HIV/AIDS: Penyebab, Gejala, Diagnosis, Pengobatan, dan Pencegahan

hiv-aids-doktersehat

DokterSehat.Com – HIV AIDS adalah penyakit yang menakutkan bagi banyak orang. Seseorang yang divonis menderita HIV seringkali merasa putus asa dan mengalami kegelisahan jangka panjang akibat kondisi tubuhnya. Menurut WHO (Organisasi Kesehatan Dunia), HIV telah merenggut lebih dari 32 juta jiwa di dunia. Mengetahui kabar tersebut, apakah HIV dapat disembuhkan? Adakah harapan untuk penderita penyakit ini?

Sebelum mengetahui tentang cara mengobati HIV, ada baiknya jika Anda mengetahui terlebih dahulu tentang definisi HIV dan latar belakang penularannya. Meskipun infeksi HIV adalah hal yang menakutkan bagi banyak orang, melalui kemajuan dunia pengobatan, sebenarnya tetap ada harapan baru untuk para penderita penyakit ini.

Jenis HIV

HIV terbagi menjadi dua jenis, yakni HIV-1 dan HIV-2, berikut penjelasannya:

1. HIV-1

Adalah virus yang paling sering menyebabkan infeksi sekitar 95 persen di seluruh dunia. HIV-1 termasuk dalam subtipe M, yang diketahui memiliki sembilan subtipe yang berbeda secara genetik, di antaranya subtipe A, B, C, D, F, G, H, J dan K.

2. HIV-2

Virus ini relatif jarang terjadi, seperti di Afrika. HIV-2 kurang menular dan berkembang lebih lambat dari HIV-1. Namun, jika tanpa pengobatan, sebagian besar penderita HIV-2 pada akhirnya akan berkembang menjadi AIDS dan bahkan kematian. 

Pengertian dan Penyebab HIV dan AIDS

Anda pasti sering mendengar tentang HIV. Sebenarnya, HIV adalah sebutan untuk virus yang menyerang dan merusak sistem kekebalan tubuh kita sehingga kita tidak bisa bertahan terhadap penyakit-penyakit yang menyerang tubuh. HIV merupakan kependekan dari Human Immunodeficiency Virus.

Virus HIV adalah virus yang menyerang tubuh inangnya dengan cara menyerang sistem kekebalan tubuhnya. Bila sistem kekebalan tubuh sudah rusak atau lemah, maka seseorang akan dengan mudahnya terserang berbagai penyakit yang ada di lingkungannya, seperti TBC, diare, sakit kulit, dan penyakit lainnya. Kumpulan gejala penyakit yang menyerang tubuh kita itulah yang disebut AIDS, yang memiliki arti berikut ini:

A = Acquired (didapat)
I = Immune (kekebalan tubuh)
D = Deficiency (kekurangan)
S = Syndrome (gejala)

Jadi, perlu untuk Anda perhatikan perbedaan antara HIV dan AIDS, bahwa HIV adalah virusnya, sementara AIDS adalah gejala penyakit yang menyerang tubuh akibat daya tahan tubuh atau sistem imunitas yang melemah akibat infeksi HIV. 

Meski tanpa pengobatan, banyak penderita HIV masih dapat bertahan hidup cukup lama. Pada saat ini penggunaan obat HIV yang telah dikembangkan hanya dapat memperlambat kerusakan pada sistem kekebalan tubuh. Dengan pengobatan tersebut banyak penderita HIV dapat hidup sehat dan bahagia.

Baca Juga: Masturbasi dan Kemungkinan Penularan Penyakit Hiv

Faktor Risiko atau Cara Penularan HIV

Penderita infeksi HIV adalah seseorang yang berpotensi untuk menularkan penyakit yang dideritanya kepada orang lain, sehingga menjadi penyebab HIV. Perlu Anda ingat bahwa HIV hanya bisa hidup di dalam cairan tubuh, seperti:

  • Darah
  • Cairan vagina
  • Cairan sperma
  • Air Susu Ibu (ASI)

HIV adalah virus yang hanya hidup di cairan tubuh tertentu dan tidak hidup di permukaan tangan atau permukaan kulit penderita. Maka dari itu, cara penularan HIV juga hanya dapat terjadi melalui:

  • Hubungan seks dengan orang yang mengidap HIV AIDS, berhubungan seks dengan pasangan yang berganti-ganti dan tidak menggunakan alat pelindung (kondom).
  • Penyakit menular seksual (PMS) dapat menimbulkan luka terbuka pada alat kelamin. Luka inilah yang bertindak sebagai pintu masuk bagi HIV untuk memasuki tubuh Anda.
  • Kontak dengan darah atau luka dan transfusi darah yang sudah tercemar virus HIV.
  • Penggunaan jarum suntik atau jarum tindik secara bersama atau bergantian dengan orang yang terinfeksi HIV.
  • Dari ibu yang terinfeksi HIV kepada bayi yang dikandungnya.

Cara penularan HIV tidak melalui:

  • Gigitan nyamuk
  • Bersalaman
  • Berciuman
  • Berpelukan
  • Makan bersama
  • Tinggal serumah

Infeksi HIV adalah penyakit yang tidak dapat ditularkan hanya dengan kontak fisik yang simpel seperti bersalaman atau bersinggungan dengan penderita. Selama tidak melakukan hal-hal yang berisiko menularkan HIV, Anda tetap aman untuk berinteraksi dengan penderita. Maka dari itu, pendampingan yang intensif terhadap penderita HIV AIDS ini sangat dianjurkan untuk mencegah kondisi mental dan tubuh pasien HIV menjadi semakin memburuk.

Gejala HIV/AIDS

Menurut Pundiknakes (1997:44) stadium gejala HIV AIDS secara klinis, di antaranya:

1. Gejala Utama HIV/AIDS

Ciri-ciri HIV AIDS uang utam di anataranya:

  • Demam berkepanjangan lebih dari tiga bulan
  • Diare kronis lebih dari satu bulan berulang maupun terus-menerus
  • Penurunan berat badan lebih dari 10% dalam tiga bulan.

2. Gejala Minor HIV/AIDS:

Sementara ciri-ciri HIV AIDS minor termasuk:

  • Batuk kronis selama lebih dari satu bulan
  • Infeksi pada mulut dan tenggorokan disebabkan oleh jamur Candida Albicans.
  • Pembengkaan kelenjar getah bening yang menetap di seluruh tubuh
  • Munculnya herpes zoster berulang
  • Bercak-bercak gatal diseluruh tubuh

Sebagian besar dari seseorang yang terinfeksi HIV tetap tidak menunjukkan gejala apapun (asimptomatik) yang berarti bahwa mereka tidak mengalami gejala tertentu atau menjadi sakit akibat infeksi tidak mengalami gejala tertentu atau menjadi sakit akibat infeksi tersebut. 

Sebagian kecil mengalami AIDS, sebagian lain mengalami gejala HIV AIDS yang ringan, tidak selalu menderita sakit fatal yang dinamakan ARC atau Aids Related Complex (Waluya, 1999:9).

Salah satu penelitian WHO menunjukkan beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan AIDS yang begitu cepat, yaitu:

  • Semakin tua seseorang mengidap HIV, semakin cepat dia akan sampai ke tahap HIV
  • Bayi terinfeksi HIV akan sampai ketahap AIDS
  • Orang yang telah mempunyai gejala minor pada waktu mulai tertular HIV (serokonversi), akan menunjukkan gejala HIV AIDS lebih cepat dari pada yang tanpa gejala.

Bagaimana Cara Mendeteksi HIV/AIDS?

HIV adalah virus yang tidak langsung memperlihatkan gejala infeksi ketika sudah masuk ke dalam tubuh seseorang. Sampai tiga atau enam bulan setelah masuknya virus HIV, belum tentu virus itu bisa ditemukan dalam tubuh karena ia tersembunyi. Masa belum bisa dilihatnya virus itu disebut ‘masa Jendela’. Walaupun belum bisa terlihat,orang yang sudah tertular HIV bisa menularkannya kepada orang lain.

Setelah enam bulan biasanya virus mulai dapat ditemukan atau dilihat bila penderitanya menjalani tes darah. Belum ada cara lain untuk menemukan virus selain melalui tes darah. Kalau sudah ditemukan, maka pengidapnya disebut HIV positif. Pada masa ini, ia masih bisa hidup normal dan melakukan semua kegiatan seperti biasa. Masa HIV positif ini bisa sampai 10 tahun kalau daya tahan tubuhnya kuat. Tetapi, bila daya tahan tubuhnya lemah maka orang tersebut bisa cepat terserang berbagai penyakit lain.

Tanda yang mencolok pada penderita AIDS adalah:

  • Diare yang terus menerus
  • Pembengkakan kelenjar getah bening
  • Kanker kulit
  • Sariawan
  • Berat badan yang turun secara mencolok

Nah pada saat seperti itu orang tersebut dikatakan sudah sampai pada tahap AIDS dan disebut ODHA (Orang Dengan HIV AIDS). Pada tahap AIDS ini biasanya daya tahan sudah sangat lemah sehingga kemungkinan penderitanya akan meninggal. Sampai saat ini belum ada obat HIV/AIDS yang ampuh untuk membunuh virus HIV atau menyembuhkan orang dengan AIDS.

Stadium HIV/AIDS

Masa inkubasi atau masa laten, sangat tergantung pada daya tahan tubuh pada masing-masing orang dengan rata-rata 5-10 tahun. Selama masa ini penderitanya tidak memperlihatkan gejala-gejala walaupun jumlah HIV semakin bertambah dan sel-sel T-4 semakin menurun.

Semakin rendah jumlah sel T-4, semakin rusak fungsi sistem kekebalan tubuh. Pada waktu sistem kekebalan sudah dalam keadaan parah ODHA akan mulai menampakkan gejala-gejala AIDS.

HIV/AIDS dapat terbagi menjadi 4 stadium, yaitu:

  • Stadium I: HIV

Infeksi dimulai dengan masuknya virus HIV dan diikuti terjadinya perubahan serologik ketika antibodi terhadap virus tersebut dari negatif berubah menjadi positif. Rentang waktu sejak HIV masuk ke dalam tubuh sampai tes antibodi terhadap HIV menjadi positif disebut masa jendela. Lama masa jendela ini antara 1 sampai 3 bulan, bahkan ada yang berlangsung sampai 6 bulan.

  • Stadium II: Asimptomatik (tanpa ciri-ciri HIV AIDS)

Asimptomatik berarti bahwa di dalam organ tubuh terdapat HIV tetapi tubuh tidak menunjukkan gejala-gejala. Keadaan ini dapat berlangsung rata-rata 5 sampai 10 tahun. Cairan tubuh ODHA yang tampak sehat ini sudah dapat menularkan HIV kepada orang lain.

  • Stadium III: Pembesaran Kelenjar Getah Bening

Fase ini ditandai dengan pembesaran kelenjar getah bening secara menetap dan merata (persistent generalized lymphadenopathy), tidak hanya muncul pada satu tempat dan berlangsung lebih dari satu bulan.

  • Stadium IV: AIDS

Kondisi ini disertai bermacam–macam penyakit, antara lain penyakit konstitusional, penyakit saraf dan penyakit infeksi sekunder (Pusdiknakes, 1997:42).

Komplikasi HIV/AIDS

HIV dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, yang membuat jauh lebih mungkin mengembangkan berbagai infeksi dan jenis kanker tertentu. Berbagai komplikasi paling umum dari HIV/AIDS di antaranya:

1. Infeksi Umum dari HIV/AIDS:

  • Tuberkulosis (TB)
  • Cytomegalovirus
  • Candidiasis
  • Cryptococcal meningitis
  • Toxoplasmosis
  • Cryptosporidiosis
  • Herpes simplex (kronik) dan herpes zoster
  • Histoplasmosis 
  • Chronic pneumonia
  • Isosporiasis
  • Mycobacterium avium complex

Kanker yang Biasa Terjadi pada HIV/AIDS:

  • Sarkoma Kaposi
  • Lymphoma

3. Komplikasi Lainnya:

  • Wasting syndrome
  • Komplikasi neurologis
  • Penyakit ginjal

Diagnosis HIV/AIDS

Berdasarkan pedoman WHO tentang cara mendiagnosa AIDS, dikatakan bahwa seseorang didiagnosa belum mempunyai minimal dua gejala utama dan satu gejala minor serta jika pada orang tersebut tidak ada alasan lain yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh menurun.

Diagnosis HIV positif harus dipastikan lebih dulu dengan melakukan tes antibodi HIV di laboratorium. Hasil HIV positif menunjukkan bahwa seseorang telah terinfeksi HIV. Hasil HIV negatif menunjukkan bahwa seseorang tidak atau belum terinfeksi HIV.

Selain darah, tes HIV dapat dilakukan terhadap air liur atau urine. Jadi tes HIV harus dilakukan pada darah, atau jaringan tubuh, sel telur atau sperma di laboratorium yang sudah memiliki peralatan khusus tes HIV. Beberapa LSM juga mempunyai pelayanan tes yang disertai konseling.

Pengobatan HIV/AIDS

Sampai saat ini tidak ada penyembuhan atau pengobatan yang sempurna untuk AIDS. Belum ada penyembuhan yang dapat menghilangkan virus dari tubuh secara total. Namun, bukan berarti tidak ada obat yang dapat dikonsumsi untuk memperpanjang harapan hidup seorang penderita HIV AIDS.

Tujuan dari pengobatan ini adalah untuk memperpanjang hidup seorang penderita ODHA. Telah ditemukan obat anti-retrovial seperti Azidotinidin (AZT) yang pertama kali diizinkan pemakaiannya sebagai pengobatan di indonesia pada tahun 1997. Obat anti-retrovial lain dikenal dengan nama didanosine (ddI) dan diodicitosin (ddC).

Telah dikembangkan kombinasi obat-obatan mulai dari campuran dua jenis obat, hingga racikan beberapa jenis. Beberapa jenis obat ramuan tersebut adalah Saquinavir, Indinavir, Viracept, Ritonavir. Dikembangkan juga terapi penunjang, yaitu terapi tanpa obat-obatan kimia, yang tujuannya untuk meningkatkan kualitas hidup dan menjaga diri agar tetap sehat. Terapi ini dapat digunakan untuk melengkapi penggunaan obat anti-retroviral.

Salah satu terapi penunjang tersebut antara lain

  • Penggunaan ramuan tradisional
  • Tumbuh-tumbuhan
  • Pengaturan gizi pada makanan
  • Penggunaan vitamin
  • Makanan suplemen
  • Olahraga atau yoga
  • Akupuntur
  • Pijat 
  • Terapi musik

Tetapi ternyata obat HIV/AAIDs alami ini juga kurang efektif, sehingga pengobatan HIV/AIDS yang tepat saat ini belum ditemukan.

Cara Mencegah HIV yang Mudah

HIV adalah virus yang menakutkan. Namun, tetap ada cara pencegahan agar tidak tertular penyakit akibat virus ini. Berikut ini adalah beberapa pencegahan HIV/AIDS:

  • Hindari hubungan seks bebas atau berganti-ganti pasangan
  • Lakukan tes sebelum menikah
  • Gunakan kondom bila berhubungan seks
  • Hindari penggunaan jarum suntik atau jarum tindik secara bergantian

Menurut Kepala Disdukcapil KB Kapuas Hulu, Drs. Ibrahim M (Kapuas Pos, hal 14), untuk lebih memudahkan pencegahan HIV/AIDS, yakni dengan mengingat menggunakan rumus ABCDE, yaitu:

  • A (Abstinence) artinya, tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah.
  • B (Be faithfull) artinya, berhubungan seks hanya dengan pasangan yang sah.
  • C (Condom) artinya, gunakanlah kondom apabila salah satu dari pasangan yang sah mengidap Infeksi Menular Seksual (IMS) atau HIV/AIDS.
  • D (Drugs) artinya hindari pemakaian narkoba suntik.
  • E (Equipment) artinya, mintalah pelayanan kesehatan dengan peralatan yang steril.

 

 

Sumber:

  1. Anonim. 2019. HIV/AIDS. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hiv-aids. (Diakses 20 November 2019)
  2. Anonim. 2019. HIV/AIDS. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hiv-aids/symptoms-causes/syc-20373524. (Diakses 20 November 2019)
  3. Verville, Julie. 2018. The Most Dangerous Complications of HIV and AIDS. https://www.healthline.com/health/hiv-aids/most-dangerous-complications-of-hiv#opportunistic-infections. (Diakses 20 November 2019)
  4. Anonim. 2019. Hiv Strains and Types. https://www.avert.org/professionals/hiv-science/types-strains. (Diakses 20 November 2019)