Terbit: 9 Februari 2018
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com– Keputihan merupakan hal yang umum terjadi pada wanita. Saat hamil biasanya wanita akan lebih sering mengalami keputihan karena perubahan hormon. Meskipun merupakan hal yang wajar terjadi, namun jika saat hamil Anda merasa ada perubahan pada cairan keputihan, sebaiknya perlu diwaspadai. Keputihan yang berlebihan, berbau atau berwarna abu-abu bisa menjadi tanda infeksi yang dapat memicu kelahiran prematur.

Apa Hubungan Keputihan dan Kelahiran Prematur?

Infeksi saat kehamilan merupakan salah satu penyebab bayi lahir prematur. Infeksi ini tidak terbatas pada infeksi di daerah sekitar rahim atau vagina, namun semua jenis infeksi seperti infeksi gigi, tipus dan lainnya. Saat infeksi berarti di dalam tubuh mengandung kuman dan hal ini dapat memicu kontraksi yang dikhawatirkan menyebabkan kelahiran prematur.

Salah satu infeksi yang patut diwasapdai adalah vaginosis bakteri yang terjadi di vagina. Infeksi ini ditandai dengan keputihan yang bertekstur encer dan berwarna abu-abu atau putih. Kadang infeksi ini menimbulkan rasa gatal dan nyeri, serta perih ketika buang air kecil.

Untuk mendapat penanganan yang tepat, perlu dilakukan pemeriksaan cairan vagina. Melalui tindakan kultur vagina dapat diketahui jenis bakteri yang menyebabkan infeksi serta jenis antibiotik yang tepat untuk mengatasinya.

Keputihan abnormal yang tidak segera ditangani tidak hanya memicu kelahiran prematur, namun juga berbagai risiko lainna seperti ketuban pecah dini, pertumbuhan bayi terhambat dan infeksi bayi pascarpersalinan.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Kids Baby - Advertisement

Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah keputihan antara lain membersihkan vagina secara teratur dari arah depan ke belakang dan gunakan pakaian dalam dengan bahan yang nyaman agar tidak lembap. Hindari penggunaan cairan pembersih vagina yang dapat memicu ketidakseimbangan bakteri. Vagina merupakan organ yang dpaat membersihkan dirinya sendiri sehingga cukup basuh vagina dengan menggunakan air saja.


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi