Sepak bola adalah olahraga yang disukai siapa saja. Di Indonesia, banyak anak-anak yang sudah memainkannya sejak kecil. Masalahnya adalah olahraga ini bisa menyebabkan kontak fisik dan memicu datangnya cedera. Hal ini bahkan membuat Skotlandia memutuskan untuk melarang anak-anak untuk menyundul bola saat memainkannya. Apa sebenarnya alasan dari larangan ini?

sundul-bola-doktersehat

Penyebab Larangan Anak Menyundul Bola

Sebenarnya, larangan anak menyundul bola bukan kali ini saja terjadi. Sebelumnya, pada 2015 lalu, pemerintah Amerika Serikat juga mengeluarkan larangan serupa. Hanya saja, larangan yang dikeluarkan oleh Skotlandia ini menjadi buah bibir karena dikeluarkan sendiri oleh asosiasi sepak bola negara tersebut, Scottish FA.

Keputusan PSSI-nya Skotlandia ini didasari oleh hasil dari penelitian yang dikeluarkan University of Glasgow pada Oktober 2019. Dalam penelitian ini, disebutkan bahwa mantan atlet sepak bola profesional ternyata memiliki risiko 3,5 kali lebih besar untuk meninggal akibat penyakit degeneratif pada otak. Jika mereka sudah terbiasa menyundul bola di usia anak-anak, bisa jadi risikonya akan semakin meningkat.

“Penelitian yang dilakukan University of Glasgow juga mengambil data dari pemain sepak bola di Skotlandia. Kami merasa memiliki tanggung jawab pada anak-anak yang juga memainkan olahraga ini sehingga memutuskan untuk melarang mereka menyundul bola demi kebaikannya,” tulis SFA.

Salah seorang legenda sepak bola Skotlandia yang pernah bermain di Glasgow Celtic, John Hartson mendukung keputusan ini.

“Ada beberapa situasi yang membuat pemain sepak bola yang sampai kehilangan nyawa atau menderita demensia. Saya senang Scottish FA mau melakukan sesuatu terkait dengan hal ini,” ucapnya.

Manfaat Sepak Bola bagi Anak-Anak

Meskipun menyundul bola sebaiknya tidak dilakukan anak-anak, bukan berarti sepak bola tidak sehat bagi mereka. Pakar kesehatan menyebut ada banyak sekali manfaat kesehatan bagi anak yang suka bermain sepak bola.

Berikut adalah manfaat-manfaat tersebut.

1. Mendukung Perkembangan Saraf

Pakar kesehatan menyebut anak yang rutin bermain sepak bola cenderung mampu melatih agility, keseimbangan, dan koordinasi. Hal ini akan mendukung perkembangan sistem saraf agar menjadi lebih maksimal. Hal ini disebabkan oleh gerakan lari yang cepat sehingga bisa mendukung perkembangan tersebut.

2. Melatih Anak Mengambil Keputusan

Bermain sepak bola bisa membuat anak-anak dilatih untuk mengambil keputusan dalam waktu yang singkat. Mereka juga akan semakin terlatih untuk membaca situasi atau lingkungan di sekitarnya. Sebagai contoh, mereka harus lebih cermat untuk mengumpan, berlari ke tempat yang tepat, atau menembak bola. Hal ini bisa membuat fungsi kognitif otak mereka semakin meningkat.

3. Melatih Kerja Sama

Sepak bola adalah olahraga tim yang menuntut kerja sama. Jika anak-anak memainkannya, mau tidak mau mereka harus melakukan kerja sama dengan teman-temannya. Hal ini ternyata bisa mempengaruhi fungsi otaknya dengan signifikan. Selain itu, anak yang lebih baik bekerja sama dengan orang lain juga bisa mendapatkan kesehatan mental dengan lebih baik.

4. Melatih Keterampilan Motorik

Anak-anak yang sudah berlatih sepak bola sejak usia sangat muda cenderung mengalami perkembangan keteampilan motorik kasar jauh lebih baik. Perkembangan ototnya juga sangat baik dibandingkan dengan anak yang malas memainkannya.

5. Melatih Konsentrasi

Bermain sepak bola membutuhkan konsentrasi dan fokus yang prima demi memastikan permainan dan kerja sama berlangsung dengan baik. Hal ini tentu akan membuat otak anak semakin terasah dengan baik.

6. Anak Semakin Bugar

Anak akan semakin bugar karena rutin melakukan olahraga. Sirkulasi darah akan semakin terjaga, sistem kekebalan tubuh semakin kuat, dan anak pun tidak akan mudah terkena penyakit.

 

Sumber:

  1. Ingle, Sean. 2020. Children in Scotland could be banned from heading footballs over dementia link.theguardian.com/football/2020/jan/16/children-scotland-banned-from-heading-footballs-dementia-link. (Diakses pada 17 Januari 2020).