6 Cara Membersihkan Telinga dengan Aman

Doktersehat-cara-merawat-telinga

DokterSehat.Com – Kotoran telinga atau serumen umumnya memiliki bentuk seperti gumpalan lunak. Gumpalan ini dihasilkan dari produksi alami kelenjar minyak di liang telinga. Pada dasarnya, gumpalan ini mempunyai fungsi untuk menghambat pertumbuhan kuman dan memerangkap benda-benda asing dari luar telinga. Meski pada umumnya kotoran telinga tidak menyebabkan gangguan yang parah, Anda harus tahu cara membersihkan telinga yang tepat.

Sebelum Anda mengetahui cara membersihkan telinga dan alat pembersih telinga, sejumlah pakar kesehatan tidak menganjurkan membersihkan telinga dengan cara dikorek karena hal itu membuat risiko kerusakan pada bagian dalam telinga. Lantas, bagaimana cara membersihkan telinga yang benar?

Berikut adalah cara membersihkan telinga yang bisa Anda coba, di antaranya:

1. Menggunakan obat tetes telinga

Anda bisa menggunakan obat tetes telinga yang dijual bebas di apotek. Pada umumnya, obat ini dapat melunakkan gumpalan sehingga mudah dikeluarkan. Selain itu, cara membersihkan telinga lainnya juga bisa menggunakan baby oil atau gliserin.

Meskipun beberapa produk dijual bebas dan mudah ditemui di pasaran, untuk penggunaan cairan pelunak serumen sangat disarankan pengunaannya atas penilaian dokter.

2. Gunakan air hangat

Setelah penggunaan obat tetes telinga selama 3 hari, miringkan kepala dan teteskan air hangat ke dalam saluran telinga yang bermasalah, kemudian miringkan kepala ke sisi lain untuk mengeluarkan kotoran telinga.

Anda mungkin perlu mengulang proses ini beberapa kali hingga seluruh kotoran telinga keluar. Meski demikian, jangan gunakan cara ini jika telinga Anda infeksi atau Anda pernah menjalani operasi telinga.

Metode ini juga berisiko membuat kotoran telinga yang melunak menjadi masuk lebih dalam ke saluran telinga. Oleh karenanya, jika kotoran telinga tidak berkurang, segera periksakan telinga Anda ke dokter.

3. Menggunakan alat sedot khusus

Biasanya dokter dapat mengeluarkan kotoran telinga dengan alat khusus untuk mengeluarkan kotoran telinga atau memakai alat sedot (suction). Cara membersihkan telinga lainnya, dokter mungkin akan merekomendasikan irigasi telinga, yaitu pengaliran air bertekanan untuk mengeluarkan kotoran telinga.

Penggunaan alat pembersih telinga tanpa diawasi oleh dokter yang berkompetensi dikhawatirkan dapat menimbulkan barotrauma (trauma akibat perbedaan tekanan). Oleh sebab itu, sejumlah pakar kesehatan tidak menyarankan penggunaan alat penghisap seperti ini tanpa pengawasan dari dokter THT.

Jika penumpukan kotoran telinga terus berulang, dokter bisa merekomendasikan cara membersihkan telinga menggunakan obat-obatan, seperti peroksida karbamida yang pemakaiannya harus sesuai anjuran dokter, karena dapat menyebabkan iritasi gendang telinga dan kulit pada saluran telinga.

Serumen dapat diangkat dengan alat pembersih telinga yang biasanya dimiliki oleh dokter, seperti sendok serumen, forsep, atau alat penghisap. Untuk penanganan ini dapat dilakukan dengan kunjungan ke dokter spesialis THT setelah adanya pemeriksaan yang menyeluruh.

4. Tidak menggunakan cotton bud

Hindari menggunakan cotton bud, sebab hal ini berisiko merusak saluran atau gendang telinga. Selain itu, cotton bud bisa membuat kotoran semakin terdorong ke dalam. Kotoran telinga yang semakin terdorong ke dalam pada akhirnya akan membuat liang telinga dan gendang telinga mengalami peradangan. Penggunaan cotton bud, hanya untuk pada bagian daun telinga saja dengan cara mengusap perlahan.

Perlu diketahui, gendang telinga sangat rapuh, sehingga organ penting dalam telinga ini akan dengan mudah pecah bahkan saat menerima tekanan yang lembut sekalipun dari dorongan cotton bud.

5. Irigasi

Cara membersihkan telinga yang satu ini adalah dengan menggunakan irigasi. Irigasi dapat dilakukan dengan menggunakan menggunakan suntikan yang telah diisi air atau larutan salin/garam. Gunakan air hangat atau sesuai dengan suhu tubuh untuk mencegah pusing. Irigasi dilakukan setelah serumen dilunakkan dengan cairan pelunak serumen. Perlu diperhatikan, irigasi tidak boleh dilakukan pada mereka yang dicurigai memiliki perforasi (lubang) di gendang telinga.

6. Hindari penggunaan ear candle

Ear candle atau lilin telinga tidak terbukti efektif dan justru berisiko menyebabkan cedera, seperti terbakar dan tersumbatnya saluran telinga. Hindari cara membersihkan telinga dengan metode ini.

Selain itu, penggunaan ear candle untuk membersihkan telinga juga dapat menimbulkan cedera. Misalnya kotoran dari lilin yang masuk ke dalam telinga dan risiko yang mungkin dapat ditimbulkan oleh api pembakaran ear candle.

Menjaga Kesehatan Telinga

Selain beberapa cara membersihkan telinga seperti yang dijelaskan di atas, solusi aman dan tepat lainnya adalah dengan rutin melakukan pengecekan ke dokter THT. Periksakan telinga Anda ke dokter THT secara rutin setidaknya sebulan sekali atau sesuai dengan instruksi dokter.

Pemeriksaan ke dokter penting untuk dilakukan, terlebih lagi saat usia Anda mulai menua. Pasalnya, gangguan pendengaran berkembang secara bertahap, sehingga Anda perlu memastikan kondisi telinga Anda dalam keadaan sehat.

Penting untuk diketahui bahwa sebenarnya telinga memiliki mekanisme pembersihan sendiri yaitu melalui gerakan rahang seperti saat mengunyah atau melalui proses pengelupasan kulit. Saat mengunyah, kotoran telinga akan terdorong hingga bagian terluar saluran telinga. Gerakan rahang akan membantu melepaskan sisa kotoran yang menempel pada dinding saluran telinga sehingga lebih mudah terlepas.

Selain mengetahui berbagai cara membersihkan telinga, penting juga untuk Anda ketahui memahami cara menjaga kesehatan telinga secara keseluruhan. Meski telinga berfungsi untuk mendengar suara, telinga mempunyai kemampuan terbatas untuk mendengar.

Jadi, tidak semua suara yang masuk ke dalam kategori aman untuk didengar telinga Anda. Jika Anda sering terpapar suara keras hingga membuat telinga nyeri, maka hal tersebut lambat laun dapat mengurangi kemampuan mendengar.

Anda dapat mengikuti aturan 60/60 saat mendengarkan musik melalui headset. Artinya, batas volume musik Anda adalah tidak lebih dari 60 persen dan Anda menggunakannya tidak lebih dari 60 menit sehari.