Terbit: 6 Agustus 2016 | Diperbarui: 9 Juni 2021
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Alergi adalah kondisi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi tidak normal terhadap zat tertentu. Reaksi ini menimbulkan gejala iritasi ringan hingga anafilaksis, kondisi darurat yang berpotensi mengancam jiwa! Selengkapnya ketahui definisi, gejala, penyebab, pengobatan, hingga pencegahannya!    

Alergi: Gejala, Penyebab, Diagnosis, Pengobatan, Pencegahan, dll

Apa yang Dimaksud dengan Alergi?

Alergi adalah kondisi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi terhadap sesuatu yang biasanya tidak berbahaya. Pemicu hipersensitivitas yang disebut alergen, termasuk serbuk sari, jamur, bulu binatang, makanan tertentu, dan hal-hal yang mengiritasi kulit. Ketika bersentuhan dengan alergen, reaksi sistem kekebalan menyebabkan kulit gatal, bersih, atau sesak napas.

Alergi sangat umum terjadi, setidaknya 1 dari 5 orang memiliki satu jenis alergi. Ini juga diturunkan secara genetik, namun tidak harus selalu dalam bentuk yang sama, misalnya ayah hipersensitivitas terhadap makanan tertentu seperti telur, anaknya bisa juga memiliki hipersensitivitas bentuk lain. Itulah pengertian alergi perlu anda ketahui, lebih lanjut simak gejala hingga pencegahannya

Tanda dan Gejala Alergi

Gejala yang terjadi tergantung dengan paparan alergen, seperti melalui udara, saluran hidung, kontak dengan kulit, makanan, sengatan serangga, atau saluran pencernaan. Reaksi alergi biasanya terjadi dengan cepat dalam beberapa menit setelah terkena alergen.

Reaksi hipersensitivitas dapat berkisar dari yang ringan hingga berat. Sebagian gejala hilang tak lama setelah paparan berhenti. Dalam beberapa kasus yang parah, hipersensitivitas dapat memicu reaksi yang mengancam jiwa (anafilaksis). 

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Cetaphil Promo - Advertisement

1. Alergi Serbuk Bunga

Ini duga disebut hay fever atau rinitis alergi, yang dapat menyebabkan:

  • Bersin.
  • Gatal pada hidung, mata, atau langit-langit mulut.
  • Hidung berair dan tersumbat.
  • Mata berair, merah, atau bengkak (konjungtivitis).

2. Alergi Makakan

Alergen dari makanan tertentu dapat menimbulkan gejala berikut:

  • Kesemutan di mulut.
  • Pembengkakan pada bibir, lidah, wajah, atau tenggorokan.
  • Gatal-gatal.
  • Anafilaksis.
  • Hipersensitivitas sengatan serangga
  • Gejala hipersensitivitas sengatan serangga tertentu, meliputi:
  • Pembengkakan yang luas (edema) di tempat yang tersengat.
  • Bentol atau gatal-gatal di sekujur tubuh.
  • Batuk, sesak dada, mengi, atau sesak napas.
  • Anafilaksis.

3. Alergi Obat

Hipersensitivitas terhadap obat-obatan tertentu dapat menyebabkan:

  • Pembengkakan di wajah.
  • Bentol.
  • Kulit yang gatal.
  • Ruam.
  • Mengi.
  • Anafilaksis.

4. Dermatitis Atopik

Ini adalah kondisi kulit alergi yang juga disebut eksim. Berikut gejalanya:

  • Gatal.
  • Kulit kemerahan.
  • Kulit mengelupas.

Kapan Waktu yang Tepat Harus ke Dokter?

Segera ke dokter jika Anda atau anak mungkin memiliki reaksi alergi terhadap sesuatu. Gejalanya juga bisa terjadi akibat kondisi lain.

Dokter umum dapat membantu menentukan apakah kemungkinan Anda memiliki kondisi ini. Jika Anda memiliki kondisi ini dalam kategori ringan, dokter dapat memberikan saran dan perawatan untuk membantu mengelola kondisi tersebut.

