Waspadai, Penyakit Epididimitis Pada Pria!

DokterSehat.com – Epididimitis merupakan peradangan pada epididimis, yakni struktur yang terletak di atas dan di sekeliling testis. Organ ini berfungsi sebagai pengangkut, yakni tempat penyimpanan dan pematangan sel sperma yang berasal dari testis. Epididimis biasanya lebih berat ketimbang epididimis kronis. Epididimis kronis biasanya terjadi selama lebih dari 6 minggu.



Penyebab

Epididimitis biasanya diakibatkan oleh bakteri yang berhubungan dengan:

  • Infeksi saluran kemih
  • Prostatitis (infeksi prostat)
  • Penyakit menular seksual seperti gonore dan klamidia

Epididimitis juga merupakan komplikasi dari pemasangan kateter dan prostatektomi atau pengangkatan prostat. Pria yang sering berganti-ganti pasangan seks dan tidak mengguanakn kondom berisiko lebih besar mengalami penyakit ini.

Gejala

Penyakit ini biasanya ditandai dengan nyeri dan pembengkakan skrotum yang bisa bersifat ringan atau berat. Jika peradangan sudah parah maka bisa mengakibatkan penderita tidak bisa berjalan akibat sangat nyeri. Infeksi juga bisa menjadi sangat berat dan menyebar ke testis yang berdekatan.
Infeksi hebat dapat mengakibatkan demam dan kadang pembentukan abses (pernanahan).

Gejala lainnya yang mungkin ditemukan antara lain:

  • Testis terasa nyeri saat buang air besar
  • Testis membengkak
  • Selangkangan membengkak pada sisi yang terkena
  • Benjolan di testis
  • Keluar nanah dari lubang ujung penis
  • Demam
  • Ada darah di cairan semen
  • Nyeri saat berkemih
  • Nyeri di selangkangan
  • Nyeri saat berhubungan seks atau ejakulasi

Pengobatan

Untuk mengatasi infeksi, diberikan antibiotik. Selain itu juga diberikan obat pereda nyeri dan anti peradangan. Penderita sebaiknya menjalani tirah baring dengan skrotum diangkat dan dikormpres dingin.

Pencegahan

Ketika menjalani pembedahan, seringkali dilakukan tindakan pencegahan dengan memberikan antibiotik profilaktik kepada orang-orang yang berisiko menderita  epididimitis. Epididimitis yang disebabkan penyakit menular seksual bisa dicegah dengan cara melakukan hubungan seksual yang aman dan terlindungi (misalnya tidak berganti-ganti pasangan dan menggunakan kondom).