
DokterSehat.com telah dipercaya lebih dari 6 tahun sebagai Informasi Kesehatan, tips kesehatan
dan konsultasi online segala macam jenis penyakit, kanker, seksualitas dan kesehatan keluarga.
DokterSehat.com – Sari, ibu dari Putera (6), belakangan bertanya-tanya tentang kenormalan organ vital anaknya. Dia merasa pertumbuhan penis putranya tidak sesuai usianya.
“Saya lihat, kok, berbeda perkembangannya dengan adik laki-lakinya. Terlalu kecil,” ujar perempuan warga Tangerang, Banten, itu beberapa waktu lalu. Dia lantas membawa putranya ke dokter anak di sebuah rumah sakit. Dokter menyarankan pengukuran terlebih dahulu. Tetapi, si kecil terus menolak dan menangis setiap kali alat kelamin hendak diukur sehingga mereka pulang tanpa hasil.
Pada saat anak usia enam tahun, Sari tetap merasa penis putranya tidak bertumbuh. ”Dengan usianya sekarang, tinggi badan 128 cm dan berat 30 kilogram, penis anak saya hanya seruas ibu jari. Skrotum juga tidak bertambah besar,” katanya.
Ketika kembali ke rumah sakit, dokter menyarankan agar Sari melihat perkembangan lebih lanjut lagi. Dokter tersebut, menurut Sari, khawatir adanya efek samping jika terapi dilakukan terlalu cepat.
”Dokter katakan, ’Nanti libido anak meningkat dan perubahan fisik terjadi terlalu cepat,’” katanya. Pulanglah Sari dengan rasa penasaran yang terus bergantung.
Tidak hanya Sari yang resah. Dokter ahli andrologi dan seksologi, Wimpie Pangkahila, belakangan makin sering kedatangan pasien-pasien kecil. Dalam satu bulan, lima hingga enam bocah laki-laki berusia 6-10 tahun dengan kasus penis yang terlalu kecil datang kepadanya. Dalam bahasa kedokteran, kondisi itu disebut mikropenis. Ada yang penisnya hanya sepanjang 1 sentimeter.
”Sepertinya kasus mikropenis semakin sering ditemukan. Tetapi, untuk membuktikan fenomena itu, harus ada penelitian,” ujar Wakil Ketua Umum Perkumpulan Kedokteran Antipenuaan Indonesia (Perkapi) itu.
Wimpie menduga, kasus mikropenis ada kaitannya dengan makanan yang dikonsumsi. Perkembangan penis terkait dengan hormon testosteron yang bertanggung jawab atas karakteristik pria. Dia menduga, produk ternak yang dikonsumsi ada yang mengandung hormon estrogen. Estrogen berperan dalam produksi hormon seks perempuan dan perkembangan ciri kelamin sekunder perempuan.
Ternak bisa saja mendapatkan estrogen lewat pakan ataupun injeksi. Biasanya dengan tujuan agar ternak cepat gemuk. Namun, Wimpie kembali menekankan perlunya penelitian mengenai kaitan produk ternak dengan kasus tersebut.
Zat-zat pengganggu
Spesialis endokrin anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Aman B Pulungan, berpendapat, mikropenis lebih disebabkan faktor hormonal sejak anak masih dalam kandungan.
Dalam berbagai studi mengenai kasus tersebut diketahui adanya zat kimia yang mengganggu atau mengubah fungsi endokrin yang disebut endocrine disrupter chemicals (EDC).
Zat pengganggu itu dapat menghambat kerja androgen, terutama mengganggu substansi yang bertanggung jawab dalam pembentukan organ seksual dan perkembangan karakteristik sekunder laki-laki. EDC tersebut, antara lain, adalah sejumlah zat yang terdapat dalam pestisida kimia, misalnya diklorodifeniltrikloroetan (DDT). Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah melarang sejumlah formulasi pestisida karena berbahaya bagi kesehatan secara keseluruhan. DDT termasuk bahan aktif yang dilarang.
Zat pengganggu tersebut, sebagai komponen, dapat berinteraksi dengan estrogen ataupun androgen reseptor serta sebagai antagonis (lawan hormon endogen). Bukti-bukti ilmiah yang ada juga menunjukkan zat pengganggu memodulasi aktivitas atau ekspresi dari enzim steroidegenik. EDC juga berakibat terhadap kelainan dan perkembangan organ seksual. Gangguan itu terjadi sejak dalam kandungan.
Aman mencontohkan, sebuah studi di China pernah mencatat adanya kasus mikropenis pada bayi-bayi yang dilahirkan di suatu wilayah tertentu pada waktu tertentu. Ternyata setelah diteliti, fenomena tersebut terkait dengan kandungan zat kimia (dalam kasus itu pestisida) yang masuk ke dalam tubuh.
Ukuran yang pas
Orangtua dapat khawatir anaknya mikropenis jika penis tampak kecil, kelihatan kulupnya saja, atau penis seperti menyatu dengan kantong zakar sehingga sulit terlihat. Kondisi tersebut ada sejak lahir. ”Untuk ketepatan diagnosis, ukuran penis harus dipastikan dengan teknik pengukuran yang benar,” ujar Aman, yang juga Ketua Unit Kerja Koordinasi Endokrinologi Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Dia mencontohkan, panjang penis bayi baru lahir pada kondisi rileks umumnya 3,1-4,7 cm, anak umur 1 tahun 3,9-5,6 cm, dan anak umur 6 tahun 5,2-7 cm. Kekurangan 2,5 cm dari rentang ukuran normal masih tidak perlu dikhawatirkan. Penis yang kurang dari ukuran normal itu disebut penis kecil dan belum perlu terapi hormon. Namun, jika kekurangannya 2,5 cm lebih dari rentang ukuran normal, anak dapat disebut mikropenis sehingga perlu diterapi.
Mikropenis dan kesuburan merupakan hal yang berbeda. Masalah kesuburan lebih terkait dengan testis (zakar). Belum tentu pemilik mikropenis tidak subur.
Hanya saja, seorang anak mikropenis dengan zakar tidak turun sangat berisiko terganggu kesuburannya. Ada kalanya kasus mikropenis diikuti dengan zakar kecil, zakar tidak turun, atau lubang kencing tidak pada tempatnya (hypospadia).
Bisa ditangani
Orangtua tidak perlu panik atau khawatir. Aman mengatakan, kasus mikropenis dapat ditangani. Sebaliknya, jika tidak ditangani, anak berisiko tetap mikropenis. Kelainan sebaiknya dideteksi dan diatasi sedari dini sehingga segera diterapi. Bahkan, terapi dapat dimulai sejak bayi.
”Sebaiknya, terapi jangan melewati usia pubertas atau masa pertumbuhan (14 tahun),” ujar President Elect Asia Pacific Paediatric Endocrine Society tersebut. Penanganan akan sangat sulit dan efek samping harus dinilai hati-hati.
Dalam terapi, spesialis endokrin anak memberikan hormon testosteron dalam dosis disesuaikan dengan kebutuhan anak. Terapi diberikan 4 kali setiap 3-4 minggu dengan total hanya 4 kali suntikan. Efek samping ringan yang dapat muncul, antara lain, adalah sering ereksi. Ada pula efek samping seperti memacu penutupan lempeng tulang (menghambat pertumbuhan) dan memacu pubertas jika dosis berlebihan, walaupun kasus demikian jarang terjadi. Dengan terapi, penis si kecil pun akan bisa tumbuh dengan baik.
sumber: kompas
Waspadai Bila Anak Anda Memiliki Penis Kecil ,
Anak saya memiliki penis yg ukurannya tdk lbh dari 2 ruas jari sdgkan usianya sdh 19 tahun, apakah ini tmsk mikropenis dan apa msh bisa diterapi dg pemberian hormon testoteron? tks.
Komentar yang Sangat Berguna. Setuju atau Tidak Setuju:
13
4
umur saya sudah 15 th kok penis panjangnya hanya satu ruas jari kelingking dan pada saat bangunnya cuman 10 cm meter bagiat testisnya jga kecil . .
klo blh minta sarannya donk . .
saya mohon krna saya ga pede trus begini . .
Setuju atau Tidak Setuju:
1
0
umur saya 15 thn hampr ke 16,tapi kok penis saya ukurannya 6 cm kalaw ereksi cuman 8,5 cm,
jadi risih kalaw pas ganti baju sama temen dan nggak pd aja,,,
mohon srannya dong,,
Setuju atau Tidak Setuju:
0
0
@ Deny dan HAnf
Untuk saat ini Anda tidak perlu terlalu khawatir karena pada usia Anda adalah usia dimana masa remaja pria sedang mengalami masa akil balik.
Hormon testosteron di sini sangat berperan pada masa akil balik saudara, akan terjadi perubahan pada suara anda, tumbuh rambut pada wajah, ketiak, kelamin, dll, terjadi pula perubahan ukuran penis dan skrotum.
Saya rasa selama Anda menerapkan pola hidup sehat dengan olah raga dan mengurangi makanan seperti Junk food masa akil balik Anda. Namun apabila Anda sudah selesai masa akil balik, tetap tidak terjadi perubahan pada ukuran penis Anda, barulah Anda patuhi khawatir dan disarankan berkonsultasi dengan dokter Anda.
Setuju atau Tidak Setuju:
0
0
Hidden due to low comment rating. Click here to see.
Komentar Tidak Berguna. Setuju atau Tidak Setuju:
0
5
dimana harus konsultasi apabila anak sy umur 9 tahun mempunyai penis 2cm dan ukurannya kecil
Setuju atau Tidak Setuju:
0
0
saya baru disunat,kenapaya penis saya ukuranya jadi pendek,sebelum disunat 12cm lagi ereksi, sekarang jadi sekitar 7cm,saya sudah konsultasi kedokternya kata dokternya entar kulupnya bisa panjang lagi seperti semula,apa bisa?
Setuju atau Tidak Setuju:
0
0