea (OSA).
  • Sindrom kaki gelisah.
  • Penyakit refluks gastroesophageal (GERD)
  • Sindrom iritasi usus besar (IBS)
  • Riwayat aktivitas parasomnia lainnya, seperti berjalan dalam tidur atau berbicara.
  • Penyakit Crohn.
  • Radang usus besar.
  • Sakit kepala migrain.
  • Trauma kepala.
  • Penyakit Parkinson.
  • Jenis epilepsi dan gangguan kejang lainnya.
  • Obat untuk kecemasan dan depresi, khususnya escitalopram.
  • Gangguan disosiatif terkait tidur, suatu kondisi yang sering kali terkait dengan trauma seksual masa kecil.

Hubungan antara Alkohol dan Obat-obatan

Ketika seksomnia berhubungan dengan penggunaan alkohol atau obat-obatan terlarang, pengobatannya adalah dengan segera menghentikan penggunaan atau pengurangan obat ke tingkat penggunaan yang aman.

Orang yang mengalami seks dalam tidur sebagai efek samping dari obat resep mungkin perlu berhenti minum obat atau mengganti dosisnya. Dalam kebanyakan kasus, manfaat obat melebihi efek sampingnya, jadi perawatan bisa berfokus untuk mengurangi dampak dari gejala sexsomnia.

Diagnosis Seksomnia

Tidak ada proses diagnostik standar untuk kondisi ini karena sexsomnia tergolong penyakit baru secara medis. Psikiater yang mengkhususkan dalam menangani gangguan tidur, dapat mendiagnosis jenis kelamin dengan meninjau riwayat kesehatan seseorang dan mengajukan pertanyaan tentang gejala.

Namun, metode diagnostik yang paling banyak diterima untuk seksomnia adalah video-polysomnography (vPSG). Selama vPSG, seorang melekat pada perangkat fisiologis, seperti detak jantung, pernapasan, dan pemantau gerak, dan terekam saat mereka tidur. Saat ini seks dalam tidur tergolong sebagai jenis parasomnia dalam Diagnostic Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5).

Klasifikasi Internasional Gangguan Tidur, Edisi Ketiga (ICSD-3), juga mengklasifikasikan jenis kelamin sebagai jenis parasitom non-REM.

Pengobatan Seksomnia

Cara terbaik untuk merawat kondisi ini adalah dengan menerapkan jadwal tidur yang sehat dan teratur. Dalam sebagian besar kasus, gejala sexsomnia berkurang atau terselesaikan saat seseorang tidur dengan konsisten dan berkualitas tinggi. Efek pengobatan terhadap kondisi ini kurang dipahami karena gejalanya sulit terlacak dalam jangka panjang.

Berikut ini beberapa cara mengatasi seksomnia:

1. Obat-obatan

Dalam beberapa kasus, obat-obatan terlarang yang dirancang khusus dan disetujui untuk pengobatan kondisi lain telah digunakan untuk menangani seks dalam tidur. Mengobati kondisi yang mendasari sebagai penyebab gangguan tidur, seperti sleep apnea, juga dapat mengurangi atau mengatasi kasus sexsomnia.

Pilihan pengobatan seksomnia secara medis, meliputi:

  • Obat antikecemasan dan antidepresan, seperti duloxetine dan clonazepam.
  • Obat penenang ringan.
  • Terapi tekanan saluran napas positif terus-menerus (CPAP).
  • Antasida dan penghambat pompa proton (proton pump inhibitors).
  • Penutup mulut, pelat gigi, atau perangkat untuk rahang.

2. Perubahan Gaya Gidup

Dalam hampir setiap kasus terkait seks, setidaknya sebagian dari proses pengobatan melibatkan penyesuaian gaya hidup. Ini karena banyak gejala seksomnia berdampak negatif pada orang lain, cara terbaik dalam pengobatannya adalah isolasi pada malam hari.

Beberapa penderita sexsomnia dapat mengurangi gejala bermasalah dengan mengunci diri dalam kamar tidur pada malam hari atau memasang alarm pada pintu kamar tidur.

3. Mengelola Psikologis

Mengunjungi psikiater atau psikolog bisa membantu mengurangi perasaan malu terkait seksomnia. Penderitanya juga dapat mengurangi gejala emosional dan psikososial secara signifikan, dengan menjalani sesi konseling kelompok dengan orang yang terkena dampak negatif oleh gejala sexsomnia.

Dalam kasus yang paling banyak terjadi, gejalanya telah membuat khawatir atau marah pada pasangan tidur. Sebuah penelitian pada tahun 2007 menyimpulkan, bahwa selama terjadi seks dalam tidur beberapa pasangan kurang cepat, lebih lembut, dan lebih fokus untuk memuaskan pasangannya.

Komplikasi Seksomnia

Seks dalam tidur membuat beberapa orang merasa malu mengetahui bahwa mereka telah melakukan hal-hal yang tidak mereka ingat, terutama tindakan seksual.

Sexsomnia juga mempersulit pertanyaan tentang persetujuan, mengingat individu yang memulai, atau terlibat dalam tindakan seksual secara teknis tidak sadar. Beberapa kasus dalam pengadilan telah melibatkan tuduhan pelecehan seksual yang terkait dengan seks dalam tidur.

Meskipun riwayat kesehatan seseorang dan bukti lainnya akan diperiksa secara hati-hati dalam pengadilan, menentukan tanggung jawab tetap sulit dan kontroversial.

Baca Juga: Sindrom Putri Tidur: Gejala, Penyebab, Diagnosis, Cara Mengatasi, dll

Pencegahan Seksomnia 

Menerapkan beberapa perubahan gaya hidup dapat mengurangi risiko dan mencegah sexsomnia di kemudian hari, antara lain:

  • Bicarakan dengan pasangan dan keluarga. Seks dalam tidur membuat orang-orang terdekat berisiko. Ini juga dapat memengaruhi hubungan pribadi. Jadi, Anda harus memberi tahu orang terdekat tentang diagnosis tersebut, cara mengobatinya, dan apa yang dapat mereka lakukan untuk membantu. Oleh karena itu, kejujuran adalah cara terbaik.
  • Buatlah lingkungan yang aman. Sampai perawatan berhasil, cobalah membuat lingkungan yang aman untuk Anda dan orang terdekat. Ini termauk tidur dalam kamar terpisah, berada dalam sebuah ruangan dengan pintu terkunci, dan mengatur alarm yang memperingatkan orang-orang saat Anda sedang bergerak.
  • Tidur di kamar terpisah. Tidur dalam sebuah ruangan dengan pintu terkunci dan 
    atur alarm yang dapat memperingatkan orang-orang saat Anda sedang bergerak.
  • Menjaga kebersihan tidur dengan baik. Tidur dengan teratur setiap malam sangat penting untuk mencegah sexsomnia. Kurang tidur dan perubahan pola tidur bisa menyebabkan seks dalam tidur. Jadi, jadwalkan waktu tidur dan patuhi.
  • Hindari pemicu. Minum minuman beralkohol dan menggunakan narkoba dapat menyebabkan seks saat tidur. Mengidentifikasi pemicu dapat membantu mencegah sexsomnia.

 

  1. Holland, Kimberly. 2019. What Is Sleep Sex?. https://www.healthline.com/health/sleep-sex. (Diakses pada 23 November 2020)
  2. Huizen, Jennifer. 2017. Sexsomnia: What is sleep sex?. https://www.medicalnewstoday.com/articles/320448#triggers. (Diakses pada 23 November 2020)
  3. Peters, Brandon. 2020. Symptoms of Sexsomnia. https://www.verywellhealth.com/what-is-sexsomnia-4587802. (Diakses pada 23 November 2020)


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi