Terbit: 30 Agustus 2018
Ditulis oleh: Mutia Isni Rahayu | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com – Pernahkan Anda mendengar tentang apa itu fetish? Anda tentunya pernah mendengar tentang orang yang mencuri pakaian dalam wanita untuk memuaskan hasrat seksualnya. Di sisi lain, Anda mungkin juga pernah mendengar adanya orang yang hasrat seksualnya timbul dengan hanya melihat benda seperti sepatu atau stocking wanita. Kebiasaan ini biasa disebut dengan fetish.

Mengenal Fetish, Benarkah Merupakan Penyimpangan Seksual?

Tapi apa itu fetish sebenarnya? Apakah fetish merupakan jenis kelainan atau penyimpangan seksual yang berbahaya? Simak penjelasannya berikut ini!

Apa Itu Fetish?

Pada awalnya fetish adalah istilah yang digunakan untuk menyebut sebuah objek yang memiliki kekuatan spiritual. Tapi istilah tersebut telah bergeser ketika seorang Psikolog asal Perancis, Alfred Binet, memperkenalkan tentang istilah fetish seksual. Kini banyak orang yang mengenal istilah fetish yang mengarah ke seksual, bukan benda spiritual maupun azimat.

Istilah fetish seksual mengacu pada benda mati atau anggota tubuh dari manusia yang bisa meberikan kepuasan sesksual. Perilaku seksual yang berkaitan dengan fetish disebut dengan fetisisme atau fetishism. Benda fetish bisa berupa apa saja yang umumnya bersifat tidak lazim. Beberapa objek atau benda fetish yang paling populer adalah pakaian dalam wanita seperti celana dalam atau bra, alas kaki seperti kaos kaki, stocking, hingga high heels. Sedangkan fetish anggota tubuh biasanya seperti kaki atau rambut.

Seseorang dengan fetisisme bisa disebut sebagai fetishist. Terdapat fetishist yang hanya membutuhkan gambar dari objek fetish untuk dapat bergairah dan sebagian fetishist lainnya membutuhkan objek langsung. Bisanya orang dengan fetisisme akan menyuruh pasangannya untuk menggunakan objek fetish ketika melakukan hubungan seksual.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Family Fest - Advertisement

Jika tidak bisa membuat pasangannya menggunakan objek fetish, fetishist akan berfantasi membayangkan pasangannya menggunakan benda tersebut untuk membangkitkan gairah pasangannya. Banyak diantaranya juga yang melakukan masturbasi dengan hanya memandangi atau menyentuh, mencium, hingga menghisap benda fetishnya tersebut.

Penyebab Fetishism

Penyebab fetish pada dasarnya belum dapat dipastikan dengan jelas, namun bisa dipastikan bahwa kebanyakan fetishist adalah kaum pria. Dilansir dari Psychology Today, fetisisme bisa berkembang pada masa remaja, maupun sebelum masa remaja. Banyak ahli yang percara bahwa ketertaikan pada objek fetish berkaitan dengan pengalaman di masa kanak-kanak, di mana suatu benda dihubungkan dengan gairah seksual yang kuat.

Sebuah studi lain menunjukkan bahwa anak yang menjadi korban atau pengamat dari perilaku seksual menyimpang cenderung akan meniru atau bahkan akan mengalami penyimpangan yang lebih parah. Dalam kasus lainnya, fetisisme disebabkan oleh rasa minder pria pada potensi dan maskulinitasnya yang sehingga menimbulkan rasa takut akan penghinaan dan penolakan. Objek fetish dijadikannya sebagai pelampiasan dari perasaan tidak mampunya tersebut.

Apakah Fetishism Berbahaya?

Bahaya atau tidaknya fetish bisa diukur dari tingkatan dan juga jenis fetisisme yang dialami. Fetisisme baru bisa dianggap sebagai sebuah gangguanjika perilaku ini sudah merugikan dan mengganggu kegiatan sehari-hari fetishist. Berikut adalah tingkatan fetisisme yang perlu Anda ketahui:

  • Desires atau pemuja, pada tahap ini fetisisme tidak berbahaya. Meskipun terdapat objek fetish yang bisa membangkitkan gairahnya, pada tingkatan ini seseorang tidak terganggu aktivitas seksualnya jika objek fethisnya tidak ada.
  • Cravers atau pecandu, pada tahap ini seseorang akan mulai terganggu aktivitas seksualnya jika tidak mendapatkan objek fetish yang diinginkannya.
  • Fetishist menengah, pada tahap ini seseorang akan melakukan apa saja untuk mendapatkan objek fetish yang diinginkannya. Tindakan yang mungkin dilakukan adalah seperti mencuri benda fetish atau menculik seseorang yang memiliki bagian tubuh yang menjadi fetish baginya.
  • Fetishist tingkat tinggi, pada tahap ini penderita semakin sadis dan tidak peduli terhadap sekitarnya. Ia hanya akan peduli pada objek fetishnya. Jika objek fetishnya adalah anggota tubuh, fetishist hanya akan peduli terhadap anggota tubuh tersebut, tidak pada pemilik tubuhnya ataupun hal lainnya.
  • Fetishistic Murderers, tahap ini merupakan tahap terparah pada fetisisme. Fetishist tidak akan segan untuk membunuh atau memutilasi untuk mendapatkan objek fetish yang diinginkannya.

Selain bahaya fetish bergantung pada tingkatannya, fetisisme juga bisa berbahaya bergantung pada objek fetishnya. Beberapa jenis fetish yang cukup berbahaya adalah seperti Blood Fetish, Necrofilia (fetish mayat), Teratofilia (mendapatkan kepuasa seksual dengan menjadi cacat), Anthropophagolagnia (mendapatkan kepuasan seksual dengan memerkosa).

Jika muncul pertanyaan tentang bahaya atau tidaknya fetish, tentunya jawabannya adalah bisa iya dan bisa juga tidak. Fetisisme pada tahap desires adalah satu-satunya fetish yang aman karena tidak akan terlalu mengganggu kehidupan seksual seseorang. Pada seseorang yang benda fetishnya berupa pakain dalam, alas kaki, atau benda sejenisnya dan masih dalam tahap desires, tentunya tidak akan menjadi masalah, apalagi jika pasangannya telah mengetahui dan memaklumi fetish tersebut.

Terdapat juga beberapa situasi yang dianggap sebagai fetisisme, padahal hanya berupa fantasi seks. Memiliki fantasi seks merupakan hal yang wajar bagi pria maupun wanita. Umumnya fantasi seks hanya didorong oleh rasa penasaran saja dan jika dilakukan belum tentu menimbulkan efek kecanduan.

Sedangkan pada fetish benda tak lamin dan juga sudah mulai menyakiti orang lain, dibutuhkan penanganan oleh ahli untuk dapat mengembalikan perilaku seksual yang normal.

Menangani Fetishism

Terdapat beberapa cara untuk menangani fetisisme atau gangguan fetisistik. Berikut adalah beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi fetisisme:

1. Psikoterapi

Cara pertama yang bisa dilakukan seseorang untuk terlepas dari objek fetish adalah dengan psikoterapi. Jenis terapi yang satu ini memang ampuh untuk menyembuhkan gangguan jiwa, termasuk juga berbagai gangguan parafilia (gangguan terkait dengan ketertarikan seksual).

2. Terapi kognitif perilaku

Cara kedua yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan fetisisme adalah terapi kognitif perilaku atau yang disebut juga dengan cognitive behavior therapy (CBT). Terapi ini merupakan perpaduan dari psikoterapi dan juga terapi perilaku. Umumnya CBT berfokus dengan satu masakah spesifik dalam hidup pasien, dalam hal ini tentunya adalah tentang fetish.

3. Hipnoterapi

Cara kedua untuk dapat terlepas dari objek fetish adalah dengan hipnoterapi. Hipnosis sendiri pada dasarnya adalah keadaan di mana Anda berkonsentrasi penuh hingga lemampuan menerima sugesti Anda meningkat. Hipnoterapi terbilang ampuh untuk mengatasi berbagai masalah psikologis seperti kecemasan, pikiun, hingga membantu pemulihan dari trauma.

Hipnoterapi juga bahkan bisa menyembuhkan atau membantu meredakan rasa sakit pada fisik. Karena keunggulan dari hipnoterapi ini maka hipnoterapi juga bisa membantu menangati fetisisme dan gangguan ketertarikan seksual lainnya.

4. Terapi obat

Cara selanjutnya adalah dengan menggunakan terapi obat. Pemberian obat umumnya diberikan sebagai pendamping dari terapi. Obat yang diberikan biasanya bertujuan untuk menurunkan gairah seksual dari penderita sehingga frekuensi dari ereksi, fantasi seksual, keinginan untuk melakukan hubungan seksual, hingga masturbasi juga berkurang.

Penanganan untuk fetisisme tentunya tidak akan cukup dengan satu atau dua kali sesi terapi, tapi membutuhkan waktu hingga berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Tapi layaknya ganggauan atau penyimpangan mental lainnya, dengan penanganan yang tepat, penderita bisa menjalai hidup dengan normal dan pulih secara perlahan.


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi