Terbit: 18 Maret 2021
Ditulis oleh: dr. Monica Djaja Saputera | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Amniosentesis adalah prosedur pemeriksaan air ketuban untuk membantu diagnosis kondisi tertentu atau untuk mengatasi jumlah air ketuban yang berlebihan. Ketahui apa tujuan dan bagaimana prosedur dari tindakan ini di sini.

Amniosentesis: Tujuan, Prosedur, Risiko, dll

Apa Itu Amniosentesis?

Amniosentesis adalah prosedur invasif dengan cara mengambil air ketuban dari dalam rahim selama kehamilan (mulai usia kehamilan 15-20 minggu) sebagai upaya diagnosis atau terapi. Air ketuban adalah air yang melindungi janin selama dalam kehamilan yang mengandung sel fetus dan berbagai protein.

Kapan Amniosentesis Perlu Dilakukan?

Prosedur invasif amniosentesis umumnya dilakukan sebagai upaya diagnosis prenatal dan terapi janin. Beberapa kondisi yang memerlukan amniosentesis adalah:

1. Uji Genetik dan Analisis Kromosom

Uji ini umumnya dilakukan pada kondisi di mana ibu hamil berusia tua, adanya abnormalitas pada skrining biokimia saat hamil trimester 1 dan 2, temuan USG yang mencurigakan, atau adanya riwayat abnormalitas kromosom pada keluarga. Beberapa kondisi yang dapat ditemukan pada uji genetik dan analisis kromosom adalah sindrom Down, sindrom Edward, sindrom Patau, dll.

2. Analisis DNA

Analisis DNA dapat dilakukan untuk keperluan uji paternitas. Uji ini dilakukan dengan membandingkan DNA dengan DNA seseorang yang dianggap sebagai ayah biologisnya. Selain itu analisis DNA juga dapat memberikan gambaran adanya kecurigaan penyakit endokrin.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku RT Mandiri - Advertisement

3. Uji Paru Janin

Dalam uji paru janin, umumnya dokter akan menilai pematangan paru janin untuk memastikan apakah paru janin sudah cukup matang dan siap dilahirkan atau tidak.

4. Diagnostik Prenatal selama Kehamilan

Beberapa kondisi yang dapat dideteksi pada amniosentesis adalah kondisi infeksi pada janin (CMV, Parvovirus, Toxoplasma Gondii, dll), penyakit metabolik atau enzim, serta penilaian derajat keparahan penyakit hemolitik.

5. Terapi

Amniosentesis dapat dilakukan sebagai suatu tindakan terapi pada kondisi di mana seorang ibu hamil memiliki jumlah air ketuban yang berlebih. Kondisi ini umum dikenal dengan istilah hidramnion.

Baca Juga: Emboli Air Ketuban: Penyebab, Gejala, Cara Mengatasi, dll

Apa yang Perlu Dipersiapkan sebelum Melakukan Tindakan Amniosentesis?

Sebelum melakukan tindakan amniosentesis, dokter umumnya akan menjelaskan rincian prosedur yang akan dilakukan serta resiko dan komplikasi yang dapat terjadi.

Apabila ibu hamil melakukan tindakan amniosentesis sebelum usia kehamilan 20 minggu, biasanya dokter akan meminta ibu hamil untuk minum air putih yang banyak guna mengisi kandung kemih. Sedangkan pada usia kehamilan lebih dari 20 minggu, dokter akan meminta ibu hamil untuk mengosongkan kandung kemih.

Bagaimana Prosedur Melakukan Amniosentesis?

Tindakan amniosentesis umumnya dilakukan oleh dokter yang berkompeten dan terlatih di bidang ini. Umumnya dokter akan meminta ibu hamil untuk berbaring dengan posisi terlentang di meja pemeriksaan. Hal ini bertujuan untuk memberikan akses yang lebih mudah dan baik untuk melakukan pemeriksaan dan tindakan pada area abdomen atau perut ibu.

Setelah ibu dalam posisi relaks, dokter akan melakukan USG di area abdomen (perut/rongga tubuh) ibu untuk menilai posisi dan pergerakan janin, posisi plasenta, serta posisi yang paling baik untuk mengambil air ketuban. Setelah menentukan posisi penusukkan jarum, dokter akan melakukan tindakan antiseptik di area abdomen. Kemudian dokter akan menyiapkan jarum untuk menusukkannya ke dalam rahim.

Ukuran jarum yang disarankan adalah 20-22G, tergantung penilaian dokter tersebut. Jarum ditusukkan melalui dinding abdomen hingga menembus rahim dengan panduan USG. Ketika sudah mencapai posisi yang tepat, air ketuban ditarik dengan menggunakan syringe sebanyak 10-20 mL untuk keperluan pemeriksaan di laboratorium. Setelah tindakan selesai dilakukan, dokter akan melakukan USG ulang untuk menilai kondisi janin setelah tindakan.

Apa yang Perlu Dilakukan setelah Tindakan Amniosentesis Selesai?

Setelah tindakan selesai, umumnya dokter akan memberikan edukasi bahwa ibu hamil dapat melakukan aktivitas seperti biasa. Tetapi perlu diingat bahwa ibu hamil yang baru menjalani tindakan amniosentesis disarankan untuk menghindari olahraga berat atau aktivitas seksual dalam 1 atau 2 hari ke depan. Dokter juga akan memberikan informasi mengenai kemungkinan adanya rasa nyeri serta tanda-tanda infeksi pada area penusukkan di abdomen.

Beberapa kondisi yang perlu diperhatikan adalah:

  • Perdarahan atau keluarnya air ketuban dari jalan lahir.
  • Kram pada area perut yang terasa berat selama beberapa jam.
  • Demam.
  • Kemerahan pada area penusukkan.
  • Pergerakkan janin yang tidak biasa atau gerakan janin berkurang.

Baca Juga: 9 Fungsi Air Ketuban bagi Janin, Setiap Ibu Harus Tahu!

Apa Saja Komplikasi Tindakan Amniosentesis?

Selama tindakan amniosentesis berlangsung, komplikasi pada janin dan ibu hamil dapat saja terjadi. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada tindakan amniosentesis adalah:

  • Komplikasi pada janin | sensitisasi Rh, penularan infeksi dari ibu (misal hepatitis C, toksoplasmosis, HIV/AIDS, dll), trauma janin, kelahiran prematur, dll.
  • Komplikasi pada ibu hamil | keguguran, kebocoran air ketuban, kontraksi rahim , infeksi pada rahim, sepsis, perdarahan, dll.

 

  1. Mayo Clinic. (2020). Amniocentesis. (Online). Available from: http://www.mayoclinic.org/ (Updated March 15, 2021).
  2. National Health Service. (2019). Overview Amniocentesis. (Online). Available from: http://www.nhs.uk/ (Updated March 15, 2021).
  3. Cruz-Lemini, M., et al. (2014). How to perform an amniocentesis. The International Society of Ultrasound in Obstetrics & Gynecology; 44: 727-31.
  4. Theodora, M., Antsaklis, P., Antsaklis, A. (2015). Invasive Prenatal Diagnosis: Amniocentesis. Donald School Journal of Ultrasound in Obstetrics and Gynecology; 9(3):307-13.

 


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi