Waspadai Sindrom Patah Hati

DokterSehat.Com – Sindrom patah hati (broken heart syndrome) adalah gangguan jantung sementara yang diakibatkan oleh situasi yang membuat penderitanya tertekan atau stres. Dalam terminologi medis, patah hati bukan sekadar masalah seseorang yang mengalami putus cinta, melainkan bisa karena kehilangan seseorang yang sangat dicintai, seperti suami, istri, anak/cucu, atau sahabat karib.Penyakit berat nonkardiak (masalah primernya bukan pada jantung) juga bisa menjadi pencetus kelainan ini.

doktersehat-fobia-takut

Awalnya kondisi ini disebut dengan takotsubo cardiomyopathy, namun belakangan kondisi ini juga merujuk pada cardiomyopathy yang dipicu oleh stres atau sindrom balon apikal (apical ballooning syndrome).

Penderita sindrom ini tiba-tiba akan mengalami nyeri dada atau merasa mengalami serangan jantung. Gejalanya sendiri disebabkan oleh reaksi jantung terhadap munculnya hormon stres atau kortisol ketika si penderita dihadapkan pada situasi yang tertekan.

Dalam jangka waktu yang pendek, sebagian jantung penderita pun membesar dan tidak dapat berfungsi dengan baik, sebagian jantung lainnya akan bekerja dengan normal atau malah berkontraksi terlalu kuat.

Beruntung gejala-gejalanya bisa diobati dan kondisi ini akan pulih dengan sendirinya dalam waktu seminggu. Kelainan ini 90 persen dialami perempuan, khususnya yang telah mengalami menopause. Para ahli menduga, kejadian pada laki-laki lebih sering dari yang diperkirakan, tetapi tidak terdeteksi karena meninggal sebelum tiba di rumah sakit.

Gejala

  • Nyeri dada
  • Sesak nafas
  • Detak jantung yang tidak beraturan
  • Sekujur tubuh terasa lemas

Mekanisme
Peningkatan kadar hormon adrenalin dan noradrenalin dalam tubuh, yang dicetuskan oleh adanya stres fisik dan psikis berat, merupakan penyebab utama kelainan ini. Dari berbagai laporan disebutkan, kadar noradrenalin meningkat pada lebih dari 75 persen kasus. Peningkatannya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kadar pada penderita serangan jantung.

Peningkatan kadar noradrenalin yang berlebihan dapat memicu terjadinya spasme (kejang), yakni pengecilan diameter pembuluh nadi jantung atau mikrovaskular, sehingga mengganggu pasokan aliran darah ke otot jantung. Hal ini pada akhirnya berpotensi menimbulkan kerusakan otot jantung. Selain itu, noradrenalin yang berlebihan secara langsung bersifat toksik terhadap otot jantung.

Peningkatan aktivitas sistem saraf simpatis diduga ikut mendasari. Seperti halnya penderita shock perdarahan atau penyakit phaeokromositoma yang juga mengalami peningkatan kadar adrenalin dan noradrenalin berlebihan, gangguan fungsi pompa otot jantung atau kelainan EKG sering dijumpai.

Namun, masih belum ada penjelasan memuaskan mengapa yang mengalami gangguan paling berat adalah bagian puncak (apeks) dari ventrikel kiri. Adapun bagian dasar tetap normal sehingga jantung menggelembung seperti perangkap cumi-cumi.

Hipotesis yang ditawarkan adalah, tidak seperti bagian lain di jantung, bagian puncak jantung tidak memiliki tiga lapisan (endokardium, miokardium, dan epikardium) sehingga lebih tipis dan kurang elastis.

Keadaan ini memudahkan penderita mengalami iskemia karena sirkulasi darah pembuluh koroner relatif berkurang dan lebih peka terhadap stimulasi adrenergis. Hal ini diduga berperan terhadap peningkatan sensitivitas bagian puncak terhadap peningkatan kadar hormon adrenalin dan noradrenalin.

Komplikasi
Meski sebagian besar penderita penyakit ini dapat pulih seperti sediakala, komplikasi yang mematikan dapat terjadi. Komplikasi berat yang dilaporkan adalah bengkak pada paru, kelainan irama jantung ganas, shock kardiogenik, disfungsi katup mitral, pembentukan bekuan darah, stroke, hingga kematian. Dengan pengobatan yang tepat, sebagian besar pasien dapat diselamatkan dan pulih seperti sediakala.

Sindroma patah hati perlu diwaspadai. Sering kali para anggota keluarga mengabaikan keluhan penderita kelainan ini karena menganggap hanya respons psikologis wajar akibat kehilangan pasangan hidup atau orang yang amat dikasihi.

Penanganan yang tidak tepat dan cepat dapat mengantar penderita pada masalah yang lebih serius dan terkadang fatal.

Pengobatan
Tak ada pengobatan standar untuk mengatasi sindrom patah hati. Biasanya setelah dokter mendiagnosis penderita dengan sindrom ini, barulah dokter meresepkan obat-obatan untuk gangguan jantung seperti angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitors, beta blockers atau obat diuretik hingga penderita pulih.