Terbit: 21 November 2019
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: dr. Jati Satriyo


Anemia adalah kondisi ketika darah tidak memiliki sel-sel darah merah sehat atau hemoglobin yang cukup. Sel darah merah berfungsi membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh, sehingga jumlah sel darah merah yang rendah menandakan jumlah oksigen dalam darah lebih rendah dari normal. Gejala umumnya adalah pusing, lelah dan lemah.

anemia-doktersehat

Menurut data WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) Jumlah penderita anemia lebih dari 1,62 miliar orang di seluruh dunia, sementara di Indonesia sekitar 2 juta  lebih per tahunnya. Wanita dan orang-orang dengan penyakit kronis seperti kanker memiliki risiko tertinggi terkena penyakit ini.

Penyebab Anemia

Hemoglobin adalah bagian utama dari sel darah merah yang berfungsi untuk mengikat oksigen. Jika seseorang memiliki terlalu sedikit sel-sel darah merah dan berbentuk tidak normal, maka sel-sel dalam tubuh tidak akan mendapatkan cukup oksigen dan hal itu disebut sebagai penyakit anemia.

Penyebab anemia terbagi menjadi dua, yakni penurunan produksi sel darah merah dan peningkatan kerusakan sel darah merah, berikut penjelasannya:

1. Faktor yang Menurunkan Produksi Sel Darah Merah

Hal-hal yang biasanya menurunkan produksi sel darah merah menyebabkan anemia, termasuk:

  • Stimulasi produksi sel darah merah yang tidak memadai oleh hormon erythropoietin, yang diproduksi oleh ginjal.
  • Asupan zat besi, vitamin B-12, atau folat yang tidak adekuat
  • Hipotiroidisme

2. Faktor yang Meningkatkan Kerusakan Sel Darah Merah

Gangguan yang menghancurkan sel darah merah pada tingkat yang lebih cepat dibanding produksi sel darah merah dapat menyebabkan penyakit ini. Kondisi ini sering terjadi karena pendarahan, yang disebabkan hal berikut:

  • Endometriosis
  • Kecelakaan
  • Lesi gastrointestinal
  • Persalinan
  • Perdarahan uterus yang berlebihan
  • Operasi
  • sirosis, yang melibatkan jaringan parut hati
  • Fibrosis (jaringan parut) di dalam sumsum tulang
  • Hemolisis, pecahnya sel darah merah yang dapat terjadi dengan beberapa obat atau ketidakcocokan Rh
  • Gangguan hati dan limpa
  • Kelainan genetik seperti: Defisiensi glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G6PD), thalasemia, dan anemia sel sabit

Secara keseluruhan penyebab di atas, kekurangan zat besi adalah penyebab paling umum dari anemia.

Faktor Risiko Anema

Beberapa faktor risiko yang bisa menyebabkan Anda terkena penyakit ini adalah:

1. Menstruasi

Wanita usia produktif (ketika masih mengalami menstruasi) sangat rentan terhadap anemia defisiensi besi karena kehilangan darah dari menstruasi serta tuntutan pasokan darah yang meningkat selama kehamilan. Menstruasi yang terlalu deras selama berhari-hari juga menjadi faktor penyebab kekurangan sel darah merah.

2. Lansia

Orang lanjut usia juga mungkin memiliki risiko lebih besar terkena penyakit kekurangan sel darah merah karena pola makan yang buruk dan kondisi medis lainnya. Jadi, faktor penyebab yang kedua ini adalah karena usia.

3. Keturunan

Bentuk tertentu dari kekurangan sel darah merah adalah merupakan penyakit keturunan dan bayi mungkin dapat terkena setelah kelahirannya. Penyebab anemia yang satu ini adalah karena penyakit ini muncul secara genetis atau faktor keturunan.

4. Kehamilan

Pada beberapa kasus, penyakit kekurangan sel darah merah yang terjadi selama kehamilan dapat dianggap sebagai sesuatu yang normal. Namun, beberapa jenis anemia dapat menimbulkan masalah kesehatan yang berdampak hingga seumur hidup.

5. Kondisi Kronis

Jika menderita kanker, gagal ginjal, diabetes atau kondisi kronis lainnya, mungkin Anda bisa berisiko anemia dari penyakit kronis. Kondisi ini dapat menjadi penyebab kekurangan sel darah merah.

Jenis Anemia

Saat tubuh terlalu sedikit memproduksi sel darah atau sel tidak berfungsi dengan baik, maka sel darah merah akan rusak karena perkembangan sel yang abnormal, kurangnya mineral dan vitamin. Kondisi yang berhubungan dengan penyakit ini, di antaranya:

1. Anemia Sel Sabit

Adalah kelainan bawaan yang sering terjadi. Sel darah merah menjadi bulan sabit karena adanya cacat genetik. Sel darah merah membelah diri dengan cepat, sehingga oksigen tidak sampai ke organ tubuh yang pada akhirnya menyebabkan kekurangan sel darah merah.

Sel-sel darah merah berbentuk bulan sabit juga bisa terjebak dalam pembuluh darah kecil sehingga menyebabkan penyumbatan, dan berakhir dengan rasa nyeri hebat pada organ yang tidak dialiri darah.

2. Anemia Defisiensi Besi

Anemia defisiensi besi terjadi karena kurangnya zat besi mineral dalam tubuh. Sumsum tulang membutuhkan zat besi untuk membuat hemoglobin, bagian dari sel darah merah yang mengangkut oksigen ke organ-organ tubuh.

Tanpa zat besi yang cukup, tubuh tidak dapat menghasilkan cukup hemoglobin untuk sel darah merah. Hasilnya adalah kekurangan sel darah merah akibat kekurangan zat besi.

3. Anemia pada Ibu Hamil

Jika Anda sedang hamil, tubuh akan berisiko mengalami peningkatan risiko kekurangan zat besi, karena Anda harus membantu peningkatan volume darah serta menjadi sumber hemoglobin untuk bayi Anda agar dapat tumbuh.

4. Anemia Defisiensi Vitamin

Adalah kekurangan sel darah merah sehat yang disebabkan ketika tubuh memiliki jumlah vitamin tertentu yang lebih rendah dari normal. Vitamin yang dikaitkan dengan anemia defisiensi vitamin, di antaranya; folat, vitamin B-12 dan vitamin C.

5. Thalasemia

Adalah kelainan darah bawaan yang ditandai dengan kekurangan hemoglobin dan lebih sedikit sel darah merah dalam tubuh dari biasanya.

Hemoglobin adalah zat dalam sel darah merah yang memungkinkannya membawa oksigen. Hemoglobin yang rendah dan kekurangan sel darah merah thalasemia dapat menyebabkan kekurangan sel darah merah, membuat rasa lelah.

6. Anemia Aplastik

Kekurangan sel darah merah akibat penyakit sumsum tulang. Beberapa penyakit seperti leukemia atau myelofibrosis  dapat mengganggu produksi sel darah merah di sumsum tulang dan memicu kekurangan sel darah merah. Gejala kekurangan darah aplastik ini bervariasi, dari ringan hingga berbahaya.

7. Anemia Hemolitik

Anemia hemolitik terjadi pada saat sel darah merah dihancurkan oleh tubuh lebih cepat dibanding waktu produksinya. Beberapa penyakit dapat mengganggu proses dan kecepatan penghancuran sel darah merah. Penyakit ini dapat diturunkan secara genetik atau bisa juga didapat setelah lahir.

8. Anemia Pernisiosa

Adanya masalah di perut atau usus yang menyebabkan penyerapan vitamin B12 yang buruk. Kondisi ini dapat menyebabkan kekurangan sel darah merah akibat kekurangan vitamin B12 yang dikenal sebagai anemia pernisiosa.

9. Anemia Peradangan

Penyakit tertentu seperti kanker, HIV/AIDS, rheumatoid arthritis, penyakit ginjal, penyakit Crohn dan penyakit radang akut atau kronis lainnya dapat menghambat produksi sel darah merah, yang dapat menyebabkan kekurangan sel darah merah.

Gejala Anemia

Anemia adalah ketika tubuh tidak mendapatkan cukup darah yang kaya oksigen. Tanda dan gejala kekurangan sel darah merah tergantung pada penyebabnya, berikut ciri-ciri anemia yang mudah dikenali:

  • Merasa kelelahan
  • Merasa lemah
  • Pusing atau sakit kepala
  • Sakit dada
  • Detak jantung tidak teratur
  • Sesak napas
  • Tangan dan kaki dingin
  • Kulit pucat atau kekuningan

Kondisi ini bisa sangat ringan sehingga seseorang bahkan tidak menyadari telah mengalami kekurangan darah. Tetapi tanda atau ciri-ciri anemia mungkin akan memburuk.

Diagnosis Anemia

Guna mengetahui apakah Anda mengalami gejala kekurangan sel darah merah, diagnosisnya dimulai dengan riwayat kesehatan dan riwayat kesehatan keluarga Anda, bersamaan dengan pemeriksaan fisik.

Nilai hematokrit dewasa normal bervariasi secara medis, namun biasanya antara 40% dan 52% pada pria dan 35% dan 47% untuk wanita. Berikut nilai hemoglobin yang normal:

  • Anak usia 0,5 hingga 4 tahun: 11 gram per desiliter atau lebih
  • Anak usia 5-12 tahun: 11,5 gram per desiliter
  • Pria dewasa: 13,5 sampai 17,5 gram per desiliter
  • Wanita dewasa: 12,0 sampai 15,5 gram per desiliter
  • Wanita hamil: 11,0 gram per desiliter atau lebih

Tes laboratorium umumnya digunakan untuk membantu dokter mengetahui penyebab kekurangan sel darah merah. Tes untuk mendiagnosis penyakit ini, meliputi:

  • Hitung darah lengkap (CBC). Tes darah CBC menunjukkan jumlah dan ukuran sel darah merah.
  • Kadar serum besi. Tes darah ini untuk mengetahui apakah kekurangan zat besi adalah penyebab anemia.
  • Tes ferritin. Tes darah ini menganalisis cadangan zat besi dalam tubuh.
  • Tes vitamin B-12. Tes darah ini untuk mengetahui kadar vitamin B-12 dan membantu dokter menentukan apakah penderitanya mengalami kurang darah yang parah.
  • Tes asam folat. Tes darah ini mengungkapkan jika kadar folat serum rendah.
  • Tes feses. Tes ini untuk melihat apakah ada darah dalam tinja. Jika tes positif, kondisi ini menandakan bahwa darah hilang di saluran pencernaan, dari mulut ke rektum.

Cara Mengatasi Anemia

Dengan mengetahui cara penanganan penyakit yang tepat, banyak jenis anemia yang ringan bisa diatasi. Namun, penyakit ini bisa sangat parah hingga bertahan lama ketika disebabkan oleh penyakit yang diturunkan, kronis atau trauma.

Penentuan penanganan penyakit darah ini diambil berdasarkan dengan penyebab anemia yang mendasari penyakit tersebut. Ketika kadar hemoglobin <7 gram/dl, maka dokter akan menyarankan untuk dilakukan transfusi. Karena penyebab kurang darah adalah kekurangan zat besi, maka sangat disarankan untuk mengonsumsi makan makanan yang banyak mengandung zat besi sebagai cara mengatasi kekurangan sel darah merah.

Perlu diketahui, beberapa jenis penyakit kurang darah tidak dapat dihindari, akan tetapi anemia yang disebabkan oleh kekurangan vitamin dan zat besi dapat dicegah dengan cara mengatur pola makan. Beberapa makanan yang dapat digunakan sebagai cara mencegah penyakit ini, di antaranya:

  • Makanan yang kaya akan vitamin C, seperti jeruk, melon, brokoli, stroberi, dan tomat. Makanan-makanan tersebut dapat membantu penyerapan zat besi.
  • Makanan yang kaya akan vitamin B12, seperti daging, keju, sereal, tahu, tempe dan susu.
  • Makanan yang kaya akan zat besi, seperti daging sapi, kacang-kacangan, sereal yang diperkaya zat besi, sayuran berdaun hijau gelap, dan buah kering.
  • Makanan yang kaya akan asam folat, seperti sayuran berdaun hijau gelap, buah-buahan, kacang hijau, kacang merah, kacang tanah, nasi, sereal, pasta, dan gandum.

Selain mengonsumsi beberapa makanan di atas, cara mengatasi kekurangan sel darah merah juga dapat dilakukan dengan mengonsumsi multivitamin. Jika dalam keluarga terdapat riwayat munculnya penderita anemia bawaan seperti anemia sel sabit atau thalasemia, sebaiknya konsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

Jika penyakit kekurangan sel darah merah yang parah dan sangat mengganggu kehidupan sehari-hari, ada baiknya dapatkan penanganan anemia khusus di rumah sakit agar dapat diketahui penyebabnya dengan pasti, mengingat penyebab kekurangan sel darah merah sangat banyak dan sulit dideteksi oleh orang awam.

 

  1. Anonim. 2018. Global anaemia prevalence and number of individuals affected. https://www.who.int/vmnis/anaemia/prevalence/summary/anaemia_data_status_t2/en/. (Diakses 21 November 2019).
  2. Anonim. 2019. Anemia. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/anemia/symptoms-causes/syc-20351360. (Diakses 21 November 2019).
  3. Lam, Peter. 2017. Everything you need to know about anemia. https://www.medicalnewstoday.com/articles/158800.php#causes. (Diakses 21 November 2019)
  4. Nabili, Siamak N. Tanpa Tahun. Anemia. https://www.emedicinehealth.com/anemia/article_em.htm#anemia_causes. (Diakses 21 November 2019)
  5. Wu, Brian dan Verneda L. 2018. What You Need to Know About Anemia. https://www.healthline.com/health/anemia#causes. (Diakses 21 November 2019)



DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi