Terbit: 8 November 2020
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Eko Budidharmaja

Alergi susu adalah respons abnormal sistem kekebalan tubuh terhadap susu dan produk-produk olahannya. Susu sapi adalah penyebab umum alergi, namun susu yang berasal dari domba, kambing, dan mamalia lainnya juga dapat menyebabkan reaksi yang sama. Simak gejala alergi susu sapi, penyebab, hingga cara mengatasinya di bawah ini.

Alergi Susu: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Apa Itu Alergi Susu?

Alergi susu adalah reaksi sistem kekebalan tubuh yang tidak normal terhadap salah satu dari banyak protein dalam susu hewan—yaitu alpha S1-casein protein—yang terdapat di dalam susu sapi. Jenis alergi ini adalah salah satu alergi makanan paling umum yang terjadi pada anak-anak.

Reaksi alergi susu formula atau sapi biasanya langsung terjadi setelah mengonsumsinya. Namun ada juga yang tidak langsung menunjukan gejala, beberapa orang membutuhkan waktu untuk berkembang.

Gejala Alergi Susu

Pada dasarnya setiap orang memiliki gejala yang berbeda-beda, ada yang berlangsung beberapa menit hingga beberapa jam setelah mengonsumsi susu atau produk-produk olahan susu lainnya. Tanda dan gejala yang bisa dikenali, antara lain:

  • Suara mengi
  • Perasaan gatal atau kesemutan di sekitar bibir
  • Pembengkakan pada bibir, lidah atau tenggorokan
  • Batuk atau sesak napas
  • Muntah

Tanda dan gejala lain yang mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk berkembang, di antaranya:

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Family Fest - Advertisement

  • Diare atau tinja mengandung darah
  • Kram perut
  • Pilek
  • Mata berair
  • Kolik pada bayi

Alergi Susu dan Intoleransi Susu

Alergi terhadap susu berbeda dengan intoleransi protein susu dan intoleransi laktosa. Tidak seperti alergi, intoleransi tidak melibatkan sistem kekebalan tubuh. Tanda dan gejala umum dari intoleransi protein susu atau intoleransi laktosa adalah masalah pencernaan seperti perut kembung dan diare setelah mengonsumsi susu atau produk yang mengandung susu.

Intoleransi laktosa (gula dalam susu) terjadi karena sistem pencernaan tidak dapat memproduksi enzim laktase sehingga laktosa tidak dapat dicerna dan menyebabkan diare atau kembung. Intoleransi laktosa tidak menyebabkan keluhan gatal, kemerahan, atau mengi.

Anafilaksis

Alergi terhadap susu dapat menyebabkan anafilaksis, reaksi alergi yang mengancam jiwa karena bisa mempersempit saluran udara dan dapat menghambat pernapasan. Kondisi ini adalah keadaan darurat medis dan memerlukan perawatan khusus dengan suntikan epinephrine yang dilakukan di rumah sakit. Tanda dan gejala yang bisa dikenali, antara lain:

  • Tenggorokan membengkak sehingga menyulitkan untuk bernapas
  • Facial flushing
  • Gatal
  • Syok dibarengi dengan penurunan tekanan darah

Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter?

Segera temui dokter jika anak mengalami gejala alergi seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Perawatan darurat harus segera dilakukan jika anak memiliki tanda dan gejala anafilaksis.

Penyebab Alergi Susu

Jika Anda memiliki alergi terhadap susu, sistem kekebalan tubuh mengidentifikasi protein susu tertentu sebagai zat yang berbahaya. Kondisi tersebut memicu produksi antibodi imunoglobulin E (IgE) untuk menetralkan protein (alergen).

Saat protein ini masuk ke dalam tubuh, antibodi memberi sinyal sistem kekebalan tubuh untuk melepaskan histamin dan senyawa kimia lainnya sehingga menyebabkan gejala alergi. Terdapat dua protein utama dalam susu sapi yang dapat menyebabkan reaksi alergi:

  • Casein, ditemukan di bagian padat (dadih) susu yang mengental
  • Whey, ditemukan di bagian cair susu yang tersisa setelah dadih susu

Seseorang bisa mengalami alergi terhadap satu protein atau bisa juga alergi terhadap kedua protein tersebut. Kebanyakan orang yang bereaksi terhadap susu sapi akan bereaksi juga terhadap susu domba, kambing, dan kerbau.

Faktor Risiko

Alergi membuat sistem kekebalan tubuh bereaksi untuk memicu molekul (alergen). Saat sistem kekebalan tubuh mendeteksi adanya alergen, hal itu menyebabkan reaksi peradangan dan pelepasan zat kimia yang disebut histamin, dimana keduanya menyebabkan gejala alergi. Berikut ini adalah berbagai faktor yang dapat meningkatkan risiko alergi, di antaranya:

  • Memiliki alergi lain. Banyak anak yang memiliki kondisi ini juga memiliki alergi lain. Alergi ini dapat berkembang sebelum alergi lainnya.
  • Dermatitis atopik. Anak-anak yang menderita dermatitis atopik, peradangan pada kulit yang ditandai dengan munculnya rasa gatal dan ruam lebih mungkin untuk mengembangkan alergi.
  • Riwayat keluarga. Risiko alergi makanan seseorang meningkat jika salah satu atau kedua orang tuanya alergi makanan atau jenis alergi lainnya seperti demam, asma, gatal-gatal, atau eksim.
  • Usia. Seiring bertambahnya usia, sistem pencernaan menjadi semakin matang. Kondisi ini membuat tubuh cenderung bereaksi pada susu. Meski begitu, kondisi ini lebih sering terjadi pada anak-anak.

Diagnosis Alergi Susu

Diagnosis awal yang bisa dilakukan dokter untuk mengetahui apakah Anda mengalami kondisi ini adalah mengajukan pertanyaan tentang gejala yang muncul, melakukan pemeriksaan fisik, dan mengevaluasi asupan yang Anda konsumsi. Berikut ini adalah beberapa tes lainnya yang mungkin disarankan oleh dokter, di antaranya:

  • Tes Kulit

Tes ini dilakukan dengan memasukan sejumlah kecil protein yang ditemukan di dalam susu ke dalam kulit. Jika Anda memiliki alergi, tubuh akan mengalami peningkatan benjolan di area kulit yang sedang di tes. Perlu diingat bahwa jenis tes ini tidak sepenuhnya akurat untuk mendeteksi alergi.

  • Tes Darah

Tes darah dapat mengukur respons sistem kekebalan tubuh terhadap susu dengan mengukur jumlah antibodi imunoglobulin E (IgE) dalam darah. Akan tetapi tes ini tidak sepenuhnya akurat dalam mengidentifikasi alergi.

Pengobatan Alergi Susu

Satu-satunya perawatan yang bisa dilakukan jika mengalami kondisi ini adalah dengan menghindari sumber yang memicu alergi. Namun, beberapa orang yang memiliki alergi ini masih dapat dapat mentolerir susu dalam bentuk olahan yang lain.

Menghilangkan asupan susu pada anak harus dalam pengawasan dokter, pasalnya beberapa anak yang memiliki kondisi ini tidak bisa mentolerir produk susu kedelai. Meski begitu, banyak dokter anak yang merekomendasikan susu formula berbasis kedelai dengan tambahan vitamin dan mineral untuk bayi yang memiliki kondisi ini.

Jika secara tidak sengaja Anda mengonsumsi susu atau produk-produk olahannya, obat antihistamin dapat mengurangi reaksi alergi ringan. Jika Anda atau anak memiliki reaksi alergi yang serius (anafilaksis), Anda mungkin memerlukan suntikan epinephrine (adrenaline) yang dilakukan di rumah sakit.

Komplikasi Alergi Susu

Meski tidak semua anak memiliki kondisi ini, namun anak yang alergi terhadap susu lebih mungkin mengembangkan masalah kesehatan lainnya, seperti:

  • Memiliki alergi pada makanan lain seperti telur, kedelai, kacang, atau daging sapi.
  • Rhinitis alergi, peradangan yang terjadi pada rongga hidung akibat reaksi alergi. Kondisi ini bisa menyebabkan gatal, mata berair, dan bersin.

Pencegahan Alergi Susu

Tidak ada cara pasti yang bisa dilakukan untuk mencegah alergi makanan. Akan tetapi Anda dapat mencegah reaksi dengan menghindari makanan yang menyebabkannya.

Jika anak Anda memiliki kondisi ini, hindari susu dan semua produk olahannya. Selain itu, Anda juga harus lebih cermat untuk melihat setiap label makanan apakah terdapat kandungan-kandungan yang bisa memicu alergi, meskipun di produk tersebut terdapat tulisan ‘milk-free‘ atau ‘non-dairy‘.

 

  1. Anonim. Milk allergy. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/milk-allergy/symptoms-causes/syc-20375101. (Diakses pada 8 Juli 2020).
  2. Anonim. Cow’s milk allergy. https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/ConditionsAndTreatments/cows-milk-allergy. (Diakses pada 8 Juli 2020).
  3. Kerr, Michael. 2020. Milk Allergies (Milk Protein Allergy). https://www.healthline.com/health/allergies/milk#rice-milk. (Diakses pada 8 Juli 2020).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi