Terbit: 2 November 2020
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Adenoiditis adalah infeksi yang menyebabkan peradangan dan pembesaran jaringan pada bagian atas tenggorokan. Ketahui informasi selengkapnya mulai dari gejala, penyebab, pengobatan, dan lainnya!

Adenoiditis: Gejala, Penyebab, Cara Mengobati, Pencegahan, dll

Apa Itu Adenoiditis?

Adenoiditis adalah peradangan dan pembesaran pada adenoid akibat infeksi. Adenoid adalah jaringan pada bagian atas tenggorokan yang membantu mencegah infeksi bakteri dan virus, menyeimbangkan cairan tubuh, dan melawan infeksi dalam tubuh dengan memproduksi antibodi.

Adenoiditis atau adenoid yang membesar adalah penyakit yang sering kali terjadi pada anak-anak. Gejalanya ditandai dengan pembengkakan pada adenoid. Kondisi ini memengaruhi hidung, bibir, dan mulut, sehingga menyebabkan kesulitan bernapas yang mengakibatkan pernapasan dari mulut dan menyebabkan bibir pecah-pecah, hidung meler, dan bau mulut.

Tanda dan Gejala Adenoiditis

Gejala adenoiditis dapat bervariasi tergantung pada penyebab infeksi, tetapi mungkin termasuk:

  • Sakit tenggorokan.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening pada leher.
  • Hidung tersumbat.
  • Sakit telinga dan masalah telinga lainnya.

Ketika hidung tersumbat, gejala ini membuat penderitanya kesulitan bernapas melalui hidung. Gejala adenoiditis lain yang berhubungan dengan hidung tersumbat, termasuk:

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Family Fest - Advertisement

  • Bernapas melalui mulut.
  • Berbicara dengan suara sengau.
  • Kesulitan tidur.
  • Mendengkur atau sleep apnea (berhenti bernapas untuk waktu yang singkat selama tertidur).

Kapan Harus ke Dokter?

Segera hubungi dokter jika anak atau orang terdekat mengalami gejala adenoiditis yang telah dijelaskan sebelumnya. Ini untuk mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat.

Penyebab Adenoiditis

Penyebabnya adalah infeksi pada adenoid akibat bakteri streptococcus atau virus Epstein-Barr, adenovirus, atau rhinovirus. Namun, beberapa penyebab lainnya mungkin juga karena pembengkakan adenoid, seperti ketika jaringan melawan segala jenis infeksi.

Beberapa anak yang terlahir dengan pembengkakan adenoid, yang biasanya mulai menyusut setelah usia 5 tahun. Jika adenoid tetap membengkak dalam waktu yang lama, maka ini bisa menjadi kondisi yang bermasalah pada kesehatan.

Faktor Risiko Adenoiditis

Ada beberapa faktor tertentu yang dapat meningkatkan risiko terkena infeksi pada jaringan adenoid, termasuk:

  • Infeksi berulang pada tenggorokan, leher, atau kepala.
  • Polusi.
  • Debu.
  • Infeksi amandel.
  • Alergi terhadap berbagai zat.
  • Kontak dengan virus, kuman, dan bakteri di udara.
  • Anak-anak lebih rentan terkena adenoiditis karena adenoid semakin menyusut selama masa kanak-kanak.

Diagnosis Adenoiditis

Dokter mungkin akan merujuk penderita penyakit ini ke dokter spesialis THT (telinga, hidung, dan tenggorokan) atau juga disebut otolaringologi. Dokter THT memiliki pelatihan khusus tentang infeksi, penyakit, dan kondisi telinga, hidung, dan tenggorokan.

Spesialis THT kemungkinan besar akan melakukan pemeriksaan fisik untuk menentukan lokasi infeksi. Dokter juga akan menanyakan tentang riwayat keluarga pasien untuk menentukan apakah kondisinya merupakan keturunan atau genetik.

Tes lainnya untuk mendiagnosis adenoiditis, meliputi:

  • Pemeriksaan tenggorokan menggunakan swab untuk mendapatkan sampel bakteri dan organisme lainnya.
  • Tes darah untuk mengetahui keberadaan organisme.
  • Rontgen kepala dan leher untuk menentukan ukuran pembengkakan adenoid dan tingkat infeksi.

Pengobatan Adenoiditis

Pengobatan dan perawatannya berbeda tergantung pada penyebabnya. Jika bakteri yang menjadi penyebab adenoiditis, dokter mungkin akan meresepkan antibiotik. Penggunaan antibiotik bisanya terbukti berhasil dalam mengobati peradangan pada jaringan adenoid.

Jika virus yang menyebabkan adenoiditis, dokter akan merekomendasikan rencana perawatan yang khusus untuk melawan virus tersebut.

Operasi untuk menghilangkan kelenjar gondok juga bisa menjadi pilihan, yakni adenoidektomi. Operasi bertujuan untuk menghilangkan adenoid yang memiliki kondisi berikut:

  • Tidak segera membaik setelah penggunaan antibiotik.
  • Mengalami infeksi berulang.
  • Munculnya pembengkakan adenoid bersamaan dengan masalah kesehatan yang mendasarinya, termasuk kanker atau tumor tenggorokan dan leher.
  • Menyebabkan masalah pada pernapasan dan menelan.

Baca Juga: 15 Obat Radang Tenggorokan yang Ampuh (Medis dan Alami)

Pemulihan dari Adenoidektomi

Setelah menjalani operasi, pasien mungkin merasa mual sampai anestesi benar-benar hilang. Seminggu setelah adenoidektomi, pasien mungkin mengalami kondisi berikut:

  • Sakit tenggorokan. Tenggorokan mungkin sakit selama tujuh hingga sepuluh hari setelah operasi dan makan bisa menjadi tidak nyaman.
  • Demam. Pasien mungkin mengalami demam ringan beberapa hari setelah operasi. Segera dapatkan pertolongan medis jika demam lebih tinggi dari 39° Celsius atau demam disertai gejala lain seperti lesu, mual, muntah, sakit kepala, atau leher kaku.
  • Bernapas melalui mulut. Pernapasan dengan mulut dan mengi dapat terjadi setelah operasi karena pembengkakan pada tenggorokan. Pernapasan harus kembali normal setelah pembengkakan turun, biasanya 10 hingga 14 hari setelah operasi. Cari pertolongan medis jika ada kesulitan bernapas.
  • Nyeri. Beberapa sakit tenggorokan dan telinga normal selama beberapa minggu setelah operasi. Dokter harus meresepkan obat untuk membantu mengontrol rasa sakit.
  • Keropeng pada mulut. Keropeng putih tebal akan berkembang di tempat amandel dan/atau kelenjar gondok dikeluarkan. Ini normal dan sebagian besar koreng terlepas dalam potongan kecil dalam 10 hari setelah operasi. Jangan biarkan anak Anda mengorek-ngorek koreng. Keropeng ini juga bisa menyebabkan bau mulut.

Komplikasi Adenoiditis

Jika tidak mendapatkan pengobatan dan perawatan, penderita penyakit ini kemungkinan mengalami sejumlah komplikasi. Ini dapat menyebabkan peradangan kronis atau berat pada jaringan adenoid yang menyebar ke lokasi lain pada kepala dan leher.

Berikut ini beberapa komplikasi dari adenoiditis:

  • Infeksi telinga. Penderitanya kemungkinan mengalami infeksi pada telinga tengah. Adenoid terletak pada sebelah tuba Eustachius, yaitu sebagai saluran cairan mengalir dari telinga. Ketika adenoiditis menjadi lebih berat, peradangan menghalangi pembukaan saluran yang menuju ke telinga tengah. Ini menyebabkan infeksi dan kesulitan mendengar.
  • Otitis media efusi (OME). Kondisi yang juga disebut glue ear ini dapat terjadi ketika lendir menumpuk dan menyumbat telinga tengah. Ini biasanya mulai muncul sebagai penyumbatan tabung Eustachius, yang akan memengaruhi pendengaran.
  • Sinusitis. Kondisi ini terjadi ketika rongga sinus terisi dengan cairan dan menjadi terinfeksi. Sinus adalah rongga kecil dalam tulang wajah sekitar mata dan hidung yang berisi kantong udara.
  • Infeksi pada dada. Ini termasuk pneumonia atau bronkitis, jika kelenjar gondok terinfeksi virus atau bakteri parah. Kondisi ini bisa menyebar ke paru-paru, bronkiolus, dan struktur lain pada sistem pernapasan.

Pencegahan Adenoiditis

Ada beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk mencegah penyakit ini, termasuk:

  • Makan makanan yang sehat.
  • Perbanyak minum cairan.
  • Tidur yang cukup.
  • Menjaga kebersihan dengan baik untuk mengurangi kemungkinan infeksi.

 

  1. Anonim. Tanpa Tahun. Adenoiditis. https://www.parashospitals.com/diseases/adenoiditis/. (Diakses pada 2 November 2020)
  2. Anonim. 2017. Adenoids. https://medlineplus.gov/adenoids.html. (Diakses pada 2 November 2020)
  3. Anonim. 2019. Adenoiditis. https://www.webmd.com/children/adenoiditis#1. (Diakses pada 2 November 2020)
  4. Macon, Brindles L. 2017. Adenoiditis: An Infection of Your Infection-Fighting Tissue. (Diakses pada 2 November 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi