Inilah 4 Hal yang Bisa Membuat Risiko Impotensi Semakin Besar

Doktersehat-impotensi
Photo Credit: Flickr.com/Martyn Hayes

DokterSehat.Com – Impotensi adalah suatu kondisi ketika alat kelamin pria tidak mampu ereksi atau sulit bertahan di posisi ereksi. Secara umum impotensi disebut juga sebagai disfungsi ereksi. Tak jarang bila terdapat gejala tidak umum yang dirasa mengganggu aktivitas seksual maka hal itu dianggap sebuah gejala impoten.

Perlu diketahui, impotensi juga ada yang sifatnya disfungsi ereksi temporer, karena berhubungan dengan faktor psikis. Misalnya suami mendadak impoten dengan pasangannya karena ternyata dia memendam rasa sakit hati terhadap pasangannya. Namun saat harus ‘bertempur’ dengan wanita lain, alat vitalnya kembali berfungsi normal.

Apakah semua disfungsi ereksi harus diobati dengan obat resep dokter? Ternyata tak semua kasus melempemnya kejantanan harus ditangani dengan obat-obatan.

baca juga: Benarkah Kecanduan Pornografi Sebabkan Impotensi pada Pria?

Pada kasus disfungsi ereksi terkait faktor psikis, biarpun diberi obat—namun jika akar masalahnya tidak ditemukan maka hasilnya akan sia-sia. Saat akar masalah dari disfungsi ereksi yang disebabkan oleh masalah psikis ketemu, maka penis akan berfungsi normal kembali.

Berikut ini adalah empat kebiasaan pria yang bisa menyebabkan impotensi, di antaranya:

  1. Menurut American Journal of Epidemiology, kebiasaan merokok meningkatkan risiko terjadinya disfungsi ereksi hingga 2,74 kali lipat dibanding bukan perokok.
  2. Menurut Journal of Urology, laki-laki yang kegemukan (obesitas) memiliki peluang mengalami disfungsi ereksi dalam kurun waktu 14 tahun.
  3. Menurut American Journal of Medicine, kurang lebih 18% pria Amerika berusia di atas 20 tahun mengalami disfungsi ereksi. Selain itu, sekitar 51,3% penderita diabetes melitus di Amerika mengalami impotensi.
  4. Disfungsi ereksi dua kali lipat lebih banyak ditemukan pada orang yang mengalami depresi. Sebaliknya pada kelompok pasien yang mengalami disfungsi ereksi sekitar 82% mengalami depresi.

Mengenali dan Menangani Impotensi

Gejala utama seorang pria yang mengalami impotensi meliputi sulitnya penis mencapai ereksi, sulitnya penis bertahan di posisi ereksi hingga menurunnya gairah seksual.

Impotensi bukan merupakan masalah serius apabila hanya dialami sesekali. Namun apabila gejalanya tidak kunjung hilang, maka hal ini bisa jadi merupakan tanda peringatan bahwa Anda sedang menderita kondisi serius.

Selain berdampak buruk bagi kehidupan seksual Anda, impotensi juga bisa menimbulkan gangguan psikologi. Anda mungkin saja akan merasa tidak percaya diri dan depresi karena tidak bisa memuaskan pasangan.

Bila impotensi membuat Anda semakin cemas atau tidak nyaman, segera konsultasi dengan dokter andrologi atau psikiater untuk membantu menganalisa penyebab keluhan yang Anda alami.

Selain berkonsultasi dengan tenaga medis profesional, tindakan apa yang bisa dilakukan untuk menangani impotensi?

Pada dasarnya, pengobatan impotensi akan bergantung kepada penyebabnya yang diketahui melalui hasil diagnosis. Sebagai contoh, jika impotensi disebabkan oleh diabetes atau penyakit jantung, maka kedua kondisi tersebut harus diobati terlebih dahulu. Impotensi biasanya akan pulih dengan sendirinya setelah kondisi yang mendasarinya berhasil diobati.

baca juga: Waspada, Inilah 4 Penyebab Impotensi yang Sering Diabaikan

Apabila impotensi Anda disebabkan oleh gangguan psikologis, maka pengobatan harus dilakukan oleh dokter spesialis terkait, seperti psikolog atau psikiater. Contoh pengobatan yang bisa dilakukan adalah konseling untuk membahas masalah di dalam hubungan Anda bersama pasangan serta mencari solusinya, atau melalui terapi untuk memperbaiki pola pikir pemicu impotensi.

Jika impotensi disebabkan oleh efek samping obat-obatan yang sedang Anda konsumsi, maka sebaiknya temui dokter Anda untuk dikaji lebih lanjut apakah obat tersebut harus tetap dikonsumsi atau dicari alternatifnya.

Agar penanganan impotensi mendapatkan hasil yang maksimal, maka harus ditunjang dengan:

  • Mengurangi stres.
  • Berhenti merokok.
  • Tidak mengonsumsi minuman beralkohol.
  • Tidak menggunakan obat-obatan terlarang.
  • Coba turunkan berat badan jika mengalami obesitas.
  • Olahraga secara teratur.
  • Konsumsi makanan bergizi.