Terbit: 19 Oktober 2020
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Alergi antibiotik adalah reaksi abnormal sistem kekebalan tubuh terhadap obat antibiotik. Reaksi parah yang bisa muncul adalah anafilaksis, suatu keadaan yang mengancam jiwa karena bisa memengaruhi banyak sistem tubuh. Simak penjelasan lengkap mengenai gejala hingga cara mengatasinya.

Alergi Antibiotik: Gejala, Risiko, dan Cara Mengatasi

Apa Itu Alergi Antibiotik?

Efek samping antibiotik dapat berkisar dari reaksi alergi ringan hingga efek samping yang parah. Namun, beberapa efek samping dapat mengganggu kemampuan Anda untuk menyelesaikan pengobatan.

Sangat penting untuk tidak mengabaikan alergi terhadap antibiotik. Reaksi alergi bisa terjadi segera atau hanya dalam beberapa jam setelah mengonsumsi obat ini, bahkan reaksi bisa memakan waktu hingga dua minggu setelah menghabiskan obat.

Oleh karena itu, pastikan untuk mendapatkan bantuan tenaga profesional jika Anda mengalami gejala alergi selama atau dalam beberapa minggu setelah penggunaan antibiotik.

Gejala Alergi Antibiotik

Tanda dan gejala alergi sering kali muncul dalam waktu satu jam setelah mengonsumsi obat. Pada kasus yang jarang, reaksi dapat terjadi beberapa hari atau minggu kemudian.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Sensodyne - Advertisement

Berikut adalah beberapa efek samping yang umum terjadi saat mengonsumsi antibiotik, apa pun kelas atau jenisnya. Efek samping ini mungkin termasuk:

  • Ruam kulit
  • Gatal-gatal
  • Demam
  • Pembengkakan
  • Sesak napas
  • Pilek
  • Mata gatal dan berair
  • Anafilaksis
  • Diare
  • Infeksi jamur pada vagina atau mulut
  • Komplikasi dari penggunaan antibiotik intravena (phlebitis)

Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter?

Segera temui dokter jika Anda mengalami tanda atau gejala alergi antibiotik seperti penjelasan sebelumnya. Penting untuk memahami dan mendiskusikan reaksi alergi, apa efek samping yang khas, dan toleransi dalam minum obat.

Segera cari bantuan medis jika Anda mengalami tanda-tanda reaksi parah atau dugaan anafilaksis setelah mengonsumsi antibiotik.

Apakah Penggunaan Antibiotik Harus Dihentikan saat Muncul Efek Samping?

Jika Anda mengalami efek samping antibiotik yang mengganggu atau serius, Anda harus konsultasi dengan tenaga medis profesional untuk mendiskusikan gejalanya. Biasanya, Anda akan disarankan untuk:

  • Tetap menggunakan antibiotik yang sama dan mengelola efek sampingnya
  • Mengatur dosis
  • Beralih ke antibiotik lain

Pada beberapa kasus, pengobatan antibiotik tidak boleh berhenti tanpa persetujuan dokter. Menghentikan antibiotik lebih awal dapat memperburuk infeksi dan dapat menyebabkan resistensi antibiotik serta membuat antibiotik kurang efektif.

Bahkan, jika infeksi tampaknya telah sembuh sebelum semua obat habis, konsumsi antibiotik lengkap harus selalu habis kecuali jika dokter menyarankan sebaliknya.

Faktor Risiko Alergi Antibiotik

Siapa pun dapat mengalami reaksi alergi terhadap antibiotik, berikut beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko, antara lain:

  • Riwayat alergi lain, seperti alergi makanan atau alergi serbuk sari.
  • Reaksi alergi terhadap obat lain.
  • Riwayat alergi obat dalam keluarga.
  • Peningkatan paparan antibiotik, bisa karena dosis tinggi, penggunaan berulang, atau penggunaan jangka waktu lama.
  • Penyakit tertentu yang umumnya terkait dengan reaksi alergi obat, seperti infeksi HIV atau virus Epstein-Barr.

Cara Mengatasi Alergi Antibiotik

Pada dasarnya, perawatan terbagi menjadi dua strategi. Perawatan untuk mengatasi gejala yang muncul dan desensitisasi terhadap antibiotik.

Mengatasi Gejala

Gejala alergi dari antibiotik beraneka ragam. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat digunakan untuk mengatasi reaksi alergi terhadap antibiotik:

  • Withdrawal of the drug. Jika dokter menduga bahwa Anda memiliki alergi, menghentikan obat adalah langkah pertama dalam pengobatan.
  • Antihistamin. Dokter mungkin merekomendasikan antihistamin seperti diphenhydramine yang dapat memblokir bahan kimia dari sistem kekebalan yang aktif selama reaksi alergi.
  • Kortikosteroid. Obat kortikosteroid oral atau suntikan dapat berguna untuk mengobati peradangan yang terkait dengan reaksi yang lebih serius.
  • Pengobatan anafilaksis. Anafilaksis membutuhkan suntikan epinefrin dengan segera dan perawatan untuk menjaga tekanan darah serta mendukung pernapasan.

Desensitisasi Obat

Apabila tidak ada pilihan pengobatan antibiotik lain yang sesuai, dokter mungkin merekomendasikan perawatan yang disebut desensitisasi obat, kondisi yang mengharuskan Anda menggunakan antibiotik dalam dosis yang sangat kecil.

Sementara itu, peningkatan dosis semakin besar setiap 15-30 menit selama beberapa jam atau beberapa hari. Jika Anda dapat mencapai dosis yang sesuai tanpa reaksi, pengobatan dapat berlanjut.

Penting untuk menggunakan obat sesuai petunjuk untuk menjaga toleransi tubuh terhadap antibiotik selama pengobatan. Jika Anda membutuhkan antibiotik pada masa mendatang, Anda perlu mengulangi perawatan ini.

Saat melakukan perawatan ini, kondisi tubuh akan dipantau dengan cermat. Desensitisasi tidak selalu berhasil dan terdapat reaksi serius yang ditimbulkan dari perawatan ini.

Baca Juga: 7 Jenis Antibiotik dan Manfaatnya untuk Pengobatan

Mencegah Terjadinya Alergi Antibiotik

Jika Anda memiliki alergi terhadap obat ini, pencegahan paling sederhana adalah menghindari penggunaannya. Langkah-langkah yang dapat Anda lakukan untuk mencegah alergi, meliputi:

  • Beri tahu petugas medis. Pastikan alergi obat teridentifikasi dengan jelas dalam rekam medis.
  • Kenakan gelang medis. Gelang khusus ini berguna untuk mengidentifikasi alergi obat yang dialami, hal ini menjadi penting untuk memastikan perawatan yang tepat dalam keadaan darurat.

Mengonsumsi antibiotik saat tidak diperlukan dapat membunuh flora bakteri normal dan melemahkan kemampuan tubuh untuk melawan alergi.

Jika Anda menggunakan antibiotik secara berlebihan, hal tersebut akan menghancurkan pertahanan alami tubuh dan membuatnya lebih sulit untuk melawan infeksi pada masa depan.

Persiapan Sebelum Konsultasi dengan Dokter

Sebelum bertemu dengan dokter untuk melakukan konsultasi, Anda harus menyiapkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang bisa ditanyakan oleh dokter. Hal ini menjadi penting untuk membantu dokter menentukan penyebab dari alergi. Beberapa pertanyaan tersebut, antara lain:

  • Gejala apa saja yang Anda alami?
  • Apa merek antibiotik yang Anda konsumsi?
  • Pernahkah Anda mengalami gejala-gejala ini pada masa lalu ketika tidak menggunakan obat antibiotik?
  • Berapa lama setelah mengonsumsi antibiotik gejalanya muncul?
  • Berapa lama gejalanya berlangsung?
  • Apakah Anda sudah berhenti minum obat?
  • Adakah obat lain seperti obat herbal, vitamin, atau suplemen makanan lain yang Anda pakai?
  • Apakah Anda mengonsumsi sesuatu untuk mengobati gejala dan apa efeknya?
  • Apakah Anda menderita alergi serbuk sari, alergi makanan, atau alergi lainnya?
  • Adakah riwayat alergi obat lain dalam keluarga?

Selain itu, mendokumentasikan gejala yang muncul seperti ruam atau pembengkakan dapat membantu dokter menganalisis keadaan.

 

  1. Anonim. Common Side Effects from Antibiotics, and Allergies and Reactions. https://www.drugs.com/article/antibiotic-sideeffects-allergies-reactions.html. (Diakses pada 19 Oktober 2020).
  2. Anonim. Antibiotic Allergies Can Be Unexpected and Dangerous. https://www.premierhealth.com/your-health/articles/health-topics/antibiotic-allergies-can-be-unexpected-and-dangerous. (Diakses pada 19 Oktober 2020).
  3. Anonim. Penicillin allergy. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/penicillin-allergy/symptoms-causes/syc-20376222. (Diakses pada 19 Oktober 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi