Terbit: 25 Mei 2018
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com– Memberikan makanan padat untuk pertama kali pada anak merupakan fase penting bagi perkembangan anak. Sayangnya masih banyak kesalahan yang dilakukan orang tua ketika memberikan MPASI pada anak. Apa saja kesalahan tersebut?

5 Mitos Pemberian MPASI yang Masih Sering Dilakukan Orang Tua

Kesalahan saat memberikan MPASI pada anak

1. Memberi sayur lebih dahulu daripada buah

Sebagian besar anak kecil tidak suka sayur. Padahal sayur mmiliki kandungan gizi yang baik untuk perkembangan anak. Banyak orang tua beranggapan bahwa sebagai makanan pertama anak, sebaiknya ibu memperkenalkan sayur terlebih dahulu dibanding buah. Tujuannya adalah untuk menanamkan kesukaan anak pada sayuran.

Namun anggapan ini terbukti tidak benar. Pemberian sayur lebih dahulu tidak bisa menjamin bahwa anak akan tumbuh sebagai penyuka sayuran. Buah disarankan untuk diberikan sebagai makanan pertama anak karena relatif lebih mudah diolah oleh pencernaan bayi.

2. Telur dan ikan baru bisa diberikan setelah 1 tahun

Tak sedikit orang tua yang menunda pemberian telur dan ikan atau protein lainnya seperti daging merah pada anak hingga si kecil berumur 1 tahun. Salah satu penyebabnya adalah khawatir anak alergi dan pencernaanya belum bisa mencerna protein.

Faktanya, anak bisa makan protein sejak berusia 6 bulan. Telur, ikan dan daging merupakan jenis protein yang bisa diberikan ada bayi. Namun pemberian protein tersebut tetap perlu menyesuaikan usia bayi, porsi dan tekstur makanan yang bisa diterima bayi.

Sedangkan untuk telur, memang makanan ini dapat memicu alergi makanan pada anak. Ketika memberikan telur, Anda perlu mengamati reaksi alergi yang muncul pada kulit anak. Jika anak alergi, maka sebaiknya berikan secara bertahap atau tunda pemberian telur hingga anak berusia 1 tahun. Namun jika anak tidak memiliki alergi telur, Anda bisa memberikan telur untuk makanan MPASI.

3. Menghindari memberikan hati sebagai MPASI

Banyak orang tua yang enggan memberikan hati pada buah hati karena organ ini berfungsi untuk mengolah racun tubuh. Padahal hati ayam merupakan bahan makanan yang kaya akan zat besi. Bahan makanan ini baik untuk memenuhi kebutuhan zat besi anak khususnya bagi bayi ASI eksklusif. Asalkan diolah dengan bersih dan sehat, hati ayam dapat menjadi olahan makanan yang bergizi bagi anak.

4. Sudah MPASI, tidak perlu ASI lagi

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan orang tua adalah mengabaikan peran ASI pada masa MPASI. MPASI memang upaya untuk memenuhi gizi bayi yang tidak didapatkan dari ASI. Namun bayi masih perlu mendapat ASI hingga berusia 2 tahun.

5. Tidak meningkatkan tekstur makanan karena bayi belum punya gigi

Tidak semua bayi sudah memiliki gigi pada usia 6 bulan atau pada usia permulaan MPASI. Akibatnya orang tua ragu untuk meningkatkan tekstur makanan karena khawatir anak tidak bisa mengolahnya dengan baik. Namun sebenarnya penigkatan tekstur diperlukan untuk merangsang pertumbuhan gigi dan melatih pencernaan bayi. Umumnya peningkatan tekstur diperlukan ketika bayi berusia 8-9 bulan.


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi