Terbit: 20 Maret 2020
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: dr. Jati Satriyo

Amandel yang terinfeksi dapat menimbulkan radang amandel. Amandel adalah dua bantalan jaringan berbentuk oval di bagian belakang tenggorokan yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan dan membantu mencegah tubuh dari infeksi. Simak gejala, penyebab, diagnosis, hingga obat radang amandel di apotek selengkapnya di bawah ini. 

Radang Amandel: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Apa Itu Radang Amandel?

Radang amandel atau tonsilitis adalah infeksi yang terjadi pada amandel. Meski dapat terjadi pada usia berapapun, kondisi paling sering didiagnosis pada anak-anak dari usia prasekolah hingga remaja. Gejalanya meliputi sakit tenggorokan, pembengkakan amandel, dan demam.

Kondisi ini menular dan dapat disebabkan oleh berbagai virus dan bakteri. Salah satu bakteri yang menyebabkan hal ini adalah bakteri Streptococcal. Jika kondisi ini tidak mendapatkan penanganan dengan serius hal itu dapat menyebabkan komplikasi.

Gejala Radang Amandel

Berikut ini adalah tanda dan gejala umum dari radang amandel yang bisa Anda kenali, antara lain:

  • Pembengkakan amandel
  • Lapisan putih, kuning, atau bercak pada amandel
  • Sakit tenggorokan
  • Sulit menelan
  • Demam
  • Pembesaran kelenjar getah bening di leher
  • Suara serak
  • Tenggorokan gatal
  • Bau mulut
  • Sakit perut, terutama pada anak kecil
  • Leher kaku
  • Sakit kepala

Sementara itu tanda radang amandel pada anak kecil, antara lain:

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Cetaphil Promo - Advertisement

  • Sulit menelan
  • Sulit makan
  • Rewel lebih dari biasanya

Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter?

Penting untuk mendapatkan diagnosis yang akurat jika anak atau Anda memiliki gejala yang dapat mengindikasikan radang amandel. Segera ke dokter jika mengalami:

  • Sakit tenggorokan yang tidak hilang dalam 24 hingga 48 jam
  • Sulit untuk menelan
  • Kelelahan ekstrem
  • Sulit bernapas
  • Mengiler berlebihan

Penyebab Radang Amandel

Perlu diketahui, amandel adalah garis pertahanan sistem kekebalan tubuh pertama yang melawan bakteri dan virus yang masuk ke mulut. Hal ini membuat amandel sangat rentan terhadap infeksi dan peradangan. Bakteri yang paling umum yang menyebabkan tonsilitis adalah Streptococcus pyogenes. 

Faktor Risiko

Berikut ini adalah beberapa faktor yang membuat seseorang berisiko terkena kondisi ini:

  • Usia. Radang amandel paling sering terjadi pada anak-anak, tetapi jarang terjadi pada mereka yang lebih muda dari 2 tahun. Peradangan yang disebabkan bakteri paling sering terjadi pada anak-anak usia 5 hingga 15 tahun, sedangkan serangan virus lebih sering terjadi pada usia yang lebih muda.
  • Sering terpapar kuman. Anak-anak usia sekolah sering melakukan kontak jarak dekat dengan teman-temannya, hal itu membuatnya berisiko terpapar virus dan bakteri.

Diagnosis Radang Amandel

Pada umumnya, dokter akan langsung melakukan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan tersebut meliputi:

  • Melihat kondisi dalam tenggorokan dengan senter untuk melihat apakah terjadi infeksi.
  • Memeriksa ruam yang dikenal sebagai scarlatina, yang dikaitkan dengan beberapa kasus radang tenggorokan.
  • Melakukan tekanan lembut pada leher untuk memeriksa apakah terjadi pembengkakan kelenjar getah bening.
  • Mendengarkan napas dengan stetoskop.
  • Memeriksa pembesaran limpa (untuk pertimbangan mononukleosis, yang juga menyebabkan peradangan amandel).

Usap Tenggorokan

Tes ini dilakukan dokter dengan menggosok kapas steril di belakang tenggorokan untuk mendapatkan sampel sekresi, dan tes ini jarang dilakukan terkecuali dibutuhkan. Setelah itu sampel akan diperiksa di laboratorium untuk memeriksa apakah terdapat bakteri.

Hitung Darah Lengkap (CBC)

Tes ini akan menunjukkan profil sel darah yang mengalami peningkatan, apa yang normal atau apa yang di bawah normal—dapat menunjukkan apakah infeksi lebih mungkin disebabkan oleh bakteri atau agen virus. Tes ini jarang dibutuhkan untuk mendiagnosis radang tenggorokan. Namun, jika tes lab negatif, CBC mungkin diperlukan untuk membantu menentukan penyebab.

Jenis Radang Amandel

Terdapat jenis peradangan pada amandel, di antaranya:

  • Tonsilitis akut. Gejala-gejala ini biasanya berlangsung 3 atau 4 hari tetapi bisa bertahan hingga 2 minggu.
  • Tonsilitis berulang. Ini terjadi ketika Anda menderita radang amandel beberapa kali dalam setahun.
  • Tonsilitis kronis. Ini adalah saat Anda memiliki infeksi amandel jangka panjang.

Pengobatan

Terdapat berbagai pengobatan untuk mengatasi radang amandel. Berikut ini adalah berbagai cara mengobati radang amandel, di antaranya:

Perawatan Rumahan

Beberapa pengobatan sederhana di rumah dapat membantu seseorang mengurangi gejala radang amandel:

  • Beristirahat memungkinkan tubuh menghemat energi untuk melawan infeksi daripada menggunakannya pada kegiatan sehari-hari.
  • Minum banyak cairan akan mencegah tenggorokan mengering dan menjadi lebih tidak nyaman. Ketika tubuh merespons infeksi, ia membutuhkan lebih banyak hidrasi daripada biasanya.
  • Berkumur dengan air garam secara tengadah dapat mengurangi ketidaknyamanan pada tenggorokan.
  • Mengisap pelega tenggorokan dapat membantu menenangkan tenggorokan.
  • Udara kering dapat mengiritasi tenggorokan. Menggunakan pelembap udara atau berada di kamar mandi beruap dapat meringankan kondisi ini.
  • Menghindari iritasi, seperti tembakau dan lokasi berasap, dapat membantu seseorang mengurangi gejala.
  • Minum obat, seperti ibuprofen atau acetaminophen, dapat membantu mengatasi rasa sakit dan demam.

Antibiotik

Jika tonsilitis disebabkan oleh infeksi bakteri, dokter akan meresepkan obat radang amandel di apotek seperti antibiotik. Penisilin diminum selama 10 hari adalah pengobatan antibiotik yang paling umum diresepkan untuk tonsilitis yang disebabkan oleh group A streptococcus. Jika anak Anda alergi terhadap penisilin, dokter akan meresepkan antibiotik alternatif.

Anak Anda harus mengonsumsi antibiotik sesuai resep walaupun gejalanya sudah hilang. Tidak meminum obat sesuai petunjuk dapat mengakibatkan infeksi memburuk atau menyebar ke bagian tubuh yang lain. Tidak menyelesaikan antibiotik secara penuh dapat meningkatkan risiko demam rematik dan peradangan ginjal serius pada anak.

Operasi

Pembedahan untuk menghilangkan amandel (tonsilektomi) dapat digunakan untuk mengobati radang amandel yang sering berulang, seperti tonsilitis kronis atau tonsilitis bakteri yang tidak merespons pengobatan antibiotik.

Tonsilektomi juga dapat dilakukan jika tonsilitis mengakibatkan komplikasi yang sulit ditangani, seperti:

  • Sleep apnea
  • Kesulitan bernapas
  • Kesulitan menelan
  • Abses yang tidak membaik dengan pengobatan antibiotik

Tonsilektomi biasanya dilakukan sebagai prosedur rawat jalan, kecuali jika anak Anda masih sangat kecil, memiliki kondisi medis yang kompleks atau jika komplikasi timbul selama operasi. Pemulihan total biasanya membutuhkan 7 hingga 14 hari.

Komplikasi Radang Amandel

Peradangan amandel  dapat menyebabkan komplikasi seperti:

  • Sulit bernapas.
  • Gangguan pernapasan saat tidur (obstructive sleep apnea).
  • Infeksi yang menyebar jauh ke jaringan di sekitarnya (tonsillar cellulitis).
  • Infeksi yang menghasilkan kumpulan nanah di belakang amandel (abses peritonsillar).

Selain itu, jika pengobatan antibiotik yang sedang dijalankan tidak sesuai dengan resep, Anda berisiko lebih tinggi untuk mengalami:

  • Demam rematik, kelainan peradangan yang memengaruhi jantung, persendian, dan jaringan lain.
  • Poststreptococcal glomerulonephritis, kelainan inflamasi ginjal yang menyebabkan pembuangan limbah yang tidak memadai dan kelebihan cairan dari darah.

Pencegahan Radang Amandel

Mencuci tangan tetap penting dalam mencegah penyebaran virus dan bakteri yang menyebabkan tonsilitis. Hindari kontak yang terlalu lama dengan siapa pun yang menderita radang amandel dan belum pernah minum antibiotik setidaknya selama 24 jam. Langkah pencegahan lain yang bisa dilakukan:

  • Hindari berbagi makanan dan minum dengan orang lain.
  • Mengganti sikat gigi setelah didiagnosis dengan kondisi ini.
  • Menutup hidung dan mulut jika bersin menggunakan tisu, atau jika tidak ada tisu tutup dengan lengan bagian dalam. Apabila terpaksa menggunakan tangan, cuci tangan setelahnya.

 

  1. Tonsillitis. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/tonsillitis/symptoms-causes/syc-20378479. (Diakses pada 20 Maret 2020).
  2. Pietrangelo, Ann. Rachel Nall, RN, BSN, CCRN. 2019. Everything You Need to Know About Tonsillitis. https://www.healthline.com/health/tonsillitis. (Diakses pada 20 Maret 2020).
  3. Understanding Tonsillitis — Diagnosis and Treatment. https://www.webmd.com/oral-health/understanding-tonsillitis-treatment#1. (Diakses pada 20 Maret 2020).
  4. Newman, Tim. 2019. All you need to know about tonsillitis. https://www.medicalnewstoday.com/articles/156497. (Diakses pada 20 Maret 2020).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi