Ani Yudhoyono Meninggal Dunia pada Usia 66 Tahun

ani-yudhoyono-doktersehat
Photo Source: Instagram.com/annisayudhoyono

Kabar duka datang dari Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono. Istrinya, Ani Yudhoyono meninggal dunia setelah menjalani perawatan medis untuk mengatasi masalah kanker darah yang menggerogotinya di National University Hospital (NUH) Singapura.

Ani Yudhoyono Meninggal Dunia karena Kanker Darah

Akun Twitter Wasekjen Partai Demokrat, Andi Arief mengungkap kabar duka ini. Andi menyebut Ani meninggal dunia pukul 11.50 waktu Singapura. Beberapa awak media yang berada di Negeri Jiran tersebut juga telah mengonfirmasi kabar ini.

Ani dirawat di National University Hospital (NUH) sejak 2 Februari 2019 silam. Saat itu, ia didiagnosis terkena kanker darah setelah sempat mengalami kelelahan. SBY, anak-anaknya, dan menantunya bergantian menemaninya menjalankan berbagai macam terapi demi mengatasi kanker yang dideritanya.

Ani sempat menjalani transplantasi sumsum tulang belakang yang didapatkan dari tubuh adik kandungnya, Pramono Edhie Wibowo. Sayangnya, prosedur ini tidak memberikan dampak yang signifikan. Bahkan, Ani sempat menjalani perawatan intensif setelah melakukan prosedur tersebut karena kondisi kesehatannya terus menurun.

Kondisi Ani sebenarnya sempat membaik hingga mengikuti Pemilu 2019 di rumah sakit. Bahkan, foto-foto yang menunjukkan dirinya sempat keluar dari ruang isolasi dan berjalan-jalan dengan keluarganya beredar di media sosial. Sayangnya, sejak Rabu, 29 Mei 2019, kondisinya menurun dan akhirnya dirawat di ruang ICU.

Ani meninggal di usia 66 tahun. Wanita kelahiran Yogyakarta ini adalah putri dari Sarwo Edhie Wibowo, mantan Panglima RPKAD. Ani sempat mengenyam pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia. Selain menjadi ibu negara, Ani juga sempat menjabat sebagai Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat.

Pengobatan Kanker Darah

Kanker darah bisa mempengaruhi fungsi sel darah putih di dalam tubuh. Jika sampai hal ini terjadi, maka tubuh akan mengalami infeksi dan peradangan yang cukup parah.

Berikut adalah beberapa terapi yang bisa dijalani oleh penderita kanker darah.

  1. Kemoterapi

Seringkali, kasus kanker darah atau leukemia mendapatkan penanganan berupa kemoterapi. Terapi ini mampu membunuh sel-sel leukemia yang telah menggerogoti tubuh penderitanya. Hanya saja, terapi ini juga disesuaikan dengan jenis leukemia yang diderita. Bentuk terapi ini bisa berupa pemberian obat tunggal atau beberapa jenis obat. Obat yang diberikan juga bisa berupa obat minum atau suntikan dengan infus.

  1. Terapi target

Terapi target sebenarnya mirip dengan kemoterapi. Hanya saja, penderita kanker darah mengonsumsi obat tambahan demi mengatasi sel-sel leukemia. Terapi ini bisa secara spesifik menyerang bagian tubuh yang memiliki sel-sel kanker. Salah satu obat yang digunakan adalah obat berjenis imanitib yang bisa mencegah penyebaran sel leukemia.

  1. Terapi radiasi

Terapi radiasi menggunakan sinar berenergi tinggi demi menghancurkan atau menghentikan perkembangan sel-sel kanker. Penderita kanker darah yang akan menjalani terapi ini akan dibaringkan di atas bidang permukaan dan kemudian mendapatkan radiasi melalui sebuah menis berukuran besar.

Seringkali, terapi ini menargetkan satu atau beberapa bagian tubuh, namun jika kanker sudah menyebar, seluruh tubuh bisa mendapatkan terapi ini.

  1. Transpantasi sel induk

Transplantasi sel induk dilakukan dengan cara mengganti sumsum tulang yang sudah terkena kanker dengan sumsum tulang yang masih sehat. Hal ini diharapkan bisa membantu membersihkan sel-sel kanker di dalam tubuh. Hanya saja, seringkali terapi ini dilakukan oleh penderita kanker darah dengan usia kurang dari 55 tahun.

  1. Terapi biologis

Terapi ini ditujukan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dalam melawan sel-sel kanker. Dengan sistem imun tubuh yang lebih kuat, maka tubuh akan lebih baik dalam melawan penyebaran sel-sel kanker tersebut.