5 Mitos Tentang Seafood (No. 2 Banyak Dipercaya)

seafood-kerang-doktersehat
Photo Source: Pexels

DokterSehat.Com– Siapa yang tidak suka dengan seafood atau makanan laut? Makanan laut dikenal tinggi kandungan nutrisi yang baik bagi kesehatan tubuh. Hanya saja, ada banyak sekali mitos tentang seafood yang membuat kita terkadang ragu untuk memakannya. Seperti apa fakta kesehatan di baliknya?

Mitos tentang seafood dan fakta sebenarnya

Mitos-mitos tentang seafood ini biasanya terkait dengan munculnya masalah-masalah kesehatan tertentu jika kita mengonsumsinya. Masalahnya adalah tidak semua mitos ini ternyata sesuai dengan fakta kesehatan.

Berikut adalah beberapa mitos tentang seafood dan kebenarannya:

  1. Seafood bisa menyebabkan kolesterol tinggi

Mitos yang menyebut kebiasaan makan seafood bisa menyebabkan kolesterol tinggi tidak sepenuhnya benar.

Sebagian besar makanan laut cenderung memiliki kadar kolesterol jahat (LDL) yang tinggi. Hanya saja, seafood sebenarnya juga memiliki kadar kolesterol baik (HDL) yang tinggi. Kolesterol baik inilah yang bisa membantu tubuh menjaga keseimbangan kolesterol sehingga kita pun tidak akan mudah terkena masalah kolesterol tinggi.

Asalkan konsumsi seafood masih wajar, tidak terlalu sering atau tidak terlalu banyak porsinya, risiko terkena kolesterol tinggi bisa ditekan. Selain itu, kita juga harus memperhatikan cara pengolahan seafood.

Jika seafood digoreng atau diberi tambahan mentega, bisa jadi kadar kolesterolnya akan meningkat dengan signifikan. Sementara itu, jika seafood diolah dengan cara direbus atau dikukus, kadar kolesterolnya biasanya tidak akan naik sehingga aman untuk dikonsumsi.

Kita juga harus pandai-pandai memilih seafood agar bisa mengonsumsi seafood dengan kadar kolesterol yang tidak terlalu tinggi sehingga lebih aman bagi kesehatan.

  1. Tidak boleh minum jeruk setelah makan seafood

Banyak orang yang percaya jika setelah makan seafood, sebaiknya kita tidak mengonsumsi minuman jeruk karena bisa memicu keracunan makanan. Padahal, menurut pakar kesehatan, kepercayaan ini sama sekali tidak benar.

Kandungan vitamin C yang tinggi di dalam minuman jeruk disebut-sebut bisa membahayakan kesehatan setelah makan makanan laut. Padahal, keberadaan vitamin C ini justru bisa memberikan manfaat kesehatan, tepatnya dalam hal menghambat penyerapan kandungan lemak di dalam usus.

Sebagaimana kita ketahui, lemak di dalam seafood biasanya cukup tinggi. Dengan terhambatnya penyerapan lemak ini, maka tubuh, khususnya organ kardiovaskular bisa menjadi lebih sehat meski kita hobi makan seafood.

Meskipun boleh mengonsumsi minuman jeruk setelah makan seafood, pastikan bahwa minuman ini tidak diberi tambahan gula karena bisa membuat konsumsi gula berlebihan yang berimbas buruk pada berat badan, risiko diabetes, dan risiko kolesterol tinggi.

  1. Ikan bisa sebabkan keracunan merkuri

Memang, sebagian ikan laut memiliki kandungan merkuri, namun asalkan ikan ini tidak dikonsumsi dengan berlebihan, dampaknya biasanya tidak akan berbahaya bagi kesehatan. Meskipun begitu, kita memang sebaiknya menghindari ikan dengan kandungan merkuri tinggi seperti ikan tuna sirip kuning, ikan hiu, ikan king mackerel, serta ikan pedang.

Ikan laut yang biasa dikonsumsi seperti salmon, tuna, dan sarden biasanya tidak akan menyebabkan keracunan merkuri asalkan dikonsumsi dengan jumlah dan frekuensi yang wajar.

  1. Ikan beku tidak bergizi

Ikan beku memang cukup praktis untuk diolah. Hanya saja, banyak orang yang menganggapnya tidak memiliki nilai gizi. Padahal, perubahan suhu ini hanya ditujukan agar ikan ini tetap segar dalam waktu yang lama, bukannya menurunkan nilai gizinya. Asalkan dicairkan dengan tepat sebelum dimasak, kandungan nutrisinya tidak akan rusak.

  1. Ibu hamil dilarang makan ikan

Justru, ikan sangat direkomendasikan bagi ibu hamil karena bisa menyediakan protein, asam lemak omega 3, dan nutrisi lain yang baik bagi kesehatan dan perkembangan kehamilan.