Waspadai Batuk Berkepanjangan

DokterSehat.Com– Namun siapa menyangka, batuk dan influenza ini bisa menjadi penyakit berat yang tidak bisa dianggap enteng. Oleh karenanya, kita perlu mewaspadai hal ini.

doktersehat-sakit-flu-batuk-orang-tua-penumonia-tersedak

“Saya menderita batuk sudah cukup lama. Batuk ini terjadi tidak terus-menerus sepanjang hari,tetapi kalo sudah menyerang, cukup merepotkan. Bahkan istri saya merasa kesal dan terganggu. Saya pikir ini mungkin karena rokok yang saya isap. Dua-tiga bulan terakhir malah bertambah sering dan badan sedikit menurun beratnya. Diluar itu saya tidak menemukan keluhan lain, karena itu saya mulai mengurangi rokok dan makan lebih banyak. Merokok paling banyak saya isap tal lebih dari sebungkus sehari, namun keadaan ini tidak berubah walau sudah sebulan kujalani. Saya merasa khawatir apa ada hubungannya dengan penyakit berbahaya? Apa kanker paru-paru?” Begitulah keluhan dari banyak penderita yang baru mau memeriksakan dirinya.

Akibat gangguan emosi
Buat perokok berat, batuk umumnya dianggap biasa. Demikian pula kalo tubuh makin kurus. Padahal, kedua tanda itu bisa jadi merupakan gejala TBC atau kanker paru-paru. Sebagai gejala,batuk bisa sebagai macam-macam petunjuk adanya penyakit. Misalnya radang menahun pada paru-paru dan salurannya (bronchus). Radang