Terbit: 22 Desember 2020 | Diperbarui: 23 Desember 2020
Ditulis oleh: Rhandy Verizarie | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Abses anus adalah masalah kesehatan yang—walaupun mungkin tidak berbahaya—tetap saja harus segera mendapat penanganan karena bisa mengganggu aktivitas. Simak lebih lanjut mengenai gangguan medis yang satu ini mulai dari ciri dan gejala, penyebab, hingga pengobatan dan pencegahannya.

Abses Anus: Gejala, Penyebab, Pengobatan, Pencegahan

Apa Itu Abses Anus?

Abses anus—atau abses renal—adalah kondisi ketika pada anus terdapat benjolan yang berisikan nanah (abses).  Selain di anus, abses tersebut pada beberapa kasus juga muncul di ujung usus besar yang terkoneksi dengan anus atau disebut rektum.

Dalam perkembangannya, kondisi ini dapat berujung pada fistula anal. Ini adalah kondisi ketika pada anus terbentuk saluran abnormal. Apabila sudah sampai sedemikian, maka yang terjadi adalah timbulnya rasa sakit tak tertahankan. Bahkan, penderita bisa sangat kesulitan saat buang air besar (BAB).

Ciri dan Gejala Abses Anus

Nyeri berdenyut dan terus-menerus di area anus mungkin adalah salah satu gejala abses anus yang paling umum dan langsung terlihat. Rasa sakit tersebut biasanya disertai dengan pembengkakan di daerah anus dan nyeri yang lebih hebat saat buang air besar.

Tanda-tanda umum abses anal lainnya meliputi:

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Tempo Scan Baby Fair - Advertisement
  • Sembelit
  • Keluarnya cairan dari rektum
  • Pembengkakan atau nyeri pada kulit di sekitar anus
  • Kelelahan

Beberapa orang mungkin bisa merasakan benjolan kemerahan, bengkak, dan nyeri di tepi anus. Sementara itu, demam dan menggigil terjadi apabila sudah sampai terjadi infeksi. Anda mungkin juga mengalami perdarahan rektal atau kesulitan buang air kecil.

Abses anal juga dapat terjadi lebih dalam di rektum, paling sering pada mereka yang memiliki penyakit radang usus. Ini bisa menyebabkan rasa sakit atau ketidaknyamanan di area perut.

Pada balita, biasanya tidak ada banyak gejala selain ketidaknyamanan atau nyeri, yang dapat menyebabkan anak rewel. Benjolan atau nodul juga dapat terlihat atau dirasakan di sekitar area anus.

Kapan Harus Periksa ke Dokter?

Segera periksakan diri ke dokter apabila mengalami gejala-gejala yang mengarah pada kondisi ini. Penanganan medis sedini mungkin perlu dilakukan guna meredakan gejala sebelum bertambah buruk dan menjadi lebih sulit untuk diobati.

Penyebab Abses Anus

Abses anus dapat memiliki banyak penyebab berbeda. Ini termasuk:

  • Fisura anus
  • Infeksi seksual menular
  • Sumbatan pada kelenjar anus

Faktor Risiko Abses Anus

Sementara itu, sejumlah faktor diklaim berperan dalam meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami masalah medis yang satu ini. Faktor-faktor tersebut antara lain sebagai berikut:

  • Penyakit Crohn atau kolitis ulserativa, yaitu penyakit radang usus yang menyebabkan tubuh menyerang jaringan sehat
  • Diabetes
  • Sistem kekebalan yang terganggu karena penyakit seperti HIV atau AIDS
  • Seks anal, yang dapat meningkatkan risiko abses anal pada pria dan wanita
  • Penggunaan obat prednison atau steroid lainnya
  • Tengah menjalani kemoterapi
  • Sembelit
  • Diare

Balita atau anak-anak yang memiliki riwayat fisura anus (robekan pada sfingter anus) juga berisiko lebih tinggi mengalami abses anus pada kemudian hari. Fisura anus seperti itu mungkin terjadi pada anak-anak yang memiliki riwayat sembelit.

Diagnosis Abses Anus

Guna memastikan apakah pasien mengalami abses anus atau bukan, dokter akan melakukan sejumlah prosedur diagnosis yang terdiri dari:

  • Anamnesis
  • Pemeriksaan fisik
  • Pemeriksaan penunjang

1. Anamnesis

Pertama-tama, dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan kepada pasien berkaitan dengan keluhan yang ia alami.

  • Gejala apa saja yang dirasakan?
  • Sudah berapa lama gejala muncul?
  • Apa pernah mengalami kondisi ini sebelumnya?
  • Apakah sedang atau pernah mengalami penyakit infeksi menular seksual (IMS)?
  • Apakah memiliki riwayat penyakit lainnya?
  • Obat apa yang saat ini dikonsumsi?

2. Pemeriksaan Fisik

Abses anus paling sering didiagnosis melalui pemeriksaan fisik yang mana dokter akan memeriksa area anus untuk menganalisis kemunculan abses. Dokter Anda juga akan memeriksa rasa sakit, kemerahan, dan bengkak pada area anus.

Pada beberapa orang, mungkin tidak ada tanda-tanda abses yang terlihat di permukaan kulit di sekitar anus mereka. Jika ini yang terjadi, dokter akan menggunakan alat yang disebut endoskop untuk melihat ke dalam saluran anus dan rektum bawah.

3. Pemeriksaan Penunjang

Terkadang abses berada jauh lebih dalam daripada yang dapat ditemukan melalui pemeriksaan fisik. Apabila demikian, dokter mungkin akan melakukan pemindaian dengan medium MRI atau ultrasound untuk mendapat gambaran lebih jelas.

Selain itu, tes lebih lanjut mungkin diperlukan untuk memastikan bahwa penyakit Crohn bukanlah faktor penyebabnya. Dalam kasus ini, tes darah, pencitraan, dan kolonoskopi mungkin diperlukan. Selama kolonoskopi, dokter akan menggunakan teropong fleksibel untuk memeriksa usus besar Anda.

Pengobatan Abses Anus

Abses anus jarang hilang tanpa pengobatan. Penanganan yang paling umum adalah dengan melakukan tindakan operasi untuk mengeluarkan nanah dari area yang terdampak. Dokter Anda akan terlebih dahulu membius titik tindakan.

Jika tidak segera mendapat penanganan, abses tersebut berubah menjadi fistula anal yang menyakitkan yang mungkin memerlukan tindakan bedah lebih lanjut. Menurut American Society of Colon and Rectal Surgeons (ASCRS), sekitar 50 persen orang yang memiliki abses anus berujung pada fistula anal.

Pada beberapa kasus, kateter dapat digunakan untuk memastikan abses benar-benar terkuras. Abses yang telah dikeringkan biasanya dibiarkan terbuka dan tidak memerlukan jahitan. Jika Anda menderita diabetes atau sistem kekebalan yang lemah, dokter mungkin akan meminta Anda untuk tinggal di rumah sakit selama beberapa hari.

Setelah operasi, dokter akan meminta Anda untuk mandi air hangat (bukan air panas). Air hangat akan membantu mengurangi pembengkakan dan memungkinkan drainase abses lebih banyak.

Dokter mungkin juga meresepkan antibiotik jika Anda memiliki sistem kekebalan yang lemah atau jika infeksi telah menyebar.

Komplikasi Abses Anus

Komplikasi pascaoperasi dapat meliputi:

  • Infeksi
  • Fisura anus
  • Abses muncul kembali
  • Jaringan parut

Pencegahan Abses Anus

Tidak banyak yang diketahui tentang cara mencegah abses anus. Namun ada beberapa langkah yang bisa Anda lakukan, termasuk:

  • Perlindungan terhadap IMS dan pengobatan yang tepat penting untuk setiap infeksi.
  • Penggunaan kondom, terutama saat melakukan seks anal.
  • Menjaga kebersihan di area anus merupakan perlindungan penting bagi anak-anak dan orang dewasa.

Abses dubur dapat menyebabkan komplikasi, tetapi bisa teratasi. Pahami faktor risiko dan pastikan untuk memantau dan mengelola kondisi kesehatan yang dapat meningkatkan risiko dengan cermat. Jika Anda melihat adanya masalah pada anus, segera hubungi dokter untuk mendapatkan perawatan dan untuk mencegahnya menjadi lebih buruk.

 

  1. Anonim. Anal Abscess. https://www.webmd.com/a-to-z-guides/anal-abscess#1 (accessed on 22 December 2020)
  2. Anonim. Abscess and Fistula Expanded Information. https://fascrs.org/patients/diseases-and-conditions/a-z/abscess-and-fistula-expanded-information (accessed on 22 December 2020)
  3. Kennard, J. 2020. An Overview of Anal or Rectal Abscess. https://www.verywellhealth.com/perirectal-abscess-2328821 (accessed on 22 December 2020)
  4. Win, C et al. 2017. Anal/Rectal Abscess. https://www.healthline.com/health/anorectal-abscess#prevention (accessed on 22 December 2020)


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi