Terbit: 10 Desember 2020 | Diperbarui: 23 Maret 2021
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: Tim Dokter

MERS atau Middle East Respiratory Syndrome adalah penyakit yang disebabkan oleh coronavirus yang kemudian sering juga disebut MERS-CoV. Simak penjelasan lengkap mengenai gejala, penyebab, hingga cara mengatasinya.

MERS: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Apa Itu MERS?

MERS adalah penyakit pernapasan terkait virus yang diakibatkan oleh jenis coronavirus baru yang pertama kali diidentifikasi di Arab Saudi pada tahun 2012. Terdapat 3 kelompok utama coronavirus: alfa, beta, dan gamma. Coronavirus penyebab kondisi ini adalah beta coronavirus.

MERS-CoV adalah satu dari tiga virus Corona baru yang menyebabkan penyakit parah pada manusia. Dua jenis lainnya adalah:

  • Severe acute respiratory syndrome coronavirus (SARS-CoV): Virus ini menyebabkan sindrom pernapasan akut parah (SARS).
  • Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2): Virus ini menyebabkan COVID-19.

Gejala MERS

Seseorang yang terinfeksi penyakit ini biasanya pernah mengalami penyakit pernapasan parah dengan gejala:

  • Demam.
  • Batuk.
  • Sesak napas.

Beberapa orang juga mengalami diare, mual, atau muntah. Namun ada juga orang yang terinfeksi tidak memiliki gejala sama sekali. Gejala penyakit ini biasanya mulai muncul sekitar 5 atau 6 hari setelah seseorang terpapar, tetapi juga dapat berkisar dari 2 hingga 14 hari.

Perlu diketahui juga, virus MERS tampaknya menyebabkan penyakit yang lebih parah pada orang tua, seseorang dengan sistem kekebalan yang lemah dan mereka yang memiliki penyakit kronis seperti penyakit ginjal, kanker, penyakit paru-paru kronis, atau diabetes.

Seseorang yang memiliki penyakit kronis seperti di atas harus menghindari kontak dengan unta, minum susu unta mentah, atau air kencing unta, atau makan daging unta setengah matang.

Cara Penularan MERS

Seperti virus Corona lainnya, virus ini kemungkinan menyebar dari sekresi pernapasan orang yang terinfeksi, seperti melalui batuk. Namun, cara persis penyebarannya belum diketahui dengan pasti. Virus ini telah menyebar dari orang yang sakit ke orang lain melalui kontak dekat, seperti tinggal bersama dengan orang yang terinfeksi.

Selain itu, sebuah studi mengungkapkan bahwa unta dromedaris (unta berpunuk satu) merupakan inang MERS-CoV dan penyebab infeksi utama dari hewan ke manusia.

Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter?

Jika Anda baru kembali dari Arab Saudi atau negara-negara Timur Tengahnya lainnya dan mengalami gangguan pernapasan, segera periksakan kondisi ke dokter. Pada beberapa kasus, penderita hanya mengalami flu ringan. Meski begitu, pemeriksaan tetap perlu dilakukan bila gejala muncul dari negara yang memiliki kasus infeksi virus MERS.

Sejak 2012, beberapa negara telah melaporkan kasus virus ini termasuk Aljazair, Austria, Bahrain, Cina, Mesir, Prancis, Jerman, Yunani, Iran, Italia, Yordania, Kuwait, Lebanon, Malaysia, Belanda, Oman, Filipina, Qatar, Korea, Thailand, Tunisia, Turki, Inggris, dan Amerika Serikat.

Penyebab MERS

MERS adalah virus yang ditularkan ke manusia dari unta dromedaris yang terinfeksi. Ini adalah virus zoonosis, artinya ditularkan antara hewan dan manusia, serta dapat tertular melalui kontak langsung atau tidak langsung dengan hewan yang terinfeksi.

Asal mula virus ini tidak sepenuhnya dipahami, akan tetapi menurut analisis genom virus yang berbeda, diyakini bahwa virus mungkin berasal dari kelelawar dan ditularkan ke unta di masa lalu.

Menurut World Health Organization (WHO), kebanyakan kasus pada manusia telah ditularkan oleh orang-orang yang bekerja di rumah sakit. Namun, bukti menunjukkan bahwa unta dromedaris menjadi sumber penularan pada manusia. Virus ini tampaknya tidak mudah menular dari orang ke orang kecuali ada kontak dekat.

Faktor Risiko MERS

Berikut ini adalah beberapa orang yang lebih terkena penyakit ini, antara lain:

  • Para lansia.
  • Seseorang yang memiliki gangguan kesehatan seperti diabetes, penyakit paru-paru kronis, penyakit ginjal, atau kanker.
  • Seseorang dengan sistem kekebalan yang lemah, seperti mereka yang menerima kemoterapi atau pengobatan imunosupresan.

Kebanyakan dari mereka yang meninggal karena keadaan ini memiliki kondisi medis kronis yang sudah ada sebelumnya.

Diagnosis MERS

Diagnosis yang bisa dilakukan dokter adalah mengambil sampel dari saluran pernapasan. Tes laboratorium, termasuk tes reaksi berantai polimerase/polymerase chain reaction tests, dapat mengonfirmasi keberadaan virus.

Sementara itu tes darah untuk memeriksa antibodi dapat mengetahui apakah sebelumnya Anda pernah mengalami infeksi virus ini.

Baca Juga: Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA): Gejala, Penyebab dan Pengobatan

Pengobatan MERS

Hingga kini belum ada antivirus yang direkomendasikan untuk mengatasi penyakit MERS-CoV. Penderita sering kali menerima perawatan medis untuk membantu meringankan gejala. Pada kasus yang parah, pengobatan saat ini termasuk perawatan untuk mendukung fungsi organ vital.

Komplikasi MERS

Komplikasi parah yang bisa terjadi adalah pneumonia dan gagal ginjal. Sementara sekitar 3-4 dari 10 orang yang menderita penyakit ini dilaporkan meninggal. Akan tetapi, sebagian besar orang yang yang meninggal memiliki kondisi medis yang sudah ada sebelumnya—yang melemahkan sistem kekebalan atau kondisi mendasar yang belum ditemukan.

Pencegahan MERS

Guna mengurangi risiko penularan virus ini, beberapa langkah pencegahan yang bisa Anda lakukan adalah:

  • Sering-seringlah mencuci tangan dengan sabun dan air setidaknya selama 20 detik.
  • Hindari konsumsi daging setengah matang dan makanan apa pun yang disiapkan dalam kondisi yang mungkin tidak higienis.
  • Cuci buah dan sayuran sebelum dikonsumsi.
  • Melaporkan setiap kasus yang dicurigai ke otoritas kesehatan setempat.
  • Minimalkan kontak dekat dengan siapa pun yang mengembangkan penyakit pernapasan akut disertai demam.
  • Menggunakan masker medis.
  • Tutupi hidung dan mulut dengan tisu saat batuk atau bersin, lalu buang tisu ke tempat sampah.
  • Hindari menyentuh mata, hidung, dan mulut dengan tangan yang belum dicuci.
  • Rutin membersihkan benda-benda yang sering disentuh.

Perlu Anda ketahui, WHO menyatakan bahwa mengonsumsi daging dan susu unta aman setelah pasteurisasi atau pemasakan yang sesuai. Seseorang yang memiliki penyakit kronis seperti diabetes, gagal ginjal, atau penyakit paru-paru kronis memiliki risiko lebih tinggi tertular virus dan harus mengambil tindakan pencegahan ekstra.

 

  1. Anonim. Middle East Respiratory Syndrome (MERS). https://www.cdc.gov/coronavirus/mers/index.html. (Diakses pada 10 Desember 2020).
  2. Anonim. Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV). https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/middle-east-respiratory-syndrome-coronavirus-(mers-cov). (Diakses pada 10 Desember 2020).
  3. Anonim. Middle East Respiratory Syndrome. https://www.chp.gov.hk/en/wapdf/100382.html?page=2. (Diakses pada 10 Desember 2020).
  4. Smith, Amy. 2020. MERS-CoV: What you need to know. https://www.medicalnewstoday.com/articles/262538. (Diakses pada 10 Desember 2020).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi