Terbit: 27 Oktober 2020
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Anaplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh gigitan kutu yang membawa bakteri A. phagocytophilum. Penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi yang fatal jika tidak mendapatkan pengobatan. Ketahui informasi selengkapnya mulai dari definisi, gejala, penyebab, pengobatan, dan lainnya.    

Anaplasmosis: Gejala, Penyebab, Cara Mengobati, Pencegahan, dll

Apa Itu Anaplasmosis?

Anaplasmosis adalah infeksi akibat bakteri bernama Anaplasma phagocytophilum. Bakteri ini dapat menular ke manusia melalui gigitan kutu yang terinfeksi.

Dalam kebanyakan kasus, infeksi bakteri ini juga disebut penyakit ehrlichiosis ini tergolong ringan, tetapi lansia dan orang dengan sistem imun yang lemah dapat mengembangkan penyakit yang lebih parah dan memerlukan rawat inap.

Tanda dan Gejala Anaplasmosis

Gejalanya dapat muncul setelah 1-2 minggu mengalami gigitan kutu yang terinfeksi bakteri A. phagocytophilum. Seseorang mungkin tidak menyadari telah tergigit kutu, karena gigitannya seringkali tidak menimbulkan rasa sakit. Tanda dan gejala awal ehrlichiosis biasanya ringan atau sedang.

Berikut ini beberapa gejala anaplasmosis:

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku PTH - Advertisement

  • Demam.
  • Nyeri otot.
  • Sakit kepala berat.
  • Kehilangan nafsu makan.
  • Mual atau muntah.
  • Diare.

Penderitanya mungkin mengalami gejala lebih serius jika tidak segera mendapatkan pengobatan, atau jika memiliki kondisi medis yang mendasarinya.

Gejala anaplasmosis yang berat, meliputi:

  • Masalah pendarahan.
  • Gagal napas.
  • Kegagalan organ.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika mengalami gejala yang mirip dengan anaplasmosis dalam 2 minggu setelah tergigit kutu yang terinfeksi, sesegera mungkin ke dokter.

Hubungi dokter juga jika mengalami gigitan kutu dan memiliki gejala penyakit Lyme, kondisi yang berpotensi serius dan dapat ditularkan oleh kutu melalui gigitan.

Penyebab Anaplasmosis

Penyakit ini dapat disebabkan oleh bakteri A. phagocytophilum yang dibawa oleh kutu. Kutu dapat menularkan bakteri melalui gigitan setelah menempel pada manusia selama 4-24 jam. Oleh karenanya, segera menghilangkan kutu ini setelah mengalami gigitan untuk mencegah penularan ke orang lain.

Terdapat dua kutu yang membawa bakteri A.phagocytophilum, termasuk Ixodes scapularis dan Ixodes pacificus. Kedua jenis kutu ini biasanya terdapat pada beberapa hewan seperti domba, kambing, kuda, rusa, dan anjing.

Penularan yang jarang terjadi dari infeksi bakteri, termasuk dari ibu ke anak, transfusi darah, dan penanganan hewan yang terinfeksi (misalnya rusa).

Faktor dan Risiko Anaplasmosis

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena penyakit ini, meliputi:

  • Usia. Pria yang berusia 40 tahun ke atas berisiko lebih tinggi, dengan kemungkinan 1,4 kali lipat.
  • Pria. Infeksi bakteri ini lebih berisiko pada pria daripada wanita.
  • Lingkungan. Mereka yang sering berada pada tempat terbuka (terutama saat musim panas) dan tinggal di tempat yang terdapat banyak kutu Ixodes scapularis dan Ixodes pacificus.  
  • Sistem imun lemah. Orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah lebih berisiko mengalami penyakit ehrlichiosis.

Diagnosis

Guna mendiagnosis penyakit ini secara akurat, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, menanyakan gejala, serta menanyakan apakah pernah mendapat gigitan atau menghilangkan kutu dari kulit, atau pernah berada di tempat yang terdapat banyak kutu.

Kemungkinan anaplasmosis atau ehrlichiosis sulit didiagnosis karena memiliki gejala yang mirip dengan beberapa penyakit lain Untuk itu, awalnya dokter mungkin tidak memeriksa ehrlichiosis.

Setelah melakukan pemeriksaan fisik, dokter dapat melakukan satu atau lebih tes untuk memeriksa penyakit ini. Berikut ini beberapa tes mendiagnosis penyakit ehrlichiosis:

  • Reaksi berantai polimerase, merupakan tes darah yang mencari jejak bakteri dalam darah.
  • Kultur sel, tes untuk mendeteksi bakteri.
  • Tes antibodi, tes untuk memeriksa darah terhadap antibodi tertentu yang melawan ehrlichiosis.

Pengobatan Anaplasmosis

Perawatan dan pengobatan untuk penyakit ini biasanya menggunakan antibiotik. Setelah mengonsumsi obat ini, gejalanya cenderung berkurang dalam waktu 24 jam. Bagi mereka dengan gejala lebih parah, kemungkinan masa pemulihan alan lebih lama. Dokter mungkin merekomendasikan doksisiklin untuk mengobati anaplasmosis.

Setelah pengobatan, penderita penyakit ini masih mungkin mengalami kekambuhan. Oleh karena itu, Anda harus terus berhati-hati agar tidak terkena kutu yang mungkin membawa bakteri A.phagocytophilum.

Baca Juga: 10 Cara Menghilangkan Kutu Rambut secara Alami

Komplikasi

Namun, penyakit ini jarang berakibat fatal karena kebanyakan penderitanya mendapatkan perawatan dengan cepat yang akan segera meredakan gejala. Sedangkan orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah dan orang yang tidak mendapatkan pengobatan dapat menyebabkan penyakit berat dan meningkatkan risiko komplikasi.

Berikut ini beberapa komplikasi anaplasmosis:

  • Insufisiensi pernapasan. Kondisi ketika paru-paru tidak mendapatkan oksigen atau mengeluarkan karbon dioksida yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sel-sel tubuh.
  • Syok septik. Merupakan kondisi yang terjadi ketika sepsis menyebabkan tekanan darah rendah yang mengancam jiwa. Sepsis terjadi ketika tubuh memiliki respons yang luar biasa terhadap infeksi.
  • Kegagalan multiorgan. Ini adalah sindrom yang menggambarkan jalur patofisiologis yang rumit dan dinamis. Ini menyebabkan gangguan fungsi organ dan pada akhirnya menyebabkan kematian.
  • Rhabdomyolysis. Kondisi ini dapat mengancam jiwa ini terjadi akibat kerusakan otot dan kematian otot. Kerusakan otot yang berbahaya ini bisa terjadi akibat kelelahan, trauma, zat beracun, atau penyakit.
  • Infeksi oportunistik (IO). Infeksi bakteri, virus, jamur, dan parasit yang terjadi lebih sering dan lebih parah pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, termasuk pengidap HIV.

Pencegahan Anaplasmosis

Terdapat beberapa tips dan cara untuk membantu mencegah penyakit ini. Cara terbaik adalah dengan tidak bersentuhan kutu yang terinfeksi bakteri.

Jika mengalami gigitan kutu, siapa pun harus segera menghilangkannya dari tubuh. Kutu yang menempel selama 4-24 jam pada tubuh dapat menularkan bakteri yang menjadi penyebab anaplasmosis. Menghilangkan dan membasmi kutu dapat mencegah penularan.

Berikut ini cara membantu mencegah gigitan kutu yang terinfeksi bakteri:

  • Berjalan di tengah jalan setapak, bukan pada tepi yang berumput.
  • Menghindari rumput tinggi atau semak belukar.
  • Menggunakan pengusir serangga.
  • Mengoleskan produk yang mengandung permethrin 0,5% pada pakaian, sepatu, atau sepatu bot.
  • Memeriksa hewan peliharaan dan perlengkapannya sebelum masuk ke dalam rumah.
  • Memeriksa tubuh sendiri, hewan peliharaan, dan anak-anak dari kutu setelah menghabiskan waktu pada halaman atau area terbuka.
  • Memastikan jarak pekarangan rumah dengan halaman yang memiliki rumput.

 

  1. Anonim. 2019. Anaplasmosis. https://www.cdc.gov/anaplasmosis/index.html. (Diakses pada 27 Oktober 2020)
  2. Anonim. Tanpa Tahun. Anaplasmosis. https://www.gov.mb.ca/health/publichealth/diseases/anaplasmosis.html. (Diakses pada 27 Oktober 2020)
  3. Anonim. 2019. What Are Opportunistic Infections?. https://www.hiv.gov/hiv-basics/staying-in-hiv-care/other-related-health-issues/opportunistic-infections#:~:text=What%20Are%20Opportunistic%20Infections%3F,are%20considered%20AIDS%2Ddefining%20conditions. (Diakses pada 27 Oktober 2020)
  4. Anonim. 2019. Rhabdomyolysis. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/21184-rhabdomyolysis#:~:text=What%20is%20rhabdomyolysis%3F,called%20myoglobin%20into%20the%20blood. (Diakses pada 27 Oktober 2020)
  5. Fletcher, Jenna. 2020. What to know about anaplasmosis. https://www.medicalnewstoday.com/articles/anaplasmosis. (Diakses pada 27 Oktober 2020)
  6. Felman, Adam. 2018. How to avoid septic shock. https://www.medicalnewstoday.com/articles/311549. (Diakses pada 27 Oktober 2020)
  7. Guzman, Nilmarie et al. 2020. Anaplasma Phagocytophilum. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK513341/. (Diakses pada 27 Oktober 2020)
  8. KristaL, Hillyer. 2014. Multiple Organ Dysfunction Syndrome. https://www.sciencedirect.com/topics/medicine-and-dentistry/multiple-organ-dysfunction-syndrome. (Diakses pada 27 Oktober 2020)
  9. Lundgren, Becky. 2014. Anaplasmosis. https://veterinarypartner.vin.com/default.aspx?pid=19239&id=6191808. (Diakses pada 27 Oktober 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi