Sectio Caesarian – Alasan

Sectio-Caesarian-doktersehat
Photo Credit: Army Medicine

DokterSehat.Com– Alasan yang paling sering untuk melakukan operasi sesar akan dibahas di bawah ini.

Operasi sesar berulang: Ada dua jenis sayatan rahim – sayatan tranversal rendah dan sayatan vertikal. Arah sayatan pada kulit (atas dan bawah atau sisi ke sisi) tidak selalu sesuai dengan arah sayatan dibuat di dalam rahim.

  • Sesuai namanya, sayatan melintang rendah adalah luka horizontal di bagian bawah rahim. Di Amerika Serikat, bila memungkinkan, sayatan kulit rendah dibuat rendah atau di bawah garis bikini dengan insisi uterus transversal rendah.
  • Sebuah sayatan vertikal pada rahim dapat digunakan untuk melahirkan bayi prematur, plasenta dengan posisi abnormal, kehamilan dengan lebih dari satu janin, dan dalam keadaan darurat yang ekstrim.
  • Dalam dekade terakhir, penelitian telah menunjukkan bahwa wanita yang pernah menjalani operasi caesar sebelumnya dengan insisi transversal rendah dapat melewati persalinan normal dengan melalui vagina pada kehamilan berikutnya. Namun, perempuan yang telah memiliki sayatan vertikal pada rahim tidak dapat menjalani persalinan normal jika sayatan berada di area rahim yang lebih tinggi.
    • Pada wanita dengan insisi uterus vertikal tinggi, rahim berada pada risiko yang lebih besar untuk robek (ruptur) pada kehamilan berikutnya.
    • Rahim dapat ruptur bahkan sebelum persalinan dimulai pada sebagian besar wanita yang menjalani sayatan vertikal tinggi.
    • Rahim yang ruptur/ pecah bisa berbahaya untuk janin bahkan jika persalinan dilakukan segera setelah ruptur rahim. Mendiagnosis ruptur rahim bisa sulit, dan tanda-tanda ruptur dapat mencakup peningkatan pendarahan, nyeri meningkat, atau denyut jantung janin menjadi abnormal.

Riwayat operasi saesar sebelumnya: Wanita dengan riwayat lebih dari satu operasi caesar transversal rendah mengalami sedikit peningkatan risiko ruptur rahim. Risiko ini meningkat secara signifikan ketika wanita telah menjalani tiga kali operasi sesar. Jika persalinan saesar memang direncanakan dan mencoba persalinan lewat vagina bukanlah suatu pilihan, waktu terbaik untuk persalinan ditentukan ketika paru-paru janin matang, yaitu pada usia kehamilan di atas 34 minggu.

Persalinan yang lambat: Jika wanita mengalami kontraksi yang cukup tapi tidak ada perubahan pada serviks (pembukaan ke rahim) setelah bukaan 3 atau wanita tidak mampu untuk mengeluarkan bayi meskipun bukaan telah lengkap dan kekuatan dorongan ibu sudah memadai (umumnya selama 2 sampai 3 jam atau lebih), sesar dapat dilakukan.

Posisi janin yang tidak normal: Pada persalinan normal, bayi pertama kali mengeluarkan kepalanya. Ini adalah cara itu terjadi di sebagian besar persalinan. Diameter terkecil dari tengkorak manusia akan melewawti panggul dengan cara yang paling menguntungkan. Hal ini meningkatkan keberhasilan persalinan vagina.

  • Ada berbagai presentasi lain dari janin, yang membuat persalinan pervaginam sulit, termasuk posisi sungsang (ketika pantat bayi berada di bagian bawah rahim). Bentuk-bentuk tertentu dari persalinan sungsang memiliki peningkatan risiko yang sangat rendah untuk janin. Persalinan sungsang dapat menyebabkan komplikasi, termasuk kematian dan kecacatan neurologis.
  • Konseling dengan cermat, analisis tepat jenis posisi sungsang, perkiraan berat badan bayi, dan informasi lainnya diperlukan sebelum membuat keputusan tentang upaya persalinan pervagiman atau persalinan dengan operasi caesar.

Status janin: Meskipun banyak alat yang dapat digunakan, monitor denyut jantung janin belum tentu dapat memperbaiki kondisi bayi. Beberapa percaya, hal tersebut juga karena banyak dokter kurang terlatih dalam menafsirkan seluk-beluk pola denyut jantung janin. Karena penggunaan pemantauan denyut jantung janin terus menerus dilakukan ketika persalinan dimulai, para dokter kandungan mengatakan kematian bayi selama persalinan menurun daripada di masa lalu.

Situasi darurat: Jika wanita sakit parah atau mengalami cedera yang mengancam jiwa atau sakit dengan gangguan jantung atau fungsi paru-paru, wanita tersebut dapat menjadi kandidat untuk operasi caesar darurat. Ketika dilakukan dalam 6-10 menit dari timbulnya serangan jantung, prosedur saesar dapat menyelamatkan bayi baru lahir dan meningkatkan kemungkinan keselamatan bagi ibu. Prosedur ini dilakukan hanya hanya dilakukan ketika keadaan mendesak.

Sterilisasi elektif: Keinginan untuk sterilisasi elektif bukan merupakan indikasi untuk sesar. Sterilisasi setelah melahirkan melalui vagina dapat dilakukan melalui sayatan kecil sepanjang 3-cm di tepi bawah umbilikus atau sebagai prosedur yang ditunda dari persalinan selama 6 minggu setelah melahirkan dengan operasi laparoskopi atau operasi vagina.

Alasan lain untuk melahirkan sesar adalah sebagai berikut:

  • Penggunaan monitor denyut jantung untuk mengevaluasi pola denyut jantung janin
  • Posisi bayi bukan kepala
  • Preferensi wanita untuk melakukan bedah saesar lagi
  • Persalinan tidak mengalami kemajuan
  • Ibu memiliki infeksi herpes genital aktif (bayi perlu untuk menghindari potensi pajanan herpes melalui jalan lahir)
  • Ibu memiliki infeksi HIV
  • Adanya obstruksi seperti tumor jinak atau ganas dalam saluran reproduksi yang lebih rendah atau kelainan anatomi panggul
  • Tingkat wanita dengan pendidikan dan status sosial yang lebih tinggi
  • Peningkatan usia ibu, karena lebih banyak wanita usia lebih tua yang memiliki bayi

Closure of the uterine and abdominal incisions after a low transverse cesarean section. Blood loss during the average cesarean section is substantial—on the order of 500-1000 mL.

Gambar 1. Prosedur Sectio caesaria. Penutupan sayatan rahim dan sayatan perut setelah operasi caesar lintang rendah. kehilangan darah selama operasi caesar rata-rata sebanyak 500-1000 mL

High-risk uterine incisions have a high risk of uterine rupture with additional pregnancies. Consequently, these women are not candidates for future vaginal deliveries. Occasionally, a T-shaped incision is required. Women with a T-shaped incision carry the same risks as women with a vertical uterine incision with respect to future risk of uterine rupture.

Gambar 2. Jenis potongan prosedur pada rahim

Sectio Caesarian – Halaman Selanjutnya: 1 2 3 4 5