Penyebab Cedera Ankle dan Pengobatannya

cedera-ankle-doktersehat

DokterSehat.Com– Cedera ankle atau ankle sprain adalah keseleo pergelangan kaki ketika ligamen yang mendukung tulang-tulang pergelangan kaki teregang atau robek. Ankle sprain adalah jenis cedera yang paling sering terjadi pada atlet, non atlet, anak-anak dan orang dewasa.
anatomi-ankle_edits Penyebab cedera engkel kaki sangat beragam, dapat terjadi pada saat berolahraga (basket, sepakbola, tenis, badminton, dan aktivitas lainnya), kesalahan dalam mendarat saat melompat, pada saat berlari di permukaan yang tidak rata atau pada saat naik turun anak tangga.

Baca juga: Nyeri Kaki – Tumit

Faktor Penyebab Cedera Ankle

Faktor-faktor apa saja yang dapat menyebabkan seseorang mudah terkena cedera pergelangan kaki?

  1. Kelemahan otot, terutama otot-otot di sekitar sendi pergelangan kaki.(muscle weakness)
  2. Lemah atau longgarnya ligamen-ligamen yang berada pada sendi ankle, sering diakibatkan karena cedera ankle yang berulang.
  3. Fleksibilitas yang buruk.
  4. Kurang melakukan pemanasan dan peregangan saat sebelum berolahraga.
  5. Keseimbangan yang buruk.
  6. Permukaan lapangan olahraga yang tidak rata.
  7. Sepatu atau alas kaki yang tidak tepat.

Anatomi sendi ankle

klasifikasi cedera ankle

Sendi ankle adalah struktur yang sangat kompleks yang terdiri dari banyak tulang ligamen, otot dan tendon.

Klasifikasi cedera ankle

Derajat I         : Ligamen teregang/ stretch

Derajat II        : Ligamen robek sebagian

Derajat III       : Ligamen robek total

Mekanisme cedera ankle 
MECHANISM OF INJURY

1. Inversion (lateral) ankle sprain

Merupakan mekanisme cedera engkel yang paling sering terjadi, mengenai ligamen sebelah luar dari sendi ankle (ligamen talofibular).

2. Eversion (medial) ankle sprain

Cedera ankle yang jarang terjadi, mengenai ligamen bagian dalam ankle (ligamen deltoid)

3. High ankle sprain

Cedera ankle mengenai ligamen yang menghubungkan antara tulang tibia dan tulang fibula. Biasanya terjadi dari sebuah gerakan memutar secara tiba-tiba, merubah arah gerakan secara tiba-tiba dan biasanya akibat kontak langsung.

Baca juga: Benarkah Es Bisa Meredakan Keseleo?

Penanganan Cedera Ankle

Berikut beberapa langkah pengobatan cedera ankle yang bisa Anda lakukan di rumah:

1. Pertolongan pertama pada cedera ankle (48-72 jam pertama cedera)

Segera setelah terjadi cedera angkle, melakukan penatalaksanaan cedera akut pada umumnya yaitu dengan RICE : Rest, Ice, Compression dan Elevation.

  • Rest
    Mengistirahatkan cedera engkel kaki, dengan meminimalisasi gerakan pada area yang cedera dan bila perlu menggunakan brace atau tapping pada saat melakukan aktivitas.
  • Ice
    Melakukan kompres es di area cedera pergelangan kaki selama 15-20 menit tiap 2-3 jam sekali. Kompres es ini sebaiknya dilakukan 48-72 jam pertama setelah cedera engkel.
  • Compression
    Melakukan kompresi dengan menggunakan bebat atau perban elastik atau non adhesive bandage di area engkel kaki. Fungsi dari bebat ini adalah untuk mengurangi bengkak dan perdarahan di area cedera engkel.
  • Elevation
    Mengelevasikan area yang cedera angkle lebih tinggi dari level jantung untuk mengurangi perdarahan dan bengkak.

Baca juga: Cedera Pergelangan Kaki dan Cara Mengatasinya

2. Fase pengembalian ruang gerak sendi dan fase fenguatan

Setelah nyeri hilang atau sangat berkurang dan tidak ada bengkak di daerah cedera, dapat dilakukan latihan untuk mengembalikan ruang gerak sendi (Range of Motion Exercise).

Salah satu contoh range of motion exercise pada sendi ankle adalah dengan membuat tulisan Alphabet dari A-Z menggunakan sendi ankle.

Kriteria untuk dapat melakukan latihan penguatan pada sendi ankle adalah seteah didapatkan ruang gerak sendi yang maksimal dan sudah tidak ada nyeri ataupun bengkak.

Beberapa contoh latihan penguatan sendi ankle antara lain adalah:

  1. Calf raise
  2. Ankle axercise dengan thera-band
  3. Single leg stand
  4. Toe pointing exercise

Kapan bisa kembali bermain setelah cedera ankle?

Kriteria seorang atlet dapat kembali ke aktivitas olahraga setelah atlet mampu melakukan serangkaian pengujian kemampuan fungsional secara bertahap seperti:

  • Jogging
  • Lari
  • Sprint
  • Lari zig-zag
  • Melompat dengan dua kaki
  • Melompat dengan satu kaki tanpa rasa nyeri pada area cedera engkel.