WHO Segera Mengirim Vaksin Kolera ke Haiti Pasca Badai Matthew

DokterSehat.Com – Badan kesehatan dunia PBB, WHO menyebutkan jika badai Matthew yang baru-baru ini menerjang Negara kecil di Karibia, Haiti, telah memberikan kerusakan yang sangat dahsyat. Selain angin kencang, badai ini juga memicu banjir di berbagai tempat sehingga berpotensi membuat sumber-sumber air tercemar. Banyaknya orang yang mengungsi dan kemungkinan tercemarnya sumber air membuat Negara pulau ini beresiko tinggi terkena endemic kolera sehingga WHO pun berinisiatif untuk mengirim vaksin kolera dan berbagai obat-obatan lainnya yang dibutuhkan.

doktersehat-vaksin-ulang-kolera

Wabah kolera sendiri pertama kali muncul pada tahun 2010, tahun dimana Haiti terkena gempa bumi dahsyat yang juga menghancurkan Negara kecil ini. Sayangnya, pasukan perdamaian PBB yang berasal dari Nepal lah yang menularkan kolera ke masyarakat Haiti. Semenjak itu, WHO mencatat bahwa Haiti tekena 800 ribu kasus penyakit kolera dengan korban meninggal hingga mencapai 9.300 kasus. Di tahun ini saja, sudah ada 30 ribu kasus kolera di Negara ini sehingga adanya dampak dari badai Matthew kemungkinan besar bisa memicu endemi yang berbahaya.

Dominique Legros, ahli penyakit kolera dari WHO menyebutkan jika korban bencana alam di Haiti harus mendapatkan prioritas utama berupa pasokan air bersih yang sangat sulit untuk didapatkan. Dengan mendapatkan pasokan air bersih yang cukup, diharapkan kolera bisa dicegah dengan baik. Selain itu, WHO juga menyebutkan jika 35 dari total 197 fasilitas kesehatan di Haiti sudah rusak parah karena diterjang badai dan memperkirakan ada dua juta warga yang sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan.

Sejauh ini, WHO sudah mengirimkan satu juta dosis vaksin kolera ke negara kecil ini dengan pilihan pemberian vaksin berupa dua dosis setiap orang yang bisa diberikan pada 500 ribu orang, pemberian satu dosis setiap orang, hingga pemberian setengah dosis setiap orang sehingga akan ada dua juta orang yang mendapatkan vaksin ini. Sayangnya, semakin sedikit dosis vaksin, semakin pendek pula waktu vaksin ini bekerja. Padahal, bulan November hingga Januari mendatang diperkirakan akan menjadu puncak musim hujan dan membuat penularan kolera bisa menjadi semakin parah.