Terbit: 6 Juli 2020
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: dr. Eko Budidharmaja

Alergi kedelai adalah kondisi yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menganggap protein dalam kacang kedelai sebagai zat berbahaya sehingga menghasilkan antibodi dan histamin untuk melawannya. Ketahui penyebab, gejala, dan pengobatannya di bawah ini!

Alergi Kedelai: Penyebab, Gejala, Cara Mengobati, dll

Penyebab Alergi Kedelai

Saat mengonsumsi makanan atau minuman berbahan kedelai, sistem imun mengidentifikasi protein kedelai tertentu sebagai zat berbahaya, yang dapat memicu produksi antibodi imunoglobulin E (IgE) terhadap protein kedelai (alergen).

Ketika kembali mengonsumsi produk kedelai, antibodi IgE mengenalinya dan memberikan sinyal pada sistem imun untuk melepaskan histamin dan zat kimia lainnya ke dalam aliran darah.

Alergi kedelai juga menyebabkan food protein-induced enterocolitis syndrome (FPIES) atau sindrom enterocolitis yang diinduksi protein makanan. Reaksi alergi biasanya terjadi dalam beberapa jam setelah makan makanan pemicu. FPIES biasanya sembuh seiring waktu.

Selain itu, berikut beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko alergi kedelai:

  • Usia. Alergi paling sering terjadi pada anak-anak, terutama balita dan bayi di bawah usia 3 tahun. Sebagian besar reaksi alergi terjadi sampai usia 10 tahun. Alergi juga dapat terjadi pada orang dewasa.
  • Riwayat keluarga. Seseorang berisiko lebih tinggi mengalami alergi atau makanan lain jika memiliki anggota keluarga yang memiliki alergi lain seperti demam, asma, gatal-gatal atau eksim.
  • Alergi lainnya. Terkadang orang yang alergi gandum, kacang-kacangan, susu, atau makanan lain juga dapat memiliki reaksi alergi kedelai.

Makanan yang Mengandung Kedelai sebagai Penyebab Alergi

Produk berbahan kedelai seperti minyak kedelai yang sangat murni tidak menimbulkan reaksi karena tidak mengandung protein kedelai. Begitu juga makanan yang mengandung lesitin kedelai. Lesitin adalah pengemulsi alami yang sering digunakan untuk makanan.

Berikut ini sejumlah makanan berbahan kedelai yang dapat memicu alergi:

  • Susu kedelai
  • Keju kedelai
  • Es krim kedelai
  • Yoghurt kedelai
  • Tahu
  • Tempe
  • Tepung kedelai
  • Kecap

Selain itu, berikut beberapa bahan terbuat dari kedelai yang terdapat dalam makanan olahan:

  • Glycine maks
  • Hydrolyzed vegetable protein (HVP)
  • Textured vegetable protein (TVP)
  • Monosodium glutamate (MSG)
  • Monodiglyceride
  • Protein nabati terhidrolisis
  • Penyedap buatan
  • Penyedap alami

Gejala Alergi Kedelai

Biasanya alergi kacang ini menyebabkan ketidaknyamanan, dari yang ringan hingga berat atau bahkan bisa mengancam jiwa. Tanda dan gejala alergi makanan muncul dalam beberapa menit sampai beberapa jam setelah makan makanan yang mengandung kedelai.

Berikut ini sejumlah gejala atau efek alergi kedelai:

  • Gatal-gatal dan kemerahan di kulit
  • Mulut gatal
  • Pembengkakan pada bibir, wajah, lidah, tenggorokan, atau bagian tubuh lainnya
  • Sesak napas
  • Mual
  • Muntah
  • Sakit perut
  • Diare

Meski jarang, efek alergi kedelai menimbulkan gejala syok anafilaksis yang dapat menyebabkan tanda dan gejala lebih ekstrem atau mengancam nyawa, di antaranya:

  • Sesak napas yang disebabkan pembengkakan tenggorokan.
  • Denyut nadi terasa cepat.
  • Syok akibat penurunan tekanan darah yang drastis.
  • Pusing atau kehilangan kesadaran.

Baca Juga: Alergi Makanan: Gejala, Penyebab, Diagnosis, Pengobatan, dll

Cara Mengatasi Alergi Kedelai

Tidak ada obat untuk mengatasi alergi kedelai. Namun, satu-satunya cara terbaik untuk mencegah reaksi alergi adalah dengan menghindari konsumsi produk berbahan kacang ini.

Adapun pengobatannya untuk mengurangi gejala alergi dan perubahan gaya hidup, di antaranya:

1. Obat-obatan

Adapun obat-obatan seperti antihistamin, dapat mengurangi tanda dan gejala alergi kedelai minor. Mengonsumsi antihistamin setelah makan makanan berbahan kedelai dapat mengendalikan reaksi dan membantu meringankan gejala.

Berikut beberapa golongan obat antihistamin:

  • Diphenhydramine
  • Chlorpheniramine
  • Cetirizine
  • Loratadine.

Jika memiliki reaksi alergi yang serius, penderita alergi mungkin memerlukan suntikan epinephrine darurat atau segera dapatkan perawatan di ruang gawat darurat (IGD).

2. Perubahan Gaya Hidup dan Pengobatan di Rumah

Jika berisiko mengalami reaksi parah atau pernah mengalami reaksi alergi kedelai:

  • Selalu membawa epinephrine suntik (EpiPen, Auvi-Q, atau lainnya) ke mana pun pergi. Pastikan tahu kapan dan bagaimana cara menggunakan epinephrine portabel.
  • Menggunakan gelang peringatan medis untuk memberi tahu orang lain tentang alergi Anda.

3. Perawatan Dokter

Jika Anda atau anak mengalami gejala anafilaksis, seperti sesak napas atau denyut nadi yang cepat dan lemah, segera dapatkan pengobatan darurat medis atau perawatan di unit gawat darurat (UGD).

Sedangkan untuk gejala yang tidak terlalu parah, segera pergi ke dokter. Dalam beberapa kasus, penderita alergi mungkin dirujuk ke dokter spesialis dalam diagnosis dan perawatan penyakit alergi.

Berikut ini beberapa informasi untuk membantu Anda bersiap-siap dan untuk mengetahui apa yang diharapkan dari dokter Anda.

4. Potensi Perawatan di Masa Depan

Ada sejumlah perawatan yang teruji secara klinis, perawatannya termasuk imunoterapi oral dan imunoterapi sublingual untuk meningkatkan toleransi terhadap makanan yang menyebabkan reaksi alergi.

Baca Juga: 12 Obat Gatal Alergi yang Alami, Cepat, dan Ampuh!

Cara Mengelola Alergi Kedelai

Berikut ini beberapa cara mengelola dan mencegah efek alergi kedelai ketika di dalam atau luar rumah:

  • Mengetahui makanan berbahan kedelai. Memastikan tahu makanan atau minuman yang terbuat dari kedelai.
  • Memeriksa komposisi dalam kemasan makanan. Selalu memeriksa label bahan sebelum membeli atau menggunakan produk, bahkan jika makanan itu aman terakhir kali dikonsumsi. Produsen mungkin mengubah resep dan makanan yang mengandung kedelai dapat ditambahkan ke dalam resep makanan.
  • Jangan menerima makanan dari teman. Mengajari anak-anak penderita alergi untuk tidak mendapatkan makanan dari teman sekelas atau teman, terutama yang mengandung kedelai.
  • Cara makan di restoran. Selalu bertanya secara terperinci tentang bahan-bahan dan bagaimana makanan disiapkan kepada pramusaji atau koki restoran.
  • Menggunakan gelang medis. Selalu memakai gelang peringatan medis dengan informasi tentang alergi atau membawa kartu peringatan.
  • Mempersiapkan cara rekreasi. Sebelum rekreasi, terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter tentang bagaimana cara mencegah atau mengatasi alergi ketika rekreasi. Reaksi ringan dapat diobati dengan antihistamin oral. Dokter mungkin meresepkan epinephrine yang dapat disuntikkan sendiri untuk dibawa setiap saat jika Anda memiliki reaksi yang parah.

 

  1. Anonim. Tanpa Tahun. Soy Allergy. https://www.jaxallergy.com/allergy-treatments/food-allergies/soy-allergy/. (Diakses pada 6 Juli 2020)
  2. Anonim. 2018. Soy Allergy: Management and Treatment. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/11320-soy-allergy/management-and-treatment. (Diakses pada 6 Juli 2020)
  3. Kerr, Michael dan Valencia H. 2018. Soy Allergy. https://www.healthline.com/health/allergies/soy. (Diakses pada 6 Juli 2020)
  4. Mayo Clinic Staff. 2020. Soy Allergy. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/soy-allergy/symptoms-causes/syc-20377802. (Diakses pada 6 Juli 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi