Terbit: 10 November 2020
Ditulis oleh: Rhandy Verizarie | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Pada beberapa orang, bahan lateks dapat memicu terjadinya reaksi alergi. Simak informasi lengkap mengenai jenis alergi yang satu ini mulai dari gejala, penyebab, faktor risiko, hingga pengobatannya.

Alergi Lateks: Gejala, Penyebab, Pengobatan, dll

Apa Itu Alergi Lateks?

Alergi lateks adalah satu dari sekian macam jenis alergi. Alergi ini terjadi terjadi akibat adanya kontak langsung antara kulit dengan lateks. Lateks (latex) sendiri merupakan bahan yang terbuat dari getah pohon karet. Biasanya, lateks digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan sejumlah produk, antara lain:

  • Kondom
  • Sepatu
  • Jas hujan
  • Pakaian dalam
  • Dot bayi
  • Sarung tangan medis
  • Penghapus
  • Balon

Alergi latex akan membuat penderitanya mengalami sejumlah gejala di kulit seperti gatal, ruam, dan eksim. Pada beberapa orang, kondisi medis ini bahkan memicu gejala lainnya semisal sesak napas dan muntah. Sama seperti jenis alergi lainnya, alergi lateks bisa bersifat ringan dan tidak memerlukan penanganan khusus, namun bisa juga serius hingga membutuhkan pertolongan medis.

Jenis Alergi Lateks

Berdasarkan tingkat keparahannya, alergi ini terbagi menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu:

  • Dermatitis iritan, adalah jenis reaksi alergi yang tergolong ringan dan tidak berbahaya. Gatal, ruam, dan sensasi seperti terbakar pada kulit menjadi ciri-ciri dari reaksi ini.
  • Dermatitis kontak alergi, merupakan reaksi yang secara gejala mirip seperti dermatitis iritan, namun tingkat keparahannya lebih tinggi.
  • Hipersensitivitas lateks, adalah bentuk reaksi tubuh terhadap paparan bahan tersebut yang terbilang serius karena meliputi konjungtivitis dan gatal yang intens. Bahkan, pada beberapa kasus yang jarang, kondisi ini sampai menyebabkan tremor, peningkatan detak jantung, hingga sesak napas.

Ciri dan Gejala Alergi Lateks

Saat terpapar bahan latex, seseorang yang alergi terhadap bahan ini akan merasakan sejumlah ciri dan gejala berikut ini:

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Kids Baby - Advertisement

  • Gatal
  • Ruam
  • Eksim
  • Pembengkakan kulit, bibir, dan lidah

Pada tingkatan berikutnya, alergi akan memicu terjadinya gejala berupa:

  • Bersin
  • Batuk
  • Hidung tersumbat
  • Mata berair dan gatal
  • Tenggorokan gatal
  • Mengi (suara berdecit saat bernapas)
  • Sesak napas

Alergi juga mungkin saja menyebabkan reaksi tubuh yang dikenal sebagai anafilaksis. Gejalanya meliputi:

  • Mual dan muntah
  • Kepala pusing
  • Penurunan tekanan darah (hipotensi)
  • Peningkatan atau penurunan detak jantung
  • Kebingungan
  • Hilang kesadaran

Kapan Harus Periksa ke Dokter?

Beberapa tanda dan gejala alergi lateks mirip dengan flu biasa. Terkadang memang jadi sulit untuk mengetahui apakah hal tersebut berkaitan dengan flu atau alergi. Namun, apabila gejala terus berlanjut selama lebih dari dua minggu, kemungkinan besar Anda memiliki alergi latex. Terlebih lagi jika Anda memang sering kontak dengan bahan ini.

Segera periksakan diri ke dokter apabila memang ini yang Anda alami. Menjadi semakin jelas jika kemudian muncul gejala anafilaksis. Jika sudah begitu, maka pertolongan medis harus secepatnya diberikan karena risikonya sampai bisa mengancam keselamatan jiwa.

Penyebab Alergi Lateks

Alergi terjadi ketika sistem kekebalan tubuh Anda bereaksi terhadap zat asing—dalam kasus ini—yakni bahan lateks. Sistem kekebalan lantas menghasilkan protein yang dikenal sebagai antibodi. Antibodi ini melindungi Anda dari benda asing yang dapat membuat Anda sakit.

Ketika Anda memiliki alergi, sistem kekebalan membuat antibodi yang mengidentifikasi alergen sebagai sesuatu yang berbahaya, meskipun sebenarnya tidak. Sistem kekebalan memberikan respons yang berujung peradangan pada kulit. Inilah mengapa setelah mengalami kontak dengan bahan latex, entah itu sarung tangan atau alat kontrasepsi berupa kondom.

Lantas, apa yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh ‘salah’ dalam mengidentifikasi zat asing yang masuk ke dalam tubuh? Perihal tersebut, hingga saat ini para ahli pun belum dapat memastikannya.

Faktor Risiko Alergi Lateks

Ada sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengidap alergi ini. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:

  • Tenaga medis. Sekitar 5-10 persen tenaga medis menderita alegi latex.
  • Pekerja pabrik lateks. Adanya kontak langsung dengan bahan latex setiap hari meningkatkan risiko pekerja pabrik yang memproduksi bahan ini mengalami reaksi alergi.
  • Menderita spina bifida. Siapa sangka, risiko alergi ini yang paling tinggi ada pada orang dengan spina bifida. Ini merupakan kondisi cacat lahir yang memengaruhi perkembangan tulang belakang. Pasalnya, orang dengan kelainan ini sering terpapar produk lateks saat menjalani perawatan kesehatan.
  • Menjalani operasi dan tindakan medis lainnya. Mereka yang harus bolak-balik menerima tindakan operasi maupun tindakan medis lainnya juga berpotensi mengalami alergi. Lagi-lagi, ini karena adanya kontak berulang dengan bahan latex tersebut.
  • Keturunan (Genetik). Seseorang sangat mungkin untuk mengidap alergi ini apabila ada salah satu anggota keluarganya yang mengalami hal sama.

Menariknya, orang yang mengidap alergi latex juga kemungkinan akan mengalami hal yang sama manakala ia mengonsumsi sejumlah makanan berikut ini:

  • Pisang
  • Alpukat
  • Kiwi
  • Wortel
  • Seledri
  • Chestnut
  • Kentang
  • Melon
  • Tomat
  • Apel
  • Stroberi
  • Plum

Diagnosis Alergi Lateks

Dalam mendiagnosis alergi ini, dokter akan melakukan pemeriksaan medis yang meliputi:

  • Anamnesis
  • Pemeriksaan fisik
  • Pemeriksaan penunjang

1. Anamnesis

Anamnesis adalah tahap di mana dokter akan mewawancarai pasien guna mengidentifikasi penyebab dari keluhan pasien. Pertanyaan biasanya seputar gejala, riwayat medis keluarga, riwayat penyakit, dan gaya hidup.

Sampaikan informasi sejelas mungkin pada dokter. Informasi yang jelas membantu dokter dalam memastikan kondisi yang Anda alami.

2. Pemeriksaan Fisik

Setelah sesi anamnesis, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik ini dengan memerhatikan sejumlah gejala umum dari alergi, seperti mata merah, ruam pada kulit, hingga pembengkakan pada sejumlah bagian tubuh.

3. Pemeriksaan Penunjang

Guna memastikan apakah Anda memang benar-benar menderita alergi, dokter juga akan melakukan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang meliputi:

  • Skin Prick Test (Tes Tusuk Jarum)

Skin prick test adalah tes dengan menusukkan sebuah jarum kecil atau lanset pada daerah lengan, kemudian dokter akan meneteskan ekstrak alergen pada area tusukan tersebut. Biasanya, tusukan dilakukan beberapa kali di tempat yang berbeda. Apabila muncul kemerahan dan ruam pada kulit, hasil tes terkonfirmasi positif.

  • Patch Test (Tes Tempel Plester)

Patch test adalah tes reaksi alergi yang dengan cara menempelkan plester berisi ekstrak alergen. Pasien diminta untuk menggunakan plester tersebut selama 48 jam dan tidak boleh terkena air atau aktivitas yang menyebabkan keringat berlebih.

Setelah itu, dokter akan mencabut plester tersebut. Kulit yang ruam dan kemerahan menunjukkan pasien positif menderita alergi.

  • IgE Total

Saat bereaksi dengan alergen, tubuh akan mengeluarkan Imunoglobulin E yang dapat kita nilai untuk mengetahui adanya reaksi alergi atau tidak. Pemeriksaan IgE ini akan menggunakan sampel darah sebagai bahan analisis.

Pengobatan Alergi Lateks

Pengobatan atau perawatan alergi lateks yang pertama kali harus Anda lakukan adalah menghindari faktor pemicunya, dalam hal ini yaitu barang-barang berbahan latex itu sendiri. Selain itu, dokter juga akan memberikan Anda sejumlah obat-obatan.

Obat-obatan tersebut meliputi:

  • Antihistamin
  • Kortikosteroid
  • Dekongestan
  • Leukotriene

Pada beberapa kasus, dokter bisa saja akan menyarankan Anda untuk menjalani terapi imun guna menyesuaikan sensitivitas sistem kekebalan tubuh terhadap zat asing.

Pencegahan Alergi Lateks

Apabila Anda berpotensi untuk mengidap alergi ini, maka cara mencegah adalah dengan tidak menggunakan segala jenis produk yang terbuat dari bahan tersebut. 

 

  1. Anonim. Latex Allergies. https://www.webmd.com/allergies/latex-allergies (accessed on 10 November 2020)
  2. Anonim. Latex Allergy. https://acaai.org/allergies/types/latex-allergy#:~:text=In%20most%20cases%2C%20latex%20allergy,exposure%20to%20latex%20containing%20products  (accessed on 10 November 2020)
  3. Anonim. Latex Allergy. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/latex-allergy/symptoms-causes/syc-20374287 (accessed on 10 November 2020)
  4. Kerr, M. 2018. Latex Allergy. https://www.healthline.com/health/allergies/latex#products (accessed on 10 November 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi