Acrophobia (Fobia Ketinggian): Penyebab, Gejala dan Penanganan

acrophobia-doktersehat
Photo Credit: Flickr.com/suri

DokterSehat.Com – Acrophobia atau fobia ketinggian adalah salah satu fobia yang umum ditemui pada beberapa orang. Seseorang yang takut ketinggian akan mengalami kecemasan yang berlebihan jika dirinya berada di ketinggian. Bahkan, kecemasan juga bisa muncul ketika Anda menyeberang jembatan, melihat foto gunung atau lembah.

Penyebab Acrophobia

Ada banyak hal yang bisa menyebabkan seseorang mengalami masalah dengan acrophobia. Penyebab fobia ketinggian bisa terjadi secara alami atau memang terbentuk seiring dengan berjalannya waktu. Berikut adalah beberapa penyebab acrophobia, di antaranya:

  • Pernah jatuh dari ketinggian seperti tangga atau bangunan yang tinggi saat kecil. Setelah jatuh tubuh akan mengalami luka baik fisik maupun psikis. Dampaknya, seseorang akan mengalami rasa takut dengan ketinggian secara berlebihan karena tidak mau mengalami jatuh untuk kedua kalinya.
  • Melihat atau menyaksikan seseorang jatuh dari ketinggian. Pengalaman ini akan membuat seseorang tidak nyaman dengan ketinggian. Bahkan, penderita merasa kalau ketinggian bisa membuat seseorang terjatuh. Efek takut ini bisa muncul dengan sendirinya saat melihat secara langsung atau dari video.
  • Memiliki pengalaman buruk dengan tempat tinggi, tidak selalu berhubungan dengan jatuh. Nyaris jatuh atau mengalami trauma di ketinggian juga bisa menyebabkan seseorang mengalami acrophobia.
  • Terjadi dengan sendirinya. Biasanya masalah lingkungan memengaruhi gangguan takut terhadap ketinggian. Misalnya karena Anda memerintahkan diri sendiri untuk menghindari atau takut dengan ketinggian. Kondisi ini akan terbentuk dengan sendirinya.
  • Melihat orang terdekat mengalami takut dan ikut takut dengan sendirinya. Hal ini bisa terbentuk sejak kecil tanpa disadari.

Setelah mengetahui beberapa penyebab acrophobia seperti di atas, beberapa kondisi yang terkait fobia ketinggian, di antaranya:

1. Vertigo

Vertigo adalah kondisi medis yang menyebabkan sensasi seperti berputar. Sementara illyngophobia adalah fobia yang membuat seseorang mengembangkan rasa takut akan terjadinya gejala vertigo. Meski tidak sama, acrophobia dapat menyebabkan perasaan yang serupa.

Periksakan kondisi ke dokter jika Anda mengalami vertigo. Tes medis dapat mencakup pemeriksaan darah, CT scan, dan magnetic resonance imaging (MRI), yang dapat menyingkirkan berbagai kondisi neurologis.

2. Bathmophobia

Bathmophobia adalah ketakutan akan lereng atau tangga, terkadang kondisi ini juga terkait dengan acrophobia. Penderita bathmophobia mungkin akan panik ketika melihat lereng yang curam, bahkan jika Anda tidak memanjatnya.

Meskipun banyak orang dengan bathmophobia memiliki acrophobia, kebanyakan penderita fobia ketinggian tidak mengalami bathmophobia.

3. Climacophobia

Jika Anda menderita climacophobia, Anda mungkin tidak takut melihat tangga curam selama bisa tetap aman di bagian bawah. Namun, climacophobia dapat terjadi bersamaan dengan acrophobia.

4. Aerophobia

Aerophobia adalah ketakutan untuk terbang. Tingkat keparahan setiap orang berbeda-beda, ada yang takut hanya dengan melihat bandara dan pesawat terbang, atau mungkin hanya merasakan ketakutan ketika berada di dalam pesawat terbang. Aerophobia kadang-kadang dapat terjadi bersamaan dengan acrophobia.

Gejala Acrophobia

Penderita acrophobia merasa tidak nyaman ketika berada di ketinggian seperti di puncak menara. Begitu melongok ke bawah, rasa pusing atau grogi akan muncul. Namun, tidak semua orang mengalami panik berlebihan hingga menjerit dan ingin segera menjauh. Kalau Anda tidak panik meski terasa mual dan tidak nyaman, berarti masih normal.

Secara umum tanda dari acrophobia yang terlihat jelas ada ketakutan yang besar pada ketinggian dan menyebabkan panik. Seseorang bisa menangis dan tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Selain masalah ini, gejala acrophobia juga bisa bisa dikelompokkan ke dalam tanda fisik dan psikologi.

Gejala Fisik Acrophobia

Tanda fisik dari acrophobia terdiri dari:

  • Tubuh akan mulai berkeringat dingin dalam jumlah banyak. Di saat yang sama, dada akan terasa sangat sakit dan tertekan. Detak jantung akan meningkat tajam begitu berada di ketinggian entah itu berdiri, duduk, atau sekadar memikirkannya saja.
  • Tubuh akan terasa sangat sakit tanpa sebab. Selain itu, kepala juga akan terasa berat apalagi kalau benar-benar berada di ketinggian. Kalau kondisi ini tidak segera ditolong, seseorang akan tidak nyaman dan terus-terusan merasakan sakit.
  • Tubuh akan mendadak bergetar seperti mengalami tremor saat berada di ketinggian. Akibat tremor ini saat berjalan, mengambil sesuatu, hingga berbicara pun akan mengalami masalah. Tremor akan hilang dengan sendirinya saat tidak berada di ketinggian lagi.
  • Merasakan pusing dan mual seperti akan jatuh. Meski tidak jatuh, begitu melihat ke bawah yang sangat jauh jaraknya dari ke tanah, tubuh mendadak seperti lemas dan seakan-akan ikut terjun ke bawah.
  • Orang dengan acrophobia akan benar-benar menghindari ketinggian. Saat membeli rumah pun tidak akan memilih yang ada lantai duanya. Bahkan, hal-hal yang berkaitan dengan ketinggian seperti tangga sekalipun akan dihindari.

Gejala Psikologi Acrophobia

Berikut beberapa tanda psikologi fobia ketinggian yang terdiri dari:

  • Selalu panik sendiri ketika melihat sesuatu yang berhubungan dengan ketinggian. Selain takut dengan tangga, melihat tower yang tinggi juga bisa membuat penderita merasa gelisah.
  • Memiliki ketakutan besar kalau sampai terkunci atau terjebak di tempat yang sangat tinggi. Meski hanya membayangkannya saja, tubuh bisa menjadi lemas dan menangis.
  • Selalu mengalami kepanikan atau khawatir berlebihan saat pergi ke satu tempat baru apalagi yang berhubungan dengan ketinggian, Pergi ke mal dan naik eskalator atau lift bisa membuat penderita panik. Rumah adalah tempat yang dianggap paling nyaman daripada keluar rumah.
  • Selalu khawatir bertemu dengan ketinggian. Bahkan melihat film, membaca cerita, hingga menyetir kendaraan pun selalu dibayangi waswas. Kondisi khawatir yang berlebihan ini mengganggu kehidupan sosial dan produktivitas.

Diagnosis Acrophobia

Acrophobia hanya dapat didiagnosis oleh seorang tenaga kesehatan mental profesional seperti psikiater atau psikolog. Pastikan untuk menyebutkan semua gejala yang dialami serta berapa lama Anda mengalami hal ini.

Secara umum, acrophobia didiagnosis jika Anda:

  • Selalu menghindari ketinggian.
  • Menghabiskan banyak waktu mengkhawatirkan pertemuan di ketinggian.
  • Takut ketinggian mulai memengaruhi kehidupan sehari-hari.
  • Saat menghadapi ketinggian, tubuh akan langsung bereaksi dengan menimbulkan rasa takut dan cemas.
  • Memiliki gejala-gejala ini selama lebih dari enam bulan.

Penanganan Acrophobia

Penanganan fobia ketinggian sebenarnya bisa dilakukan dengan menghindari pemicunya. Selama tidak menyebabkan masalah pada tubuh dan aktivitas sehari-hari, Anda tidak perlu khawatir.

Berikut ini beberapa cara mengatasi fobia ketinggian, di antaranya:

  • Terapi Pemaparan

    Terapi pemaparan ini dilakukan untuk membuat seseorang dengan acrophobia terbiasa dengan ketinggian. Kalau terbiasa dengan ketinggian, rasa takut biasanya akan hilang perlahan-lahan.

  • Terapi Kognitif Perilaku

    Terapi ini dilakukan untuk memprogram ulang apa yang terjadi pada tubuh. Misal ketakutan yang berlebihan diubah menjadi hal biasa atau dipertanyakan lagi kenapa ketakutan bisa muncul. Cara ini membutuhkan terapis.

  • Menggunakan Obat Tertentu

    Obat ini tidak digunakan untuk mengobati fobia, tapi gejala berlebihan yang ditimbulkan. Penderita bisa menggunakan Beta-blockers atau Benzodiazepines.

  • Menggunakan Virtual Reality (VR)

    Dengan menggunakan perangkat VR, penderita bisa belajar menangani rasa takutnya tanpa khawatir melukai dirinya sendiri.

Pada akhirnya, acrophobia berbeda dari fobia lain karena memiliki serangan panik yang cepat saat berada di tempat yang tinggi. Kondisi ini bisa membuat langkah tidak aman sehingga bisa membahayakan diri sendiri. Jika berada di ketinggian adalah rutinitas yang harus dilakukan sehari-hari, Anda harus mendapatkan penanganan untuk mengatasi fobia ketinggian.

 

Informasi kesehatan ini telah ditinjau dr. Jati Satriyo

Sumber:

  1. Fritscher, Lisa. 2019. Symptoms, Causes, and Treatment of Acrophobia. https://www.verywellmind.com/acrophobia-fear-of-heights-2671677. (Diakses pada 10 September 2019).
  2. Raypole, Crystal. 2019. Understanding Acrophobia, or Fear of Heights. https://www.healthline.com/health/acrophobia-or-fear-of-heights-symptoms-causes-and-treatment. (Diakses pada 10 September 2019).
  3. Black, Rosemary. 2018. Acrophobia (The Fear of Heights): Are You Acrophobic?. https://www.psycom.net/acrophobia-fear-of-heights/. (Diakses pada 10 September 2019).