Terbit: 1 April 2018
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com – Setiap orang memiliki kesenangan tersendiri saat berhubungan badan. Ada yang menyukai seks dilakukan di kamar mandi. Ada yang suka seks dengan pakaian lengkap dan tidak sedikit pula pasangan melakukan seks dengan atribut tertentu. Misal pria harus mengenakan pakaian militer dan wanita dandan seperti boneka.

3 Alasan Mengapa Melakukan Seks dengan Kekerasan Adalah Kelainan

Hal-hal yang disebutkan di atas adalah fetish atau kesenangan yang aneh-aneh dalam bercinta. Selain mengenakan baju dengan tema tertentu, ternyata ada juga pasangan yang memiliki festish berupa seks yang dilakukan dengan kekerasan.

Amankah seks dilakukan dengan kekerasan? Lantas, apakah seks jenis ini normal dan bukan kelainan? Simak tiga poin di bawah ini.

1. Melukai pasangan

Beberapa orang yang melakukan seks dengan kekerasan atau BDSM memang kerap menyiksa pasangannya. Namun, penyiksaan tetap dalam batas wajar. Mereka tidak akan sampai membuat luka dalam yang membuat tubuh mengalami perdarahan.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Sensodyne - Advertisement

Meski demikian, ada kalanya saat menyiksa pasangan, seseorang jadi lepas kendali. Dampaknya, pasangan bisa terluka parah.

2. Tidak ada seks yang adil

Seks jenis ini biasanya membagi pasangan menjadi dua golongan. Pertama adalah dominan dan yang kedua pasif. Yang dominan akan menyiksa pasangan apa pun caranya. Dia tidak memedulikan kenikmatan pasangan. Yang penting dia bisa puas dan mendapatkan orgasme.

3. Seks tidak menghasilkan kedekatan

Barangkali seks jenis ini bisa membuat pasangan mendapatkan kenikmatan yang besar baik yang dominan atau pasif. Namun, kedekatan emosional dari dua belah pihak akan sudah terjadi.

Seks hanya akan berjalan sebagai aktivitas melampiaskan diri dengan pasangan saja. Selebihnya tidak akan ada aktivitas lain yang bisa mendekatkan pasangan. Afterplay pun hanya berjalan wajar saja.

Aktivitas seks jenis ini sudah termasuk kelainan. Kalau sampai dilakukan, pasangan bisa saja menderita hingga mungkin meninggal dunia.

 


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi