Kanker Kolorektal: Penyebab, Gejala, Diagnosis dan Pengobatan

kanker-kolorektal-doktersehat

DokterSehat.Com – Kanker kolorektal merupakan keganasan ketiga terbanyak di dunia dan penyebab kematian kedua terbanyak (terlepas dari gender) di Amerika Serikat. Dari data Globocan 2012, insiden kanker kolorektal di Indonesia adalah 12,8 per 100.000 penduduk usia dewasa, dengan mortalitas 9,5% dari seluruh kasus kanker.

Di Indonesia, kanker kolorektal menempati urutan nomor 3. Tingginya peringkat ini disebabkan oleh perubahan diet masyarakat, baik sebagai konsekuensi peningkatan kemakmuran serta pergeseran ke arah cara makan orang barat yang lebih tinggi lemak serta rendah serat.

Apa Itu Kanker Kolorektal?

Kanker kolorektal adalah kanker yang dimulai di kolon (usus besar) atau rectum (bagian lurus terakhir dari usus besar). Kanker ini sering juga disebutkan kanker usus besar atau kanker rectum–tergantung dari mana sumber kanker berasal.

Secara umum, kanker kolorekta ldimulai ketika sel-sel sehat dalam usus besar mengalami perubahan (mutasi) dalam DNA nya. DNA sel berisi serangkaian instruksi yang memberitahu sel apa yang harus dilakukan.

Sel-sel sehat tumbuh dan membelah secara teratur untuk menjaga tubuh berfungsi secara normal. Tetapi ketika DNA sel rusak dan menjadi kanker, sel-sel terus membelah bahkan ketika sel-sel baru tidak diperlukan. Ketika sel menumpuk, mereka membentuk tumor kolorektal.

Penyebab Kanker Kolorektal

Perlu diketahui bahwa kanker kolorektal biasanya dimulai sebagai gumpalan kecil, sel non-kanker (jinak) yang disebut polip yang terbentuk di bagian dalam usus besar. Seiring waktu, beberapa polip ini dapat menjadi kanker usus besar.

Meski begitu, penyebab pasti kanker kolorektal belum diketahui dengan pasti, namun terdapat beberapa faktor yang bisa memicu terjadinnya kanker kolorektal, di antaranya:

1. Faktor genetik

Seseorang dengan riwayat keluarga menderita kanker kolorektal, memiliki risiko lebih tinggi mengidap kanker kolorektal. Riwayat poliposis keturunan atau penyakit yang serupa juga meningkatkan risiko kanker jenis ini.

2. Menderita kolitis ulserativa

Penderita kolitis ulserativa atau penyakit Crohn memiliki risiko lebih tinggi untuk menderita kanker. Risikonya berhubungan dengan usia penderita pada saat kelainan ini timbul dan lamanya penderita mengalami kelainan ini.

3. Pola makan

Penyebab kanker kolorektal ini banyak dialami oleh masyarakat yang tinggal di perkotaan. Pada umumnya, pola makan masyarakat perkotaan adalah pola makan yang rendah serat dan tinggi protein hewan, lemak dan karbohidrat. Beberapa studi telah menemukan peningkatan risiko kanker usus besar pada orang yang mengonsumsi makanan tinggi daging merah dan daging olahan.

4. Gaya hidup tidak aktif

Seseorang yang memiliki gaya hidup tidak aktif cenderung mengembangkan kanker kolorektal. Guna mengatasi hal ini aktivitas fisik secara teratur dapat mengurangi risiko kanker usus besar.

5. Diabetes

Orang dengan diabetes atau resistensi insulin memiliki peningkatan risiko kanker kolorektal lebih besar dibanding mereka yang tidak memiliki diabetes.

6. Obesitas

Jika Anda mengalami obesitas, berarti Anda memiliki peningkatan risiko kanker kolorektal dan peningkatan risiko kematian jika dibandingkan dengan orang yang dianggap memiliki berat badan normal.

7. Merokok

Orang yang merokokmemiliki peningkatan risiko kanker usus besar.

8. Alkohol

Penggunaan alkohol secara berlebihan juga bisa meningkatkan risiko kanker kolorektal.

9. Terapi radiasi

Terapi radiasi yang diarahkan ke perut untuk mengobati kanker sebelumnya bisa meningkatkan risiko kanker kolorektal.

Gejala Kanker Kolorektal

Banyak orang dengan kanker kolorektal tidak mengalami gejala pada tahap awal penyakit. Ketika gejala muncul, mereka akan bervariasi, tergantung pada ukuran dan lokasi kanker di usus besar Anda.

Berikut adalah beberapa gejala yang bisa muncul, antara lain:

  • Diare atau sembelit serta perubahan dalam konsistensi feses.
  • Perdarahan dubur atau tinja mengandung darah.
  • Ketidaknyamanan perut yang terus-menerus seperti perut begah, kram, perut bergas, atau nyeri.
  • Kelelahan.
  • Penurunan berat badan yang tidak bisa dijelaskan.

Diagnosis Kanker Kolorektal

Dengan melakukan sejumlah skrining, kanker kolorektal bisa dideteksi sejak dini. Masing skrining memiliki kelebihan dan kekurangannya masing. Oleh karena itu, sebaiknya konsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum melakukan skrining.

Pada dasarnya, diagnosis ini dapat dibagi menjadi 2 kelompok utama, yaitu:

  • Tes berbasis tinja

Tes ini dilakukan dengan memeriksa tinja untuk melihat tanda-tanda kanker. Tes ini tidak terlalu invasif dan lebih mudah dilakukan, tetapi perlu dilakukan lebih sering.

  • Visual (struktural)

Tes ini dilakukan untuk melihat struktur usus besar dan rektum untuk area yang tidak normal. Cara ini dilakukan dengan menggunakan kamera kecil yang dimasukkan ke dalam rektum, atau dengan tes pencitraan khusus (x-ray).

Pemeriksaan lanjutan untuk menentukan stadium atau tahap perkembangan kanker diperlukan apabila seseorang sudah didiagnosis menderita kanker kolorektal. Beberapa pemeriksaan yang bisa dilakukan antara lain: MRI, PET scan, CT scan, atau Rontgen. Prosedur lain yang dapat dilakukan untuk menentukan kondisi ini adalah biopsi kelenjar getah bening.

Pengobatan Kanker Kolorektal

Pengobatan utama pada kanker kolorektal adalah pengangkatan bagian usus yang terkena dan sistem getah beningnya. Sebanyak 30% penderita tidak dapat mentoleransi pembedahan karena kesehatan yang buruk, sehingga beberapa tumor kolorektal diangkat melalui elektrokoagulasi. Cara ini bisa meringankan gejala dan memperpanjang usia, tapi tidak menyembuhkan tumornya.

Pengobatan lain yang bisa dilakukan, di antaranya:

1. Pembedahan

Pada banyak kasus kanker kolorektal, bagian usus yang ganas diangkat dengan pembedahan dan bagian yang tersisa disambungkan lagi. Jenis operasinya tergantung pada seberapa jauh jarak kanker dari anus dan seberapa dalam dia tumbuh ke dalam dinding rektum.

Pengangkatan seluruh rektum dan anus mengharuskan penderita menjalani kolostomi menetap (pembuatan hubungan antara dinding perut dengan kolon). Dengan kolostomi, isi usus besar dikosongkan melalui lubang di dinding perut ke dalam suatu kantung, yang disebut kantung kolostomi.

Bila memungkinkan, rektum yang diangkat hanya sebagian, dan menyisakan ujung rektum dan anus. Kemudian ujung rektum disambungkan ke bagian akhir dari kolon.

2. Radioterapi dan kemoterapi

Radioterapi dan kemoterapi adalah terapi yang bertujuan untuk menghancurkan sel kanker serta perkembangbiakannya. Kemoterapi bisa diberikan dalam bentuk suntik atau obat tablelt.

Sedangkan radioterapi bisa diberikan secara eksternal dengan menggunakan sinar radiasi, atau secara internal dengan memasukkan kateter atau kawat yang mengandung radiasi ke dalam area tubuh yang terserang sel-sel kanker.

Kedua cara tersebut bisa digunakan sebelum atau setelah operasi. Jika dilakukan sebelum operasi, maka tujuannya adalah agar tumor kolorektal lebih mudah diangat guna membunuh sel kanker. Sedangkan kemoterapi atau radioterapi setelah operasi bertujuan untuk membunuh sisa-sisa sel kanker yang telah menyebar dari lokasi utama kanker.

 

Informasi kesehatan ini telah ditinjau dr. Jati Satriyo

Sumber:

  1. https://www.medicalnewstoday.com/articles/155598.php
  2. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/colon-cancer/symptoms-causes/syc-20353669
  3. https://www.cancer.org/cancer/colon-rectal-cancer/treating.html
  4. https://www.webmd.com/colorectal-cancer/ss/slideshow-colorectal-cancer-overview