Jika sangat parah atau tidak jelas apa yang menyebabkannya, dokter mungkin akan merujuk ke spesialis alergi untuk melakukan pengujian dan saran pengobatan.

Baca Juga: Alergi Makanan: Gejala, Penyebab, Diagnosis, Pengobatan, dll

Reaksi Anafilaksis

Reaksi alergi yang paling parah atau anafilaksis, dapat memengaruhi seluruh tubuh. Berikut ini gejalanya:

  • Gatal-gatal dan kemerahan di seluruh tubuh.
  • Mengi (napas berbunyi “ngik-ngik”) atau sesak napas.
  • Suara serak atau sesak di tenggorokan.
  • Kesemutan di tangan, kaki, bibir, atau kulit kepala.

Anafilaksis dapat mengancam nyawa, sehingga harus segera ke unit gawat darurat (UGD). Ini memerlukan perawatan medis yang tepat setelah dokter memberikan suntikan pereda anafilaksis (epinefrin), bahkan jika gejala berhenti, karena reaksi yang tertunda masih bisa terjadi.

Penyebab Alergi

Berdasarkan definisi alergi yang sebelumnya sudah dijelaskan, kondisi ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi secara tidak normal atau salah mengira zat yang biasanya tidak berbahaya. Sistem kekebalan tubuh kemudian menghasilkan antibodi yang tetap waspada terhadap alergen tertentu.

Ketika tubuh terkena alergen lagi, antibodi ini dapat melepaskan sejumlah bahan kimia sistem kekebalan tubuh, seperti histamin, yang menyebabkan sejumlah gejalanya.

Beberapa penyebab yang paling umum, meliputi:

  • Alergen udara: Serbuk sari, tungau debu, bulu binatang, dan jamur.
  • Makanan tertentu: Ini terutama kacang tanah, kacang pohon, kedelai, gandum, telur, susu, ikan, dan kerang.
  • Sengatan serangga: Serangga yang menyengat, seperti lebah, tawon, atau serangga menyengat lainnya.
  • Obat-obatan: Terutama penisilin atau antibiotik berbasis penisilin.
  • Alergen lainnya: Lateks atau zat lain yang Anda sentuh dapat menyebabkan reaksi ini pada kulit.

Faktor Risiko Alergi

Orang dengan kondisi tertentu lebih berisiko mengembangkan kondisi ini, termasuk:  

  • Memiliki keluarga dengan riwayat asma atau alergi, seperti demam, gatal-gatal atau eksim.
  • Anak-anak.
  • Memiliki asma atau kondisi alergi lainnya.

Diagnosis Alergi

Jika Anda atau anak merasa mungkin memiliki kondisi ini, dokter akan membantu mencari tahu apa yang menyebabkan reaksi tersebut. Dokter mungkin akan menanyakan gejala yang Anda rasakan, kapan dan seberapa sering terjadi,

kemungkinan pemicunya, dan riwayat keluarga.Dokter mungkin menganjurkan beberapa tes atau merujuk Anda ke dokter spesialis.

Berikut ini beberapa tes untuk alergi:

  • Tes darah: Ini untuk mengukur kadar antibodi imunoglobulin E (IgE) terhadap alergen spesifik dalam sistem kekebalan tubuh Anda.
  • Tes tusukan kulit: Dokter akan menusuk kulit dengan sedikit kemungkinan alergen. Jika kulit bereaksi dan menjadi merah, gatal, atau bengkak, orang tersebut mungkin memiliki hipersensitivitas terhadap zat.
  • Tes tempel: Untuk memeriksa dermatitis kontak, dokter mungkin akan menempelkan cakram logam dengan sedikit alergen yang dicurigai ke punggung. Dokter akan memeriksa reaksi kulit setelah 48 jam, dan kemudian lagi setelah 2 hari.

Baca Juga: Tes Alergi: Jenis, Prosedur, Biaya, dll

Pengobatan Alergi

Perawatannya tergantung pada alergen yang menimbulkan gejala. Dalam kebanyakan kasus, dokter akan memberikan saran dan pengobatan. Dokter akan memberitahu pasien tentang langkah-langkah untuk menghindari paparan zat tertentu yang menjadi pemicu, dan menganjurkan obat-obatan untuk mengatasi gejala.

Berikut ini beberapa perawatan untuk alergi:

1. Menghindari Alergen

Dokter akan membantu Anda mengambil langkah-langkah untuk mengidentifikasi dan menghindari pemicunya. Ini umumnya merupakan langkah paling penting dalam pencegahan dan mengurangi gejala.

2. Obat-obatan

Obat-obatan dapat membantu mengurangi reaksi sistem kekebalan tubuh dan meredakan gejala. Dokter mungkin menganjurkan obat bebas atau resep dalam bentuk pil atau cairan, semprotan hidung, atau obat tetes mata.

3. Imunoterapi

Untuk alergi parah atau yang tidak sepenuhnya hilang dengan pengobatan lain, dokter mungkin menyarankan imunoterapi alergen. Perawatan ini dengan serangkaian suntikan ekstrak alergen murni, pemberian biasanya selama beberapa tahun.

Sediaan lain dari imunoterapi adalah tablet yang diletakkan di bawah lidah (sublingual) sampai larut. Obat sublingual untuk mengobati beberapa hipersensitivitas terhadap serbuk sari.

4. Epinefrin Darurat

Jika memiliki hipersensitivitas yang parah, Anda mungkin harus selalu membawa suntikan epinefrin darurat. Suntikan epinefrin dapat mengurangi gejala sampai mendapatkan perawatan darurat.

Baca Juga: Alergi Sperma: Gejala, Penyebab, Pengobatan, dll

Komplikasi Alergi

Memiliki kondisi ini meningkatkan risiko masalah medis tertentu lainnya, termasuk:

  • Anafilaksis. Jika memiliki hipersensitivitas yang parah terhadap zat, Anda berisiko lebih tinggi mengalami anafilaksis. Makanan, obat-obatan, dan sengatan serangga adalah pemicu anafilaksis yang paling umum.
  • Asma. Hipersensitivitas terhadap zat lebih mungkin menderita asma – reaksi sistem kekebalan tubuh yang memengaruhi saluran udara dan pernapasan. Dalam banyak kasus, asma terjadi akibat paparan alergen di lingkungan.
  • Sinusitis dan infeksi pada telinga atau paru-paru. Risiko terkena kondisi ini lebih tinggi jika menderita demam atau asma.

Pencegahan Alergi

Tidak ada cara untuk mencegah atau menyembuhkannya, tetapi mungkin untuk mencegah reaksi atau mengelola gejala akibat sistem kekebalan tubuh bereaksi.

Berikut ini beberapa langkah orang yang berisiko mengalami reaksi alergi:

  • Mengambil tindakan untuk menghindari paparan alergen yang Anda ketahui.
  • Membawa dua injektor otomatis dan mengetahui cara menggunakannya dengan benar.
  • Mempertimbangkan untuk mengenakan gelang identifikasi medis dengan rincian alergi.
  • Melakukan tes untuk mengetahui zat mana yang harus Anda hindari.

 

  1. Anonim. 2018. Allergies. https://www.nhs.uk/conditions/allergies/ (Diakses pada 9 Juni 2021)
  2. Felman, Adam. 2020. Everything you need to know about allergies. https://www.medicalnewstoday.com/articles/264419 (Diakses pada 9 Juni 2021)
  3. Krans, Brian dan Kimberly H. 2018. Everything You Need to Know About Allergies. https://www.healthline.com/health/allergies (Diakses pada 9 Juni 2021)
  4. Mayo Clinic Staff. 2020. Allergies. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/allergies/symptoms-causes/syc-20351497 (Diakses pada 9 Juni 2021)


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi