Terbit: 13 Februari 2020 | Diperbarui: 18 Mei 2020
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: dr. Jati Satriyo

Angina atau orang awam mengenalnya dengan sebutan angin duduk adalah nyeri dada yang disebabkan oleh kurangnya suplai darah ke jantung karena adanya penyempitan arteri koroner di jantung. Kondisi ini sulit dikenali karena gejalanya mirip dengan serangan jantung. Angin duduk juga bisa disebut angina pektoris, biasanya ditandai dengan tekanan di dada, sesak atau sakit dada, bahkan dada terasa diremas. Sensasi nyeri dada biasanya akan hilang dengan cepat, namun bisa menjadi tanda masalah jantung yang mengancam jiwa.

Angin Duduk (Angina): Gejala, Penyebab, Pengobatan, dll

Seberapa Umum Angin Duduk (Angina)?

Angin duduk adalah salah satu kondisi yang termasuk dalam penyakit jantung koroner. Seperti dilansir dari laman Kementerian Kesehatan RI, angin duduk tipe stabil menimbulkan gejala nyeri dada ketika melakukan aktivitas sehari-hari yang berlebihan. Kondisi ini tergolong dapat mengancam nyawa.

Data yang dihimpun WHO di tahun 2015 menunjukkan bahwa 70% kematian di dunia disebabkan oleh Penyakit Tidak Menular (PTM), yakni sebanyak 39,5 juta dari 56,4 kematian. Dari seluruh kasus kematian tersebut, sekitar 45% disebabkan oleh penyakit jantung dan pembuluh darah, yaitu 17.7 juta dari 39,5 juta kematian. Sementara Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) di tahun 2018 menunjukkan prevalensi tertinggi penyakit jantung berdasarkan diagnosis di Indonesia sebanyak 1,5%.

Jenis Angin Duduk (Angina)

Angin duduk terbagi menjadi empat jenis, berikut penjelasannya:

1. Angina Stabil

Angina yang stabil lebih sering dipicu oleh aktivitas fisik, misalnya ketika menaiki tangga, berolahraga atau berjalan, karena jantung membutuhkan lebih banyak darah, tetapi otot lebih sulit mendapatkan darah saat arteri menyempit. Faktor-faktor lain juga menjadi pemicu, seperti stres emosional, suhu dingin, makan makanan berat, dan merokok.

2. Angina Tidak Stabil

Jika penumpukan lemak (plak) dalam pembuluh darah pecah atau gumpalan darah terbentuk, ini dapat dengan cepat menghambat aliran darah ke otot jantung.

Angina yang tidak stabil mungkin memburuk dan tidak akan berkurang hanya dengan istirahat atau obat-obatan biasa. Jika aliran darah tidak kunjung membaik, jantung akan kekurangan oksigen dan terjadinya serangan jantung. Kondisi ini tergolong berbahaya dan harus segera membutuhkan perawatan darurat.

3. Angina Mikrovaskular

Nyeri dada tetapi tidak ada penyumbatan arteri koroner. Itu terjadi karena arteri koroner terkecil tidak bekerja sebagaimana mestinya, sehingga jantung tidak mendapatkan suplai darah yang dibutuhkan. Nyeri dada biasanya berlangsung lebih dari 10 menit. Jenis angina ini lebih sering terjadi pada wanita.

4. Angina Prinzmetal

Jenis angina selanjutnya disebabkan oleh kejang pada arteri koroner karena adanya penyempitan arteri sementara. Penyempitan ini mengurangi aliran darah ke jantung, yang menyebabkan nyeri dada. Pemicu biasanya karena stres emosional, merokok, dan penggunaan obat-obatan terlarang.

Gejala Angin Duduk

Mereka yang mengalami gejala dari angin duduk akan merasakan nyeri dada dalam berbagai bentuk. Secara umum, berikut gejala angin duduk:

  • Nyeri dada
  • Dada seperti diremas
  • Dada sesak
  • Keringat dingin
  • Nyeri lengan, bahu atau punggung, leher, dan rahang
  • Nyeri rahang dan leher
  • Sesak napas
  • Pusing
  • mual
  • Tertekan
  • Kelelahan
  • Terasa panas

Jika belum pernah mengalami angin duduk, pasien biasanya tidak yakin dengan apa yang dirasakannya dan tidak memiliki ketakutan apa pun karena masih mampu melakukan aktivitas sehari-hari.

Ciri-Ciri Angin Duduk Berdasarkan Jenisnya

Jika mengalami gejala yang telah disebutkan di atas, diagnosis diperlukan untuk menentukan jenis angina yang diderita, untuk mengindikasikan kemungkinan serangan jantung. Berikut tanda dan gejala angin duduk berdasarkan jenisnya.

1. Ciri-ciri angin duduk stabil:

  • Nyeri dada berkembang ketika jantung bekerja lebih keras, seperti saat berolahraga atau menaiki tangga.
  • Biasanya bisa diprediksi dan rasa sakitnya mirip dengan jenis nyeri dada yang pernah dialami sebelumnya.
  • Gejalanya berlangsung singkat, mungkin lima menit atau kurang.
  • Gejala hilang lebih cepat jika beristirahat atau menggunakan obat khusus.

Tingkat keparahan, durasi dan jenis angina bisa berbeda-beda. Gejala baru atau berbeda dapat menandakan jenis angina tidak stabil atau serangan jantung.

2. Ciri-ciri angin duduk tidak stabil:

  • Nyeri dada terjadi bahkan ketika istirahat.
  • Perubahan pola angina yang biasa.
  • Muncul secara tiba-tiba.
  • Lebih parah dan berlangsung lebih lama dari angina stabil, mungkin 30 menit atau lebih lama.
  • Tidak akan hilang hanya dengan istirahat atau obat.
  • Mungkin gejala dari serangan jantung.

3. Ciri-ciri angin duduk mikrovaskular:

Biasanya gejala yang timbul adalah nyeri dada, tetapi itu mungkin bukan satu-satunya tanda atau gejala yang paling sering terjadi pada wanita. Angin duduk pada wanita juga dapat mengalami gejala berikut:

  • Mual.
  • Sesak napas.
  • Sakit perut.
  • Ketidaknyamanan di leher, rahang atau punggung.
  • Sensasi seperti ditusuk alih-alih tekanan di dada.

4. Ciri-ciri angin duduk prinzmetal:

  • Gejala terjadi ketika sedang beristirahat.
  • Gejala biasanya parah.
  • Gejala hilang dengan obat.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika gejala angin duduk berupa nyeri dada yang berlangsung lebih lama dan tidak hilang ketika beristirahat atau minum obat, mungkin ini pertanda serangan jantung. Kondisi ini harus sesegera mungkin mendapatkan perawatan darurat.

Jika ketidaknyamanan di dada adalah gejala baru yang dirasakan, sangat penting untuk memeriksakan ke dokter untuk mencari tahu penyebab nyeri dada dan mendapatkan perawatan yang tepat. Jika dipastikan mengalami angina stabil dan kondisinya memburuk, segera dapatkan perawatan medis.

Penyebab Angin Duduk

Angin duduk disebabkan oleh berkurangnya suplai darah yang membawa oksigen ke otot jantung. Jika otot jantung tidak cukup mendapatkan oksigen, ini akan menyebabkan kondisi yang dinamai iskemia.

Kondisi yang paling sering menyebabkan berkurangnya aliran darah ke otot jantung adalah penyakit jantung koroner (PJK). Arteri jantung yang menyempit oleh penumpukan lemak (plak) disebut aterosklerosis.

Arteri jantung menyempit akibat penumpukan lemak tidak selalu diikuti dengan angin duduk, ini karena pada saat oksigen dalam darah rendah (misalnya ketika istirahat), otot jantung mungkin dapat bertahan saat berkurangnya aliran darah ke jantung. Tetapi, ketika peningkatan kebutuhan suplai darah yang membawa oksigen ke otot jantung (misalnya ketika olahraga), ini dapat mengakibatkan angin duduk.

Selain penyebab angin duduk di atas, penyebab yang kurang umum termasuk:

  • Penyumbatan aliran darah dari jantung ke paru-paru (emboli paru).
  • Jantung yang membesar atau menebal (hypertrophic cardiomyopathy).
  • Penyempitan katup di bagian utama jantung (stenosis aorta).
  • Pembengkakan kantung di sekitar jantung (perikarditis).
  • Sobeknya dinding aorta, arteri terbesar di tubuh (diseksi aorta).

Faktor Risiko

Berikut kondisi yang dapat meningkatkan risiko penyakit arteri koroner dan angin duduk:

1. Usia

Pria yang berusia di atas 45 tahun dan wanita yang berusia di atas 55 tahun memiliki risiko lebih tinggi daripada mereka yang berusia lebih muda.

2. Diabetes

Kadar gula darah yang tinggi adalah ketidakmampuan tubuh memproduksi atau merespons insulin dengan baik. Insulin merupakan hormon yang dikeluarkan oleh pankreas, yang memungkinkan tubuh menggunakan glukosa (bentuk gula dari makanan).

Diabetes dapat meningkatkan risiko penyakit arteri koroner, yang menyebabkan angin duduk dan serangan jantung, dengan mempercepat aterosklerosis dan meningkatkan kadar kolesterol.

3. Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi)

Tekanan darah dikendalikan oleh jumlah darah yang dipompa jantung dan jumlah resistensi terhadap aliran darah di arteri. Seiring waktu, hipertensi dapat merusak arteri dengan mempercepat pembekuan pembuluh darah.

4. Kolesterol Jahat

Kolesterol adalah penumpukan plak yang dapat menghambat aliran darah di seluruh tubuh, termasuk yang menyuplai ke jantung. Tingginya kadar kolesterol dikenal sebagai kolesterol jahat atau low-density lipoprotein (LDL), yang meningkatkan risiko angin duduk dan serangan jantung.

5. Riwayat Keluarga dengan Penyakit Jantung

Jika salah satu anggota keluarga memiliki penyakit arteri koroner atau serangan jantung, kemungkinan Anda juga berisiko lebih besar terkena angin duduk.

6. Merokok

Perokok aktif maupun perokok pasif jangka panjang dapat merusak dinding bagian dalam arteri, termasuk arteri ke jantung, yang memungkinkan endapan kolesterol menumpuk dan menghambat aliran darah.

7. Tidak Aktif secara Fisik

Gaya hidup yang tidak aktif dapat meningkatkan risiko kolesterol tinggi, hipertensi, diabetes tipe 2 dan obesitas, yang pada akhirnya juga berisiko mengalami angin duduk.

8. Obesitas

Kegemukan dapat meningkatkan risiko angin duduk dan penyakit jantung karena terkait dengan kolesterol jahat, hipertensi, dan diabetes. Selain itu, jantung harus bekerja lebih keras untuk menyuplai darah ke jaringan tubuh.

9. Stres

Tekanan mental dapat meningkatkan risiko angin duduk, serangan jantung, dan meningkatkan tekanan darah. Peningkatan hormon yang dihasilkan selama stres juga dapat mempersempit arteri dan memperburuk nyeri dada.

Komplikasi

Meskipun mengalami gejala nyeri dada masih bisa melakukan aktivitas normal, tetapi jika tidak terdeteksi dan didiagnosis tepat waktu, risiko utama angin duduk adalah kemungkinan lebih tinggi terkena serangan jantung. Semua jenis angin duduk jika dibiarkan dan tidak diobati dapat menyebabkan serangan jantung pada tahap apa pun.

Jenis angin duduk yang tidak stabil atau angin duduk prinzmetal harus melakukan perubahan gaya hidup dan pengobatan segera mungkin untuk mencegah risiko henti jantung.

Baca Juga: Penyakit Jantung: Penyebab, Ciri-Ciri, Pengobatan dll

Diagnosis

Dokter Anda akan melakukan pemeriksaan fisik dan bertanya tentang gejala, faktor risiko, dan riwayat keluarga Anda. Mereka mungkin perlu melakukan tes termasuk:

  • Elektrokardiogram (EKG). Tes ini mengukur aktivitas listrik dan ritme jantung. Dokter dapat mencari pola di antara detak jantung untuk melihat apakah aliran darah melalui jantung melambat atau terganggu atau jika mengalami serangan jantung.
  • Tes stres. Tas ini memeriksa bagaimana jantung bekerja saat berolahraga. Selama tes, pasien berolahraga dengan berjalan di atas treadmill atau mengayuh sepeda statis.
  • Tes darah. Dokter akan mendeteksi protein (troponin) dalam darah. Ini karena protein sering bocor ke dalam darah ketika serangan jantung.
  • Kateterisasi jantung. Tes dilakukan dengan memasukkan selang tipis dan panjang ke dalam arteri di kaki dan memasangnya ke jantung untuk memeriksa aliran dan tekanan darah.
  • Angiografi koroner. Tes dengan menyuntikkan zat pewarna ke dalam pembuluh darah jantung, yang akan muncul pada sinar-X dan menciptakan gambar pembuluh darah. Dokter dapat melakukan prosedur ini selama kateterisasi jantung.
  • Computerized tomography (CT) scan. Tas ini mengharuskan pasien berbaring mesin CT scan. Sebuah tabung yang dilengkapi sinar-X untuk menghasilkan gambar-gambar jantung dan dada, yang dapat menunjukkan apakah ada arteri jantung yang menyempit atau pembesaran jantung.

Pengobatan Angin Duduk

Perawatannya bertujuan untuk mengurangi rasa sakit, mencegah gejala, mencegah atau mengurangi risiko serangan jantung. Cara mengatasi angin duduk dapat dilakukan dengan menerapkan perubahan gaya hidup, penggunaan obat, dan pembedahan.

1. Perubahan Gaya Hidup

Perubahan gaya hidup yang disarankan untuk perawatan dan pencegahan angin duduk, di antaranya:

  • Berhenti merokok atau hindari paparan asap rokok.
  • Makan makanan yang sehat dan bergizi, seperti buah dan sayuran, kacang-kacangan, minum susu rendah lemak, makan daging atau ikan tanpa lemak.
  • Meningkatkan aktif secara fisik (setelah berkonsultasi dengan dokter, tentang intensitas aktivitas).
  • Mempertahankan berat badan yang sehat.
  • Istirahat yang cukup.
  • Mengendalikan atau menghindari stres.
  • Hindari minum minuman beralkohol.
  • Dapatkan vaksin flu tahunan untuk menghindari komplikasi jantung dari virus.

2. Obat-obatan

Jika cara mengatasi angin duduk dengan perubahan gaya hidup tidak efektif, mungkin diperlukan obat-obatan berikut:

  • Nitrat. Biasanya obat ini digunakan untuk mengobati nyeri dada. Nitrat dapat mengendur dan memperlebar pembuluh darah, yang memungkinkan lebih banyak darah mengalir ke otot jantung.
  • Aspirin. Obat yang dapat mengurangi pembekuan darah, yang memperlancar aliran darah ke jantung. Mencegah pembekuan darah juga dapat mengurangi risiko serangan jantung.
  • Obat pencegah penggumpalan darah. Obat-obatan tertentu yang dapat mencegah penggumpalan darah adalah clopidogrel, prasugrel dan ticagrelor. Salah satu obat ini mungkin diresepkan jika tidak dapat menggunakan aspirin.
  • Penghambat beta (beta blockers). Penghambat beta berfungsi untuk mencegah efek hormon epinephrine. Akibatnya, jantung berdetak lebih lambat dan dengan kekuatan yang lebih sedikit, sehingga mengurangi tekanan darah. Obat ini juga membantu pembuluh darah rileks dan terbuka untuk melancarkan aliran darah, sehingga mengurangi atau mencegah nyeri dada.
  • Statin. Adalah obat yang digunakan untuk menurunkan kolesterol dalam darah. Obat ini bekerja dengan menghambat zat yang dibutuhkan tubuh untuk membuat kolesterol. Juga digunakan untuk membantu tubuh menyerap kembali kolesterol yang menumpuk di dinding arteri, untuk mencegah penyumbatan di pembuluh darah.
  • Penghambat saluran kalsium atau (calcium channel blockers). Obat ini juga disebut antagonis kalsium, yang dapat mengendurkan dan memperlebar pembuluh darah dengan memengaruhi sel-sel otot di dinding arteri. Kondisi ini dapat meningkatkan aliran darah di jantung, mengurangi atau mencegah nyeri dada.
  • Obat penurun tekanan darah (hipertensi). Jika memiliki hipertensi, diabetes, tanda-tanda gagal jantung atau penyakit ginjal kronis, dokter mungkin akan meresepkan obat untuk hipertensi. Dua kelas utama obat untuk mengobati tekanan darah, termasuk angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitors atau angiotensin receptor blockers (ARBs).

Baca Juga: 7 Cara Mengobati Angin Duduk (Paling Cepat dan Efektif)

3. Operasi

Jika cara mengatasi angin duduk di atas masih tidak efektif, prosedur operasi berikut dapat dilakukan:

  • Angioplasti dan Pemasangan Stent

Angioplasti juga disebut intervensi koroner perkutan atau percutaneous coronary intervention (PCI), dengan memasukkan balon kecil ke dalam arteri yang menyempit. Balon ini kemudian digembungkan untuk memperlebar arteri, dan kumparan kawat kecil (stent) dimasukkan untuk membuat arteri terbuka.

Prosedur ini dapat meningkatkan aliran darah di jantung, mengurangi atau mengatasi angin duduk. Angioplasti dan pemasangan stent adalah pilihan perawatan yang efektif untuk angin duduk tidak stabil atau jika perubahan gaya hidup dan obat-obatan tidak efektif mengobati angin duduk kronis dan stabil.

  • Operasi Bypass Arteri Koroner

Selama prosedur ini, vena atau arteri dari tempat lain dalam tubuh digunakan untuk memotong arteri jantung yang tersumbat atau menyempit. Operasi bypass dapat meningkatkan aliran darah ke jantung dan mengurangi atau mengatasi gejala nyeri dada. Operasi ini efektif untuk angin duduk stabil dan tidak stabil.

 

  1. Anonim. 2019. Hari Jantung Sedunia (HJS) Tahun 2019 : Jantung Sehat, SDM Unggul. http://p2ptm.kemkes.go.id/kegiatan-p2ptm/pusat-/hari-jantung-sedunia-hjs-tahun-2019-jantung-sehat-sdm-unggul/. (Diakses 13 Februari 2020).
  2. Anonim. Angina (Ischemic Chest Pain). https://www.webmd.com/heart-disease/heart-disease-angina#2-4. (Diakses 13 Februari 2020).
  3. Anonim. Angina: Symptoms, Complications, and Treatment. https://www.practo.com/health-wiki/angina-symptoms-complications-and-treatment/244/article. (Diakses 13 Februari 2020).
  4. Crosta, Peter. 2017. Everything you need to know about angina. https://www.medicalnewstoday.com/articles/8886.php#types. (Diakses 13 Februari 2020).
  5. Mayo Clinic Staff. 2018. Angina. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/angina/symptoms-causes/syc-20369373. (Diakses 13 Februari 2020).

 


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi