Apa Itu Plasenta Akreta dan Bagaimana Mengatasinya?

doktersehat-hamil-latihan-nafas

DokterSehat.Com– Untuk bisa bertahan hidup di dalam rahim, janin mendapatkan asupan makanan dari ibunya melalui perantara plasenta. Ya, plasenta ini sangat penting perannya. Adakalanya plasenta mengalami masalah, salah satunya plasenta akreta. Apa itu? Plasenta akreta merupakan salah satu komplikasi plasenta yang sering terjadi pada ibu hamil. Kondisi ini menyebaban plasenta sulit dikeluarkan pada proses akhir persalinan.

Apa itu plasenta akreta?

Dalam proses persalinan, setelah bayi dilahirkan, ibu harus menunggu beberapa saat untuk mengeluarkan plasenta, baru proses persalinan dianggap selesai. Namun pada beberapa kasus, plasenta sulit untuk dikeluarkan karena kondisi tertentu. Salah satunya adalah plasenta akreta.

Dilansir dari Todays Parent, plasenta akreta terjadi ketika plasenta tumbuh terlalu dalam di dinding rahim sehingga tidak bisa luruh dengan sendirinya ketika bayi lahir. Dinding rahim terdiri dari beberapa lapis yaitu endometrium, myometrium dan perimetrium. Normalnya, plasenta akan terbentuk di lapisan endometrium saja. Saat hamil endometrium akan menebal dan disebut decidua.

Pembentukan decidua yang sempurna akan menjadi decidua basalis dan nitabuch layer yang berfungsi sebagai tempat sirkulasi dan memberi makan janin. Jika ada gangguan pada pembentukan decidua maka hal ini akan memicu penetrasi plasenta tumbuh menembus myometrium. Kondisi inilah yang disebut plasenta akreta.

Meskipun plasenta tetap dapat berfungsi dengan baik untuk perkembangan bayi, namun kondisi ini dapat berbahaya bagi ibu. Jika melepaskan plasenta akreta tidak dilakukan dengan cara yang tepat, maka hal ini dapat memicu pendarahan yang cukup parah bagi ibu dan merusak jaringan lain yang ikut ditumbuhi plasenta.

Cara menangani plasenta akreta

Ada beberapa cara untuk menangani plasenta akreta. Salah satunya adalah dengan mengangkat plasenta yang menempel sebanyak-banyaknya dengan tangan lalu dilakukan penekanan pembuluh darah untuk menghentikan perdarahan. Namun cara ini tetap berisiko karena masih ada kemungkinan bekas plasenta tertinggal dan dapat menimbulkan perdarahan hebat.

Cara lainnya adalah dengan meninggalkan plasenta di dalam dan rahim serta memblok arteri yang bertugas mengalirkan darah ke rahim. Setelah enam bulan diharapkan plasenta dapat diserap sendiri oleh tubuh. Opsi lainnya, setelah meninggalkan plasenta di dalam rahim, ibu akan disuntik dengan suntikan sitostatika untuk mematikan jaringan agar plasenta dapat luruh dengan sendirinya.