Terbit: 23 November 2020
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

ADHD adalah kondisi kronis yang ditandai dengan perilaku impulsif, kurangnya perhatian, dan hiperaktif. Kondisi ini biasanya mulai terjadi pada anak-anak dan bahkan bertahan hingga dewasa. Ketahui informasi selengkapnya mulai dari definisi, gejala, penyebab, pengobatan, dan lainnya!

ADHD: Gejala, Penyebab, Cara Mengobati, Pencegahan, dll

Apa Itu ADHD?

Attention deficit hyperactivity disorder atau ADHD adalah salah satu gangguan kesehatan mental yang dapat menyebabkan perilaku hiperaktif dan impulsif di atas normal. 

Anak-anak dengan gangguan mental ini mungkin kesulitan memerhatikan, mengontrol perilaku impulsif (mungkin bertindak tanpa memikirkan akibatnya), atau menjadi terlalu aktif. Baik orang dewasa maupun anak-anak dapat mengalaminya.

Tanda dan Gejala ADHD

Normal bagi anak-anak untuk mengalami kesulitan fokus dan berperilaku pada satu waktu atau lainnya. Namun, anak-anak yang memiliki gangguan mental tidak tumbuh begitu saja dari perilaku ini. Gejalanya berlanjut, bisa parah, dan bisa menyebabkan kesulitan dalam belajar di sekolah, di rumah, atau dengan teman.

Berikut ini sejumlah tanda dan gejala ADHD.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Cetaphil Promo - Advertisement

  • Selalu bergerak atau aktif.
  • Tidak mampu mendengarkan orang yang berbicara.
  • Kesulitan bermain dengan tenang.
  • Sering berbicara berlebihan.
  • Mengganggu teman atau mengganggu orang lain.
  • Mudah merasa terganggu atau mudah teralihkan perhatiannya.
  • Tidak mampu menyelesaikan tugas dengan tuntas.

Meskipun anak mungkin memiliki beberapa gejala yang tampak seperti ADHD, namun belum tentu seorang anak mengalaminya. Itu sebabnya orang tua perlu membawa anaknya untuk mengunjungi dokter untuk memeriksanya.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika salah satu gejala ADHD yang telah disebutkan sebelumnya terus-menerus mengganggu hidup Anda, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter tentang kemungkinan menderita gangguan kesehatan mental.

Dokter yang berbeda dapat mendiagnosis dan mengawasi pengobatannya. Jadi, dokter yang memiliki pelatihan dan pengalaman dalam merawat penderita gangguan mental ini.

Baca Juga: 15 Gejala ADHD pada Dewasa yang Menganggu Mental dan Fisik

Penyebab ADHD

Meskipun penyebab pasti dari ADHD tidak jelas, tetapi upaya penelitian terus dilakukan untuk memastikan penyebabnya. Faktor-faktor tertentu yang mungkin terkait dalam perkembangan ADHD antara lain:

  • Genetik. Gangguan mental ini dapat diturunkan dalam keluarga, dan penelitian menunjukkan bahwa gen kemungkin berperan dalam memicu gangguan mental ini.
  • Lingkungan. Faktor lingkungan tertentu juga dapat meningkatkan risiko, seperti paparan timbal saat anak-anak.
  • Masalah selama pertumbuhan. Mengalami masalah dengan sistem saraf pusat pada saat-saat penting dalam pertumbuhan kemungkinan berperan dalam memicu gangguan mental.
  • Perubahan otak. Area otak yang mengontrol perhatian kurang aktif pada anak-anak dengan ADHD.
  • Cedera otak atau kelainan otak. Kerusakan otak pada bagian depan (lobus frontal), dapat menyebabkan masalah dalam mengendalikan impuls dan emosi.

Diagnosis ADHD

Tidak ada tes khusus atau tes definitif untuk mendeteksi ADHD. Untuk mendiagnosisnya, diperlukan beberapa langkah dan melibatkan banyak informasi dari berbagai sumber. Semua orang-orang yang berada di sekitar anak Anda harus dilibatkan untuk menilai perilaku anak.

Biasanya, dokter akan mendiagnosis kondisi ini pada masa anak-anak ketika telah menunjukkan 6 gejala spesifik ADHD selama lebih dari 6 bulan. Dokter akan mempertimbangkan bagaimana perilaku anak dibandingkan dengan anak-anak lain pada usia yang sama.

Dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan fisik, menanyakan riwayat medis, bahkan mungkin menyarankan melakukan pemindaian otak. Biasanya dokter akan mendiagnosis berdasarkan pedoman dari Diagnostic and Statistical Manual. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan penglihatan serta pendengaran. Pemeriksaan tambahan lainnya yang mungkin dilakukan adalah electroencephalograph.

Diagnosis pada anak-anak yang berusia 5 tahun ke bawah akan lebih sulit karena sebagian besar anak memiliki beberapa gejala yang terlihat seperti kondisi ini dalam berbagai situasi.

Jenis ADHD

Terdapat beberapa jenis ADHD, bergantung pada jenis gejala yang paling kuat pada seseorang, termasuk:

  • Inatentif. Sebelumnya gangguan ini disebut attention deficit disorder (ADD). Anak-anak dengan gangguan ini tidak terlalu aktif. Mereka tidak mengganggu kelas atau kegiatan lainnya, sehingga gejalanya tidak terlalu terlihat.
  • Dominan hiperaktif-impulsif. Anak-anak menunjukkan kedua perilaku hiperaktif dan impulsif, tetapi untuk sebagian besar, mereka mampu memusatkan perhatian.
  • Kombinasi inatentif, hiperaktif, dan impulsif. Anak-anak dengan jenis gangguan mental ini menunjukkan semua gejala tersebut. Ini adalah bentuk yang paling umum.

Baca Juga: ADHD Dewasa: Gejala, Penyebab, Diagnosis, Pengobatan, dll

Cara Mengobati ADHD

Umumnya anak yang mengalami gangguan mental ini sulit untuk disembuhkan. Hal yang bisa Anda lakukan pada anak ADHD adalah mengurangi gejala agar kondisi tersebut tidak menjadi masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Apabila gejala gangguan pemusatan perhatian atau hiperaktivitas sedang kambuh, jangan panik dan mudah emosi. Segeralah bawa anak ke dokter untuk berkonsultasi. Ingat, perilaku sabar dalam menangani anak adalah kunci untuk menghindari risiko yang tidak Anda inginkan.

Adapun berikut ini beberapa cara mengobati ADHD:

1. Obat-obatan

Obat seperti stimulan dapat membantu mengontrol perilaku hiperaktif dan impulsif serta meningkatkan rentang perhatian. Obat-obatan ini termasuk:

  • Amphetamine
  • Dexmethylphenidate
  • Dextroamphetamine
  • Lisdexamfetamine
  • Methylphenidate

Namun, obat perangsang tidak bekerja untuk semua orang yang mengalami gangguan perilaku ini. Orang yang berusia lebih dari 6 tahun dapat menggunakan obat nonstimulan, termasuk:

  • Atomoxetine
  • Clonidine
  • Guanfacine

2. Terapi

Perawatan ini berfokus dalam membantu perubahan perilaku.

  • Pendidikan khusus dapat membantu anak belajar di sekolah. Memiliki struktur dan rutinitas sangat membantu anak-anak penderita gangguan perilaku.
  • Modifikasi perilaku mengajarkan cara merubah perilaku buruk dengan perilaku baik.
  • Psikoterapi (konseling) membantu penderitanya mempelajari cara yang lebih baik untuk menangani emosi dan frustrasinya. Ini bisa membantu meningkatkan harga dirinya. Konseling juga membantu anggota keluarga lebih memahami anak atau orang dewasa dengan kondisi ini.
  • Pelatihan keterampilan sosial bisa mengajarkan perilaku, seperti bergiliran dan berbagi.

3. Mendapatkan Dukungan

Kelompok pendukung orang-orang dengan masalah dan kebutuhan serupa dapat membantu mempelajari lebih lanjut tentang gangguan perilaku dan cara mengelola gejalanya. Kelompok-kelompok ini bermanfaat untuk orang dewasa dengan kondisi ini atau orang tua dari anak-anak dengan ADHD.

4. Pengobatan Alami

Suplemen makanan dengan omega-3 telah menunjukkan beberapa manfaat bagi orang yang menderita gangguan mental. Beberapa perubahan gaya hidup juga membantu Anda atau anak Anda mengelola gejala, antara lain:

  • Makan makanan yang sehat dengan banyak buah-buahan, sayuran, biji-bijian, dan protein tanpa lemak.
  • Berolahragalah setiap hari.
  • Perbanyak tidur.
  • Membatasi waktu penggunaan perangkat elektronik.

5. Perawatan lainnya

Beberapa hal yang penting Anda lakukan jika memiliki anak yang menderita penyakit ADHD adalah:

  • Ajak anak untuk berkomunikasi dan bercerita.
  • Rencanakan hari untuk anak dengan aktivitas bermutu.
  • Seimbangkan waktu istirahat dan aktivitas fisik anak.
  • Berikan anak instruksi yang jelas saat Anda memintanya melakukan sesuatu.
  • Jauhkan benda tajam dan benda yang mudah pecah dari jangkauan anak.

Komplikasi ADHD

Jika gangguan perilaku ini tidak segera mendapatkan pengobatan kemungkinan dapat menyebabkan beberapa komplikasi emosional dan fisik, termasuk:

  • Prestasi sekolah atau pekerjaan yang buruk.
  • Kesehatan fisik dan mental yang buruk
  • Pengangguran.
  • Masalah keuangan.
  • Berat badan berlebih.
  • Gangguan makan.
  • Gangguan tidur.
  • Bermasalah dengan hukum.
  • Minum alkohol atau penyalahgunaan zat lainnya.
  • Sering mengalami kecelakaan mobil atau kecelakaan lainnya.
  • Kesulitan berinteraksi dengan teman sebaya.
  • Citra diri yang buruk.
  • Upaya bunuh diri.

Pencegahan ADHD

Berikut ini beberapa langkah untuk membantu mengurangi risiko ADHD:

  • Selama kehamilan, hindari apa pun yang mengganggu perkembangan janin. Misalnya, jangan minum alkohol, menggunakan obat-obatan rekreasi, atau merokok.
  • Melindungi anak dari paparan polutan dan racun, termasuk asap rokok dan cat timbal.
  • Batasi waktu menatap layar. Meskipun masih belum terbukti, sebaiknya anak-anak menghindari paparan televisi dan video game yang berlebihan dalam lima tahun pertama kelahiran.

 

  1. Angel, Traci. 2020. Everything You Need to Know About ADHD. https://www.healthline.com/health/adhd#causes. (Diakses pada 23 November 2020)
  2. Lynn Marks. 2020. What Is ADHD? Symptoms, Causes, Diagnosis, Treatment, and Prevention. https://www.everydayhealth.com/adhd/guide/. (Diakses pada 23 November 2020)
  3. Mayo Clinic Staff. 2019. Adult attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD). https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/adult-adhd/diagnosis-treatment/drc-20350883. (Diakses pada 23 November 2020)
  4. Mayo Clinic Staff. 2019. Attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD) in children. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/adhd/symptoms-causes/syc-20350889. (Diakses pada 23 November 2020)


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi