Afasia: Penyebab, Jenis, Gejala, Pengobatan

afasia-doktersehat

DokterSehat.Com – Adanya gangguan atau kelainan pada organ otak menimbulkan pelbagai masalah kesehatan tubuh, utamanya berkaitan dengan kemampuan motorik dan verbal. Hal ini tentu saja akan menghambat aktivitas seseorang, bahkan tak jarang berujung pada kelumpuhan. Salah satu penyakit yang diakibatkan oleh terganggunya fungsi otak adalah afasia. Apa itu afasia? Apa penyebab afasia? Bagaimana mengobati afasia?

Apa Itu Afasia?

Afasia adalah penyakit kelainan otak yang mengakibatkan penderitanya mengalami kesulitan dalam berbicara. Tak hanya itu, penderita aphasia acap kali merasa sulit untuk memilih, merangkai, dan menangkap makna dari suatu kata. Menulis juga menjadi kesulitan lainnya yang dialami oleh para penderita afasia.

Penyakit afasia tersebut lantaran bagian otak yang bertugas untuk memproses bahasa dan kata-kata mengalami kerusakan. Afasia berkaitan dengan penyakit otak lainnya, seperti stroke, kanker otak, atau cedera otak traumatik. Sementara itu, afasia akan berkembang secara bertahap pada mereka yang menderita gangguan saraf progresif.

Penyebab Afasia

Cedera yang mengakibatkan kerusakan pada otak, dalam hal ini bagian otak tempat pemrosesan bahasa dan kata-kata, menjadi penyebab penyakit afasia. Terjadinya cedera ini sendiri tak lepas dari adanya penyakit otak yang sudah lebih dahulu diderita oleh pasien.

Stroke adalah penyakit otak yang kerap dikaitkan dengan afasia. Dilaporkan sekitar 25 – 40 persen penderita stroke yang berhasil sembuh akan berlanjut pada kondisi aphasia ini. Selain itu, penyakit seperti epilepsy juga ditengarai menjadi penyebab afasia.

Afasia juga dipicu oleh sejumlah faktor, yaitu:

  • Tumor
  • Infeksi otak (meningitis, ensefalitis, dsb.)
  • Demensia
  • Parkinson
  • Cedera kepala akibat benturan keras

Jenis-Jenis Afasia

Dilihat dari penyebab dan gejala yang menyertai, afasia terbagi menjadi beberapa jenis. Berikut ini adalah jenis-jenis penyakit afasia yang perlu Anda pahami dan waspadai.

1. Afasia Wernicke

Afasia Wernicke adalah jenis afasia yang diakibatkan oleh kerusakan bagian otak yang berkaitan dengan komprehensi bahasa. Mereka yang mengalami afasia Wernicke umumnya tidak dapat mengerti ucapan yang orang lain atau bahkan mereka sendiri katakan.

Hal ini karena pada saat berbicara, susunan kalimat menjadi sangat acak. Sebagai contoh “lewat duduk bapak depan yang saya sedang”. Kekeliruan berbicara ini lantas dikenal sebagai logorrhea dan menjadi ciri atau gejala afasia Wernicke yang paling mudah dikenali.

Akan tetapi, penderita aphasia ini merasa jika apa yang dia ucapkan sudah benar adanya. Menurunnya kemampuan untuk mengidentifikasi kesalahan dalam berujar (anosagnosia) menjadi alasan hal tersebut bisa terjadi. Pada akhirnya, penderita afasia Wernicke menyadari bahwa ucapan mereka sama sekali tidak benar. Pada kondisi tersebut, penderita akan menjadi emosional dan merasa depresi.

2. Afasia Motorik

Afasia motorik disebut juga sebagai afasia Broca. Afasia jenis ini menyerang bagian otak yang berfungsi untuk memproses ujaran. Penderita afasia motorik merasa kesulitan dalam berujar, akan tetapi masih mengerti apa yang orang lain ucapkan. Dengan kata lain, mereka tidak bisa memanifestasikan apa yang ada di pikirannya ke dalam suatu ujaran.

Afasia motorik kerap diiringi oleh sejumlah kondisi lainnya, seperti hemiplegia, hemiparesis, agraphia, dan alexia. Hal ini terjadi karena adanya pembuluh darah abnormal yang memengaruhi pergerakan salah satu sisi tubuh (umumnya tubuh sebelah kanan).

3. Afasia Transkortikal Motorik

Jenis afasia yang satu ini memiliki ciri atau gejala yang hampir mirip dengan afasia motorik (afasia broca), yakni si penderita tidak mampu menyampaikan apa yang ada di dalam pikirannya ke dalam suatu ujaran.

Akan tetapi, penderita afasia transkortikal motorik dapat dengan mudah mengulangi kata atau kalimat yang diucapkan oleh lawan bicaranya. Sebagai contoh, penderita hendak berkata “saya ingin duduk” namun tidak bisa. Namun, apabila lawan bicaranya mengucapkan kata tersebut, maka penderita afasia transkortikal motorik dapat mengulangi perkataan tersebut tanpa hambatan berarti.

4. Afasia Transkortikal Campuran

Penderita afasia transkortikal campuran mengalami gangguan di sekitar bagian otak yang memproses ujaran (Broca) dan bagian otak yang memproses bahasa (Wernicke). Akibatnya, penderita jenis afasia ini tak mampu memahami perkataannya sendiri maupun lawan bicara.

Menariknya, penderita afasia transkortikal campuran ini mampu memahami dan mengulangi setiap kata atau kalimat dari tulisan maupun lirik lagu yang sudah sering mereka lihat dan dengar. Hal ini bisa terjadi karena baik Broca maupun Wernicke sebetulnya tidak mengalami kerusakan, melainkan bagian-bagian yang ada di sekitarnya. Akibatnya, Broca dan Wernicke tidak mampu mengenali ujaran maupun bahasa secara spontan.

Stroke jenis DAS diklaim menjadi penyebab mengapa seseorang mengalami afasia transkortikal campuran ini.

5. Afasia Transkortikal Sensorik

Afasia trasnkortikal sensorik tergolong sebagai jenis afasia yang kasusnya jarang terjadi. Afasia transkortikal sensorik ditandai dengan ketidakmampuan penderitanya untuk dapat memahami perkataan lawan bicaranya, sementara ia sebetulnya dapat berbicara dengan lancar sebagaimana mestinya.

Sebagai contoh, Anda mengatakan “bagaimana kabarmu?”, maka penderita malah balik bertanya dengan pertanyaan yang sama. Adanya kerusakan pada bagian otak yang memproses bahasa menjadi penyebab afasia transkortikal sensorik ini.

6. Afasia Global

Kerusakan pada otak bagian Broca dan Wernicke yang sudah berlangung lama membawa penderitanya pada kondisi afasia global. Afasia jenis ini ditandai oleh ketidakmampuan seseorang dalam memahami perkataan—baik dirinya sendiri maupun orang lain—serta tidak juga mampu untuk berbicara.

Pada sejumlah kasus, penderita afasia global masih dapat berkomunikasi dengan orang lain dengan memanfaatkan bahasa non-lisan.

Diagnosis Afasia

Guna mendiagnosis penyakit afasia, serta mengukur tingkat keparahan yang dialami oleh penderita, dokter akan melakukan prosedur pemeriksaan. Pemeriksaan ini nantinya dapat mengidentifikasi sejauh mana penderita dapat membaca, menulis, dan berbicara.

Ada 2 (dua) rangkaian pemeriksaan yang umum dilakukan, yaitu:

  • Pemeriksaan kemampuan berkomunikasi, yakni dengan cara meminta pasien untuk menyebutkan satu per satu kata atau kalimat yang telah ditentukan, pun melihat respon pasien ketika diajak berbicara
  • Pencitraan otak, yakni dengan melakukan prosedur CT Scan, MRI, atau tomografi emisi positron. Tujuannya adalah untuk melihat seberapa parah kerusakan yang terjadi pada bagian otak (Broca dan Wernicke) sebagai penyebab afasia

Pengobatan Afasia

Berbicara mengenai pengobatan afasia, maka hal ini harus disesuaikan dengan sejumlah faktor, seperti jenis afasia, penyebab afasia, usia penderita, dan faktor-faktor lainnya. Pasalnya, setiap jenis afasia memiliki metode pengobatan yang berbeda pula.

Pada kasus di mana aphasia disebabkan oleh stroke, misalnya. Penderita akan melakukan terapi wicara dengan dokter yang khusus menangani hal ini. Dokter juga lazimnya akan memberikan obat-obatan guna menunjang terapi, seperti piribedil, idebenone, bromocriptine, dan bifemelane.

Selain itu, perlu gaya berkomunikasi khusus manakala Anda sedang berbicara dengan penderita afasia agar pembicaraan berjalan lancar, yaitu:

  • Bicara perlahan dengan nada yang tidak keras
  • Gunakan bahasa isyarat dengan gerakan tubuh
  • Buatlah tulisan untuk berkomunikasi
  • Usahakan untuk mengajukan pertanyaan yang hanya berujung pada dua jawaban, ya atau tidak
  • Jangan alihkan pandangan mata saat berbicara
  • Selalu berikan semangat dan apresiasi pada penderita

Pencegahan Afasia

Oleh karena afasia umumnya disebabkan oleh penyakit seperti stroke dan infeksi bakteri, maka cara mencegah penyakit ini yaitu dengan mencegah diri Anda terseran penyakit-penyakit tersebut, baik itu dengan mengonsumsi makanan bergizi, maupun menerapkan pola hidup sehat.

Sementara itu, untuk penyebab afasia berupa cedera yang diakibatkan oleh kecelakaan, langkah pencegahan dapat dilakukan dengan selalu berhati-hati dalam beraktivitas, terlebih jika Anda memiliki aktivitas yang berisiko terhadap kecelakaan.