Terbit: 3 April 2020
Ditulis oleh: Rhandy Verizarie | Ditinjau oleh: dr. Adrian Setiaji


Alergi makanan adalah suatu kondisi ketika sistem imun ‘salah’ dalam mendeteksi makanan yang masuk ke dalam tubuh. Akibatnya, tubuh merespons makanan tersebut sebagai sesuatu yang berbahaya. Alhasil, tubuh akan melepaskan zat antihistamin yang memunculkan reaksi alergi. Simak informasi lengkap mengenai jenis alergi yang satu ini!

alergi-makanan-doktersehat

Apa Itu Alergi Makanan?

Alergi makanan adalah reaksi atipikal tubuh yang terjadi ketika seseorang mengonsumsi makanan tertentu. Oleh sistem imun, protein yang terkandung di dalam makanan-makanan tersebut dianggap sebagai suatu ‘ancaman’ bagi tubuh. Secara otomatis, sistem imun akan melepaskan senyawa kimia yang disebut histamin sebagai bentuk pertahanan.

Senyawa histamin inilah yang lantas menyebabkan reaksi alergi pada tubuh pengidap alergi yang satu ini. Pada umumnya, reaksi alergi yang muncul pasca mengonsumsi makanan tertentu bersifat ringan, tidak berbahaya, dan dapat mereda setelah beberapa saat. Kendati demikian, kondisi ini tentu saja kan menimbulkan rasa tidak nyaman sehingga harus segera ditangani.

Ciri dan Gejala Alergi Makanan

Alergi jenis ini dapat dikenali melalui sejumlah gejala yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan gejala jenis alergi lainnya. Gejala alergi makanan bisa bersifat ringan, namun bisa juga cukup serius dan membutuhkan penangan medis khusus.

Berikut ini gejala atau ciri-ciri alergi makanan yang perlu Anda ketahui dan waspadai.

1. Gatal

Reaksi alergi akibat pelepasan senyawa histamin di dalam tubuh bisa berupa rasa gatal pada beberapa bagian tubuh, umumnya meliputi:

  • Mata
  • Bibir
  • Telinga
  • Tenggorokan
  • Tangan
  • Kaki

Reaksi gatal ini umumnya langsung muncul beberapa saat setelah konsumsi Anda mengonsumsi makanan yang menjadi pemicu alergi dan bisa berlangsung selama beberapa jam hingga hari, tergantung dari daya tahan tubuh.

2. Hidung Tersumbat

Hidung tersumbat? Mungkin terdengar janggal karena biasanya, hidung tersumbat adalah gejala alergi debu.

Hidung tersumbat memang jarang terjadi pada kasus alergi makanan. Kendati begitu, kondisi ini ternyata juga termasuk salah satu gejala dari alergi yang satu ini.

3. Pembengkakan

Pembengkakan juga lazim terjadi saat seseorang mengalami reaksi alergi ini. Pembengkakan umumnya muncul di bagian-bagian tubuh seperti:

  • Bibir
  • Wajah
  • Kelopak mata

4. Ruam Pada Kulit

Munculnya ruam pada kulit adalah salah satu gejala khas dari jenis alergi yang satu ini. Reaksi alergi dari mengonsumsi makanan tertentu berupa ruam kulit bisa timbul sesaat atau beberapa hari setelah mengonsumsi makanan-makanan tersebut.

Ruam yang muncul pada kulit Anda lazimnya berwarna kemerahan dan disertai bercak (pada beberapa kasus tidak terdapat bercak).

5. Gangguan Pencernaan

Gangguan pencernaan adalah gejala alergi yang sebenarnya jarang terjadi, namun bukan tidak mungkin gejala satu ini akan Anda rasakan sebagai pengidap jenis alergi ini.

Reaksi alergi berupa gangguan pencernaan di antaranya sebagai berikut:

  • Sakit perut
  • Mual
  • Muntah

Kapan Harus Periksa ke Dokter?

Anda disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter apabila mengalami gejala-gejala di atas dan sudah berlangsung dalam waktu yang cukup lama, pun intensitas gejala semakin bertambah tinggi setiap harinya.

Selain itu, pemeriksaan medis juga diperlukan apabila reaksi alergi sudah sampai menyebabkan gejala anafilaksis. Ya, pada beberapa orang, alergi makanan bisa berujung pada kondisi anafilaksis yang sifatnya serius bahkan bisa mengancam keselamatan jiwa. Pasalnya, reaksi anafilaksis ditandai oleh sejumlah gejala yang meliputi:

  • Sesak napas
  • Tekanan darah menurun
  • Hilang kesadaran (pingsan)
  • Pembengkakan di tenggorokan
  • Serangan jantung

Oleh sebab itu, jangan tunda untuk segera mengunjungi dokter apabila Anda mengalami gejala-gejala tersebut agar bisa ditangani lebih lanjut sebelum kondisi semakin bertambah parah.

Penyebab Alergi Makanan

Penyebab alergi makanan adalah adanya reaksi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh terhadap kandungan protein yang terkandung di dalam makanan-makanan tersebut.

Oleh sistem imun, protein dianggap sebagai sesuatu yang membahayakan bagi tubuh. Akibatnya, tubuh akan secara otomatis memproduksi senyawa antibodi bernama immunoglobulin (IgE) guna menghalau protein makanan yang sejatinya tidak berbahaya tersebut.

Aktivitas penolakan ini lantas juga memicu tubuh untuk melepaskan senyawa kimia lainnya yakni histamin, pun sejumlah zat kimia terkait lainnya. Proses terlepasnya histamin tersebutlah yang memunculkan gejala reaksi alergi yang tadi sudah disebutkan.

Faktor Risiko Alergi Makanan

Ada sejumlah faktor risiko yang membuat sistem kekebalan tubuh seseorang menjadi sangat sensitif sampai-sampai ia mengidap jenis alergi yang satu ini.

Faktor-faktor risiko yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  • Usia. Jenis alergi ini lebih rentan untuk dialami oleh usia anak-anak, utamanya anak bayi hingga balita. Hal ini dikarenakan sistem kekebalan tubuh yang belum bisa bekerja secara optimal. Seiring bertambahnya usia dan meningkatnya sistem kekebalan tubuh, risiko alergi umumnya dapat diminimalisir.
  • Riwayat Keluarga. Seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat alergi makanan dimungkinkan untuk mengalami hal yang sama.
  • Mengidap masalah pernapasan. Gangguan pernapasan seperti asma meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami reaksi alergi ini, utamanya peningkatan intensitas gejala sesak napas.
  • Mengidap Jenis Alergi Lain. Mengidap alergi lainnya (alergi debu, alergi cuaca, dsb.) juga membuat seseorang lebih rentan untuk juga mengalami alergi yang satu ini.

Apa Saja Makanan yang Memicu Reaksi Alergi?

Ada beberapa jenis makanan yang umum menjadi pemicu munculnya reaksi alergi atau dalam dunia medis disebut sebagai ‘alergen’. Apa saja jenis makanan tersebut? Berikut informasinya!

1. Telur

Telur adalah salah satu bahan makanan yang umum menimbulkan reaksi alergi, terutama pada anak-anak. Akan tetapi menurut penelitian, 68 persen anak-anak yang mengidap alergi telur akan berhenti mengalami alergi ini ketika memasuki usia 16 tahun.

2. Udang

Selain telur, makanan laut seperti udang juga menjadi pemicu alergi lainnya yang paling umum dialami oleh orang-orang.

Menurut penelitian, munculnya reaksi alergi manakala seseorang mengonsumsi udang dipicu oleh sejumlah protein yang terkandung  di dalamnya yakni:

  • Tropomyosin
  • Arginine kinase
  • Myosin

Akan tetapi, gejala alergi yang muncul pasca mengonsumsi udang hampir sama dengan gejala yang ditimbulkan akibat mengonsumsi udang yang tidak ‘sehat’. Oleh sebab itu, berhati-hatilah apabila mengalami gejala-gejala seperti gatal, bengkak, dan ruam sehabis makan udang. Bila perlu, kunjungi dokter guna dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Baca Juga: Alergi Udang: Penyebab, Gejala, Diagnosis, Pengobatan, dll

3. Ikan

Makanan laut lainnya yang juga berpotensi menyebabkan reaksi alergi adalah ikan, kendati kasusnya lebih jarang ketimbang udang.

Berbeda dengan alergi telur, alergi ikan justru lebih umum dialami oleh orang dewasa. Menurut penelitian, 40 persen kasus alergi ikan terjadi pada mereka yang berusia dewasa.

Gejala utama yang muncul pada alergi makanan yang satu ini adalah mual dan muntah. Sementara pada kasus yang jarang, alergi ikan dapat berujung pada syok anafilaktik sehingga pengidapnya harus segera mendapat pertolongan medis.

4. Susu Sapi

Bahan makanan selanjutnya yang menjadi faktor pemicu alergi adalah susu sapi. Alergi susu sapi umumnya dialami oleh anak bayi dan balita. Akan tetapi, anak bayi yang masih berusia di bawah 6 bulan menjadi kelompok umur yang paling rentan mengalami kondisi ini.

Kabar baiknya, kebanyakan kasus alergi susu sapi pada anak akan berhenti saat anak memasuki usia 3 tahun (persentasenya 90 persen). Oleh karena itu, alergi ini jarang dialami oleh mereka yang sudah berusia dewasa.

5. Kacang-Kacangan

Kacang-kacangan juga tak luput dari bahan makanan yang memicu terjadinya reaksi alergi. Beberapa jenis kacang-kacangan yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  • Almond
  • Hazelnut
  • Kacang mete
  • Walnut
  • Kacang Macadamia
  • Kacang Brazil
  • Kacang pinus
  • Pistasi
  • Kacang tanah

Alergi terhadap kacang juga termasuk alergi terhadap produk-produk yang berbahan dasar kacang seperti selai kacang dan minyak almond.

Anda yang mengidap alergi kacang disarankan untuk menghindari mengonsumsi kacang maupun produk olahannya. Pasalnya, penelitian menunjukkan jika 50 persen kematian yang akibat syok anafilaktik dipicu oleh bahan makanan yang satu ini.

6. Kedelai

Mengonsumsi kedelai, baik dalam bentuk makanan maupun susu kedelai, juga dapat memunculkan reaksi alergi pada sejumlah kalangan, terutama anak bayi dan batita. Menurut penelitan, 0,4 persen kasus alergi kedelai dialami oleh dua kelompok usia tersebut.

Kendati demikian, 70 persen anak-anak yang mengidap alergi kedelai akan terbebas dari alergi tersebut ketika memasuki usia 3 tahun ke atas.

Satu hal yang menarik, sebuah penelitian menemukan fakta bahwa sebagian kecil anak yang mengidap alergi kedelai juga mengalami alergi susu sapi.

7. Gandum

Jenis alergi makanan lainnya yang perlu Anda ketahui adalah alergi gandum. Ya, bahan makanan ini mengandung protein yang juga kerap dianggap oleh tubuh sebagai suatu ancaman berbahaya.

Sama seperti alergi susu, kedelai, dan telur, alergi gandum juga lebih rentan dialami oleh anak-anak yang mana kondisi ini akan berhenti saat anak sudah memasuki usia 10 tahun.

Selain itu, ada beberapa macam bahan makanan lainnya yang—meskipun tidak umum—juga dapat memicu timbulnya reaksi alergi, yaitu:

  • Pisang
  • Persik
  • Alpukat
  • Kiwi
  • Seledri
  • Bawang putih
  • Chamomile
  • Mustard
  • Biji wijen
  • Kelapa
  • Daging merah

Diagnosis Alergi Makanan

Prosedur diagnosis alergi makanan sama seperti prosedur diagnosis jenis alergi lainnya, yaitu terdiri dari wawancara (anamnesis), pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.

1. Anamnesis

Dokter akan meminta pasien untuk menjelaskan keluhan yang dialami. Selain itu, dokter juga akan bertanya seputar riwayat kesehatan, riwayat pemakaian obat-obatan, hingga gaya hidup pasien.

Sesi wawancara (anamnesis) ini akan menghasilkan simpulan awal (hipotesis) yang penting guna menentukan penyebab pasti reaksi alergi dan metode pengobatan yang sesuai.

Pertanyaan-pertanyaan yang umum diajukan oleh dokter adalah:

  • Gejala apa saja yang dirasakan?
  • Sudah berapa lama kondisi ini berlangsung?
  • Apakah pernah mengalami kondisi ini sebelumnya? Jika ya, seberapa sering?
  • Apakah ada anggota keluarga yang juga mengalami kondisi ini?
  • Makanan apa saja yang dikonsumsi sehari-hari?
  • Apakah memiliki alergi obat?

2. Pemeriksaan Fisik

Setelah tahap anamnesis, pasien akan diperiksa kondisi fisiknya dengan memerhatikan sejumlah gejala terkait alergi, seperti ruam pada kulit, mata berair, dan bibir bengkak.

Selain itu, prosedur pemeriksaan fisik standar meliputi pengukuran berat badan, tinggi badan, dan tekanan darah juga akan dilakukan di tahap ini.

3. Pemeriksaan Penunjang

Guna menguatkan hasil diagnosis, sejumlah pemeriksaan penunjang turut dilakukan. Pemeriksaan penunjang ini terdiri dari tes tusuk jarum (skin prick test), tes tempel plester (patch test), tes IgE Total, dan eliminasi diet.

  • Tes Tusuk Jarum (Skin Prick Test)

Dokter akan menusukkan sebuah jarum khusus yang telah diberi ekstrak protein makanan yang dicurigai sebagai pemicu alergi ke kulit pasien.

Hasil tes akan dapat diketahui 15 menit kemudian. Apabila kulit mengalami  iritasi, maka dipastikan pasien memiliki alergi terhadap makanan tersebut.

  • Tes Tempel Plester (Patch Test)

Tes tempel plester atau  patch test adalah tes reaksi alergi lainnya yang umum diterapkan oleh dokter. Tes ini pada dasarnya sama dengan tes tusuk jarum atau skin prick test. Hanya, medium yang digunakan berbeda, yakni plester khusus.

Plester khusus tersebut diberi ekstrak protein alergenkemudian ditempelkan pada kulit dan dibiarkan selama 48 jam tanpa boleh terkena air.

Setelah 48 jam, plester akan dibuka oleh dokter. Jika area kulit yang ditempeli mengalami iritasi, ini menandakan bahwa pasien positif mengalami alergi.

  • IgE Total

Khusus pasien alergi yang kurang atau terlalu sensitif dengan dua tes sebelumnya, dokter akan menempuh metode IgE Total, yakni dengan cara mengambil sampel darah dan memeriksa immunoglobulin di dalamnya, apakah berpotensi memicu reaksi alergi atau tidak.

  • Eliminasi Diet

Saat Anda dan dokter mencurigai suatu makanan, maka dokter akan meminta Anda untuk tidak mengonsumsi makanan yang dicurigai tersebut selama beberapa hari atau minggu.

Jika setelah periode tersebut ternyata Anda tidak mengalami reaksi alergi, maka bisa jadi ini menunjukkan jika Anda alergi terhadap makanan yang dimaksud. Kendati demikian, tes ini tidak serta merta dapat menguatkan diagnosis sehingga perlu ditunjang oleh pemeriksaan lainnya.

Pengobatan Alergi Makanan

Pengobatan alergi makanan disesuaikan dengan faktor penyebabnya. Pada umumnya, pengobatan alergi meliputi:

1. Pengobatan di Rumah

Pengobatan di rumah dapat dilakukan dengan sejumlah tips berikut ini:

  • Tidak mengonsumsi makanan pemicu alergi.
  • Menjaga kebersihan alat makan.
  • Mengonsumsi obat alergi makanan untuk meredakan gejala alergi seperti gatal, ruam, dan bengkak. Contoh obat yang sering digunakan adalah Clemastine, Fexofenadine, dan Hydroxyzine.

2. Pengobatan Medis

Pengobatan secara medis dilakukan apabila reaksi alergi yag ditimbulkan tergolong parah dan bisa membahayakan nyawa penderitanya.

Prosedur penanganan reaksi alergi parah yang umum dilakukan adalah sebagai berikut:

  • Injeksi epinefrin (EpiPen, Auvi-Q, Twinjet).
  • Rawat inap.

 

  1. Anonim. Food Alergy – Diagnosis and Treatment. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/food-allergy/diagnosis-treatment/drc-20355101 (Diakses pada 3 April 2020)
  2. Anonim. Common Food Allergy Triggers. https://www.webmd.com/allergies/food-triggers#1 (Diakses pada 3 April 2020)
  3. Newman, T. 2017. Eight common food allergies: Causes, symptoms, and triggers. https://www.medicalnewstoday.com/articles/8624 (Diakses pada 3 April 2020)
  4. West, H. 2017. The Most 8 Common Food Allergies. https://www.healthline.com/nutrition/common-food-allergies (Diakses pada 3 April 2020)



DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi