Terbit: 10 Februari 2020 | Diperbarui: 11 Mei 2020
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Anemia defisiensi besi adalah salah satu masalah gizi mikronutrien yang dihadapi remaja Indonesia, yakni sekitar 12% remaja laki-laki dan 23% remaja perempuan mengalami anemia, yang sebagian besar diakibatkan kekurangan zat besi. Seperti dilansir dari situs resmi Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2018, anemia pada remaja perempuan lebih tinggi dibanding remaja laki-laki. Anemia pada remaja ini berdampak buruk pada penurunan imunitas, konsentrasi, prestasi belajar, kebugaran dan produktivitas.

Anemia Defisiensi Besi: Gejala, Penyebab, Pengobatan, dan Pencegahan

Apa Itu Anemia Defisiensi Besi?

Anemia defisiensi besi adalah jenis anemia yang disebabkan oleh kekurang zat besi yang pada akhirnya mengakibatkan kekurangan darah. Zat besi adalah zat pembentuk hemoglobin, protein yang membantu sel darah merah membawa oksigen ke seluruh tubuh. 

Jika seseorang tidak memiliki cukup zat besi, tubuh tidak menghasilkan sel darah merah yang cukup sehingga tubuh menjadi kekurangan hemoglobin, yang membawa oksigen. Jika tidak cukup oksigen dalam darah, Anda mungkin akan merasa lelah, lemah, dan sesak napas.

Gejala Anemia Defisiensi Besi

Anda mungkin tidak menyadari adanya gejala anemia, karena berkembang perlahan dan gejalanya mungkin ringan. Bahkan, Anda mungkin tidak menyadari sampai anemia semakin memburuk dengan gejala berikut:

  • Merasa lemah
  • Kelelahan yang ekstrem
  • Nyeri dada
  • Detak jantung cepat atau tidak teratur
  • Sesak napas
  • Sakit kepala atau pusing
  • Kulit pucat
  • Tangan dan kaki dingin
  • Kesemutan di kaki
  • Pembengkakan pada lidah atau nyeri
  • Kuku rapuh dan pecah-pecah
  • Restless legs syndrome – keinginan tidak terkontrol untuk menggerakkan kaki saat tidur
  • Mudah marah
  • Sulit berkonsentrasi

Sementara anak yang mengalami kekurangan darah akan mengalami gejala anemia defisiensi besi seperti berikut:

  • Rewel
  • Nafsu makan yang buruk
  • Tumbuh lebih lambat dari biasanya

Penyebab Anemia Defisiensi Besi

Anemia defisiensi besi disebabkan oleh rendahnya tingkat zat besi dalam tubuh. Seseorang yang mengalami kekurangan zat besi disebabkan oleh beberapa hal berikut ini:

1. Pola Makan yang Buruk

Buruknya pola makan adalah penyebab utama kekurangan zat besi, karena tubuh secara teratur mendapatkan zat besi dari makanan yang Anda makan. Untuk itu, konsumsilah makanan yang mengandung banyak zat besi, seperti telur, daging, sayuran hijau, dan makanan yang diperkaya zat besi. Makanan ini diperlukan oleh tubuh untuk memproduksi hemoglobin.

2. Kehilangan Darah

Zat besi dapat ditemukan terutama dalam darah, karena disimpan dalam sel darah merah. Bila kehilangan banyak darah karena kecelakaan, cedera, melahirkan, atau menstruasi yang berat, kemungkinan akan mengalami kekurangan zat besi.

Namun, dalam beberapa kasus, kehilangan darah akibat penyakit kronis atau beberapa penyakit kanker dapat menyebabkan kekurangan zat besi.

3. Kemampuan Menyerap Zat Besi Berkurang

Meski jarang, beberapa orang tidak dapat menyerap cukup zat besi dari makanan yang mereka makan. Penyebabnya mungkin karena masalah pada usus kecil, seperti penyakit celiac atau penyakit Crohn, atau bila sebagian dari usus kecil telah diangkat.

4. Kehamilan

Rendahnya kadar zat besi biasa dialami wanita hamil, karena cadangan zat besi dalam tubuhnya untuk memenuhi peningkatan volume darah, yang menjadi sumber hemoglobin untuk perkembangnan janin dalam kandungan.

5. Endometriosis

Jika wanita menderita endometriosis, mungkin ia mengalami kehilangan banyak darah yang tidak dapat disadari karena tersembunyi di area perut atau panggul.

Faktor Risiko

Beberapa orang yang berisiko lebih tinggi terkena anemia defisiensi besi, di antaranya:

1. Vegetarian

Seorang vegetarian yang mengonsumsi makanan nabati, mungkin akan mengalami kekurangan zat besi. Sebagai cara untuk mengatasi hal ini, seorang vegetarian harus menambahkan makanan yang mengandung banyak zat besi, seperti kacang-kacangan atau sereal yang diperkaya.

Para vegetarian yang juga makan makanan laut harus mempertimbangkan untuk makan tiram atau salmon.

2. Wanita

Siklus menstruasi bulanan pada wanita dan gadis remaja yang mengalami kehilangan darah akan mengalami peningkatan risiko anemia defisiensi besi.

3. Donor Darah

Orang yang teratur mendonorkan darahnya dapat meningkatkan risiko mengalami anemia defisiensi besi karena donor darah dapat menguras cadangan zat besi. Rendahnya hemoglobin terkait dengan donor darah mungkin karena tidak diimbangi dengan mengonsumsi lebih banyak makanan yang mengandung banyak zat besi.

4. Bayi dan Anak-Anak

Bayi yang lahir prematur dan bayi yang lahir dengan bobot rendah berisiko mengalami kekurangan zat besi. Begitu pula bayi yang tidak mendapatkan cukup zat besi dari air susu ibu (ASI), sangat berisiko mengalami anemia defisiensi besi.

Jika kadar zat besi pada bayi rendah, dokter akan menyarankan untuk menambahkan formula tinggi zat besi pada makanan bayi.

Anak-anak yang mengalami pertumbuhan yang cepat juga berisiko anemia defisiensi besi. Jadi, orang tua harus memastikan anak-anak untuk mengonsumsi makanan yang bervariasi dan kaya nutrisi untuk membantu menghindari kekurangan zat besi.

Baca Juga: Anemia – Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Cara Mengobati

Kapan Harus ke Dokter?

Jika mengalami tanda dan gejala anemia defisiensi besi, segera periksakan ke dokter. Masalah kesehatan ini tidak dapat didiagnosis sendiri atau diobati secara mandiri. Untuk itu, temuilah dokter untuk diagnosis yang tepat daripada menggunakan suplemen zat besi tanpa resep dokter. Karena tubuh yang kelebihan atau mengalami penumpukan zat besi bisa berbahaya, yakni merusak hati dan menyebabkan komplikasi lain.

Komplikasi

Anemia defisiensi besi yang lebih ringan tidak mungkin menimbulkan banyak gejala yang telah dijelaskan di atas. Namun, komplikasi dapat terjadi jika kekurangan zat besi dibiarkan atau tidak diobati.

Kemungkinan komplikasi anemia defisiensi besi termasuk:

1. Masalah Pertumbuhan

Kekurangan zat besi yang parah dapat menyebabkan anemia serta pertumbuhan dan perkembangan yang terhambat pada bayi dan anak-anak. Kekurangan zat besi juga dapat meningkatkan risiko infeksi.

2. Masalah Jantung

Kekurangan zat besi dapat menyebabkan detak jantung yang cepat atau tidak teratur. Ini karena jantung harus memompa lebih banyak darah untuk mengimbangi kekurangan oksigen yang dibawa dalam darah saat mengalami anemia. Kondisi ini dapat menyebabkan pembesaran jantung atau gagal jantung.

3. Masalah Selama Kehamilan

Kekurangan zat besi yang berat terkait dengan kelahiran prematur dan bayi memiliki berat lahir rendah. Tetapi kondisi ini dapat dicegah dengan mengonsumsi suplemen zat besi sebagai bagian dari perawatan prenatal wanita hamil.

Diagnosis Anemia Defisiensi Besi

Anemia pada anak-anak harus disembuhkan sehingga masalah mental dan perilaku tidak berlangsung lama. Jika Anda menduga mengalami anemia, sebaiknya hubungi dokter untuk mendapatkan pemeriksaan fisik dan mengajukan pertanyaan tentang riwayat kesehatan dan gejala anemia defisiensi besi.

Dokter juga akan melakukan beberapa tes berikut:

  • Ukuran dan Warna Sel Darah Merah

Ketika mengalami anemia defisiensi besi, ukuran sel darah merah lebih kecil dan warnanya lebih pucat dari biasanya.

  • Hematokrit

Adalah jumlah darah yang dihasilkan oleh sel darah merah. Tingkat jumlah normal biasanya antara 35,5 dan 44,9 persen untuk wanita dewasa dan 38,3 hingga 48,6 persen untuk pria dewasa. Nilai ini dapat berubah tergantung pada usia.

  • Hemoglobin

TIngkat hemoglobin yang lebih rendah dari normal mengindikasikan anemia. Kisaran hemoglobin normal biasanya antara 13,2 hingga 16,6 gram hemoglobin per desiliter darah untuk pria dan 11,6 hingga 15 gram per desiliter untuk wanita.

  • Ferritin

Protein ini dapat membantu menyimpan zat besi dalam tubuh, dan kadar feritin yang rendah biasanya menunjukkan kadar zat besi yang rendah.

Jika darah Anda menunjukkan anemia defisiensi besi, dokter dapat melakukan tes tambahan untuk mendeteksi penyebab, dengan tes berikut:

  • Endoskopi

Biasanya, dokter memeriksa perdarahan dari hernia hiatal, ulkus atau lambung dengan bantuan endoskopi. Prosedur ini dilakukan dengan memasukkan selang tipis yang dilengkapi dengan kamera kecil melalui tenggorokan. Tes ini memudahkan dokter untuk mencari dan melihat sumber pendarahan.

  • Kolonoskopi

Tes ini untuk menyingkirkan sumber perdarahan usus yang lebih rendah, dokter mungkin menyarankan prosedur yang disebut kolonoskopi. Sebuah selang tipis dan fleksibel yang dilengkapi kamera dimasukkan ke dalam dubur dan diarahkan ke usus besar. Biasanya pasien dibius selama tes ini. Kolonoskopi memungkinkan dokter melihat bagian dalam atau seluruh usus besar dan dubur untuk mencari pendarahan internal.

  • Ultrasonografi

Wanita mungkin akan menjalani ultrasonografi (USG) panggul untuk mencari penyebab perdarahan menstruasi berlebih, seperti fibroid rahim.

Pengobatan Anemia Defisiensi Besi

Dokter mungkin akan menyarankan untuk mengonsumsi suplemen zat besi untuk mengobati anemia defisiensi besi. Dokter juga akan mengobati penyebab kekurangan zat besi Anda, jika diperlukan.

1. Suplemen Zat Besi

Dokter mungkin akan meresepkan dosis tablet suplemen zat besi yang dijual bebas untuk mengisi kembali cadangan zat besi dalam tubuh. Selain tabes, zat besi juga tersedia dalam bentuk cair khusus untuk bayi dan anak-anak. Untuk memudahkan tubuh menyerap zat besi dalam tablet, Anda mungkin disarankan hal berikut:

  • Minum Tablet Zat Besi saat Perut Kosong

Jika memungkinkan, minum tablet zat besi saat perut kosong. Namun, bila tablet zat besi dapat mengganggu perut, Anda mungkin perlu mengonsumsi tablet zat besi saat makan.

  • Jangan Mengonsumsi Zat Besi dengan Antasida

Obat yang segera meredakan gejala mulas dapat mengganggu penyerapan zat besi. Oleh karena itu, minumlah zat besi dua jam sebelum atau empat jam setelah mengonsumsi antasida.

  • Minum Tablet Zat Besi dengan Vitamin C

Vitamin C dapat meningkatkan penyerapan zat besi. Dokter mungkin menyarankan untuk mengonsumsi tablet zat besi dengan segelas jus jeruk atau dengan suplemen vitamin C.

Suplemen zat besi dapat menyebabkan sembelit, dokter mungkin juga akan menyarankan untuk mengonsumsi obat pencahar. Zat besi dapat mengubah feses menjadi hitam, efek samping yang tidak berbahaya.

Kekurangan zat besi tidak bisa diobati dalam semalam. Anda mungkin perlu minum suplemen zat besi selama beberapa bulan atau lebih untuk mengisi kembali cadangan zat besi. Biasanya, tubuh akan mulai merasa lebih baik setelah seminggu perawatan.

Meski sudah pulih, konsultasikan kepada dokter kapan darah diperiksa ulang untuk mengukur kadar zat besi. Ini untuk memastikan adanya cadangan besi dalam darah.

2. Makan

Makanan berikut kaya zat besi yang dapat membantu mengobati atau mencegah kekurangan zat besi:

  • Daging merah
  • Sayuran berdaun hijau gelap 
  • Buah kering
  • Kacang-kacangan
  • Kacang polong
  • Makanan laut
  • Sereal yang diperkaya zat besi

3. Mengobati Penyebab Kekurangan Zat Besi

Jika suplemen zat besi tidak efektif meningkatkan kadar zat besi dalam darah, kemungkinan anemia disebabkan oleh sumber perdarahan atau masalah penyerapan zat besi yang perlu diselidiki dan diobati oleh dokter. Tergantung pada penyebabnya, pengobatan anemia defisiensi besi dapat dilakukan dengan cara berikut:

  • Obat-obatan, seperti kontrasepsi oral untuk meringankan aliran darah menstruasi yang berat
  • Antibiotik dan obat lain untuk mengobati tukak lambung
  • Pembedahan untuk menghilangkan polip yang berdarah, tumor atau fibroid

Jika anemia defisiensi besi tergolong parah, Anda mungkin memerlukan zat besi yang diberikan secara intravena atau mungkin memerlukan transfusi darah untuk membantu mengganti zat besi dan hemoglobin dengan cepat.

Baca Juga: 10 Cara Mengatasi Anemia dengan Efektif

Pencegahan Anemia Defisiensi Besi

Terdapat beberapa cara untuk mencegah tubuh kekurangan zat besi atau anemia defisiensi besi, berikut di antaranya:

1. Rutin Makan Makanan yang Mengandung Zat Besi

Anda dapat melakukan pencegahan anemia defisiensi besi dengan mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi setiap hari. Makanan kaya zat besi termasuk, daging merah, sayuran hijau berdaun gelap, biji-bijian, dan makanan lainnya yang telah disebutkan di atas.   

2. Memerhatikan Makanan Bayi

Anda dapat mencegah anemia pada bayi dan anak-anak dengan mengikuti rekomendasi makanan untuk bayi dan memastikan bayi dan anak-anak mendapatkan cukup zat besi.

3 Konsumsi Vitamin pada Ibu Hamil

Jika sedang hamil, Bunda dapat melakukan pencegahan anemia defisiensi besi dengan mengonsumsi vitamin prenatal. Dokter akan memberikan vitamin prenatal yang meliputi zat besi dan asam folat. Dokter juga akan melakukan tes darah untuk memastikan apakah Anda mengalami anemia. Jika mengalami anemia, Anda akan mengonsumsi pil zat besi dosis tinggi.

Asupan vitamin C juga dapat meningkatkan penyerapan zat besi oleh tubuh dengan minum jus jeruk atau makan makanan yang kaya vitamin C pada saat yang sama ketika makan makanan zat besi tinggi. Vitamin C dalam jus jeruk dapat membantu tubuh menyerap lebih baik zat besi.

Vitamin C juga dapat kita temukan dalam buah dan sayuran berikut:

  • Brokoli
  • Jeruk bali
  • Jeruk keprok
  • Melon
  • Kiwi
  • Sayuran hijau
  • Paprika
  • Stroberi
  • Tomat

 

 

 

  1. Kenali Masalah Gizi yang Ancam Remaja Indonesia. https://www.depkes.go.id/article/print/18051600005/kenali-masalah-gizi-yang-ancam-remaja-indonesia.html. (Diakses 10 Februari 2020)
  2. Mayo Clinic Staff. 2019. Iron deficiency anemia. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/iron-deficiency-anemia/symptoms-causes/syc-20355034. (Diakses 10 Februari 2020)
  3. Fletcher, Jenna. 2017. What to know about iron deficiency anemia. https://www.medicalnewstoday.com/articles/318096.php#Diagnosis. (Diakses 10 Februari 2020)
  4. What Is Iron Deficiency Anemia?. https://www.webmd.com/a-to-z-guides/iron-deficiency-anemia#1. (Diakses 10 Februari 2020)
  5. Cafasso, Jacquelyn dan Rachel N. 2017. Iron Deficiency Anemia. https://www.healthline.com/health/iron-deficiency-anemia#symptoms. (Diakses 10 Februari 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi