Terbit: 29 Juli 2020 | Diperbarui: 9 September 2020
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Alkalosis adalah kondisi ketika tubuh kelebihan basa atau alkali yang jika tidak segera diobati dengan tepat dapat menyebabkan komplikasi seperti koma. Simak informasi selengkapnya mulai dari definisi, gejala, penyebab, pengobatan, pencegahan, dan lainnya di bawah ini.

Alkalosis: Gejala, Penyebab, Cara Mengobati, Pencegahan, dll

Apa Itu Alkalosis?

Alkalosis adalah suatu kondisi ketika tubuh memiliki kadar basa atau alkali terlalu banyak. Ini terjadi akibat peningkatan kadar bikarbonat (basa) atau rendahnya kadar karbondioksida (asam) dalam darah.

Penyakit ini mungkin juga terkait dengan masalah kesehatan mendasar lainnya seperti penurunan kadar kalium (hipokalemia) dalam tubuh.

Darah terdiri dari asam dan basa, yang jumlahnya dapat diukur pada skala pH (power of hydrogen). Maka dari itu, penting dalam menjaga keseimbangan dengan benar antara asam dan basa.

Jika mengalami sedikit perubahan, mungkin dapat menyebabkan masalah kesehatan. Biasanya darah harus memiliki jumah kadar basa yang sedikit lebih tinggi daripada asam.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Tempo Scan Baby Fair - Advertisement

Ciri dan Gejala Alkalosis

Gejalanya dapat bervariasi pada setiap penderitanya. Pada tahap awal, mungkin muncul tanda dan gejala berikut:

  • Mual
  • Mati rasa
  • Gemetar (tremor) pada tangan
  • Otot berkedut
  • Kejang otot yang berkepanjangan

Jika tidak segera diobati kemungkinan dapat menyebabkan gejala yang serius, di antaranya:

  • Pusing
  • Sesak napas
  • Kebingungan
  • Hilang kesadaran atau pingsan
  • Koma

Kapan Harus Mendapatkan Pertolongan Dokter?

Hubungi dokter jika mengalami beberapa gejala berikut:

  • Kebingungan
  • Sulit berkonsentrasi
  • Sesak napas

Begitu pun jika mengalami gejala yang harus membutuhkan perawatan darurat medis, di antaranya:

  • Hilang kesadaran
  • Kejang
  • Gejala alkalosis yang memburuk dengan cepat
  • Sesak napas yang memburuk

Jenis dan Penyebab Alkalosis

Ginjal dan paru-paru berfungsi menjaga keseimbangan asam dan basa dalam tubuh dengan baik. Ketika keseimbangan antara kadar karbondioksida atau bikarbonat mengalami gangguan dapat menyebabkan alkalosis. Penyakit ini terbagi menjadi beberapa jenis, di antaranya:

1. Respiratorik

Jenis ini dapat disebabkan oleh penurunan kadar karbon dioksida dalam darah. Kondisi ini dapat disebabkan oleh:

  • Demam
  • Kekurangan oksigen
  • Penyakit liver
  • Penyakit paru-paru, yang menyebabkan bernapas lebih cepat (hiperventilasi)
  • Berada di tempat yang tinggi
  • Keracunan aspirin

2. Metabolik

Jenis kedua terjadi ketika tubuh kehilangan terlalu banyak karbondioksida atau terlalu banyak bikarbonat. Kondisi ini terkait dengan:

  • Muntah berlebihan, yang menyebabkan kehilangan elektrolit
  • Terlalu sering menggunakan diuretik
  • Penyakit adrenal
  • Kehilangan kalium yang banyak atau natrium dengan cepat
  • Mengonsumsi bikarbonat tidak disengaja, yang terdapat dalam baking soda
  • Antasida
  • Obat pencahar
  • Alkohol

Baca Juga: Natrium Bikarbonat: Manfaat, Dosis, Efek Samping

3. Hipokloremik

Jenis ini disebabkan oleh kekurangan atau kehilangan klorida yang signifikan dalam tubuh. Kondisi ini dapat terjadi ketika muntah atau berkeringat yang berkepanjangan.

Klorida adalah senyawa kimia yang sangat dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh dan berfungsi sebagai cairan asam lambung yang membantu pencernaan.

4. Hipokalemik

Jenis berikutnya dapat terjadi ketika tubuh kekurangan kadar kalium, senyawa kimia yang biasanya ditemukan dalam makanan. Kalium sendiri sangat penting dalam menjaga fungsi jantung, ginjal, otot, sistem saraf, dan sistem pencernaan.

Kekurangan kalium dapat disebabkan oleh penyakit ginjal, keringat berlebih, dan diare. Jenis ini juga dapat terjadi karena meminum pil air tertentu (diuretik).

Diagnosis Alkalosis

Sejumlah gejala alkalosis menyerupai gejala masalah kesehatan lainnya. Oleh karenanya, sangat penting untuk untuk mendapatkan diagnosis dari dokter. Awalnya dokter akan menanyakan riwayat kesehatan dan gejala yang sedang dialami.

Dokter mungkin akan melakukan tes penunjang untuk mengesampingkan kondisi kesehatan lain, di antaranya:

  • Tes urine (urinalisis). Tes ini dilakukan dengan mengambil sedikit sampel urine yang kemudian dikirim ke laboratorium untuk dilakukan pemeriksaan terhadap kadar elektrolit dan pH urine.
  • Tes darah. Memeriksa sampel darah untuk menganalisa keseimbangan asam dan basa dengan mengukur pH, serta mengukur kadar elektrolit. Tes ini bertujuan untuk menentukan jenis alkalosis.

Jumlah kadar pH darah normal adalah antara 7,35 dan 7,45, sedangkan pH darah di atas 7,45 mengindikasikan alkalosis.

Cara Mengobati Alkalosis

Perawatan untuk penyakit ini tergantung pada penyebabnya. Misalnya, jumlah kadar karbondioksida harus kembali normal bila memiliki alkalosis pernapasan.

Selain itu, berikut ini cara mengobati alkalosis berdasarkan beberapa penyebabnya:

  • Mengambil napas dalam-dalam. Jika memiliki pernapasan cepat yang disebabkan oleh kecemasan, mengambil napas dalam-dalam dan lambat biasanya mengatasi gejala dan mengatur kadar oksigen.
  • Minum cairan yang banyak. Beberapa kasus penyakit ini disebabkan ketidakseimbangan elektrolit, yang dapat diatasi dengan minum banyak cairan atau minuman yang mengandung elektrolit. Jika mengalami ketidakseimbangan elektrolit tingkat lanjut, maka memerlukan perawatan di rumah sakit.
  • Menghirup oksigen. Jika didiagnosis memiliki kadar oksigen rendah, pasien harus mendapatkan oksigen melalui masker.
  • Obat penghilang rasa sakit. Jika pernapasan cepat disebabkan oleh rasa sakit, maka konsumsi obat penghilang rasa sakit dapat membantu mengembalikan laju pernapasan menjadi normal dan meredakan gejalanya.
  • Suplemen klorida dan kalium. Jika disebabkan oleh kehilangan senyawa kimia seperti klorida atau kalium, pasien dapat diberi suplemen untuk menggantikan kedua senyawa ini.

Komplikasi Alkalosis

Jika tidak segera diobati dengan benar, penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi berikut:

  • Aritmia, denyut jantung tidak teratur atau tidak ritmis.
  • Ketidakseimbangan elektrolit karena rendahnya kadar kalium. Kelainan elektrolit dapat menyebabkan kejang otot, kelemahan otot, dan gangguan mental.
  • Koma.

Pencegahan Alkalosis

Risiko penyakit ini dapat dikurangi dengan menjaga kesehatan, makan makanan bergizi, dan minum air yang cukup agar tubuh tetap terhidrasi.

Memilih makanan bernutrisi dan kalium dapat membantu mencegah kekurangan kadar elektrolit. Nutrisi dan kalium bisa kita dapatkan dalam buah-buahan, sayuran, dan makanan lain.

Berikut ini sejumlah makanan yang mengandung nutrisi dan kalium:

  • Pisang
  • Wortel
  • Bayam
  • Kacang polong
  • Susu
  • Bekatul

Selain memenuhi nutrisi dan kalium, ada langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah tubuh mengalami dehidrasi, di antaranya:

  • Minum air sebanyak 8-10 gelas per hari.
  • Minum air sebelum, selama, dan setelah berolahraga.
  • Minum minuman pengganti elektrolit untuk latihan intensitas tinggi.
  • Mengurangi asupan kafein yang terkandung dalam minuman bersoda, teh, dan kopi.
  • Hindari minuman bersoda atau jus yang mengandung gula karena dapat menyebabkan dehidrasi bertambah buruk.

Dehidrasi juga dapat terjadi dengan cepat jika kehilangan banyak elektrolit. Kondisi ini terjadi ketika muntah karena flu.

 

  • Anonim. 2019. Alkalosis. https://medlineplus.gov/ency/article/001183.htm. (Diakses pada 29 Juli 2020)
  • Khan, April dan Kristeen C. 2019. Alkalosis. https://www.healthline.com/health/alkalosis#treatment. (Diakses pada 29 Juli 2020)
  • Lewis, James L. 2020. Alkalosis. https://www.merckmanuals.com/home/hormonal-and-metabolic-disorders/acid-base-balance/alkalosis. (Diakses pada 29 Juli 2020)
  • Sur, Moushumi dan Ankur D. Alkalosis. 20120. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK545269/. (Diakses pada 29 Juli 2020)


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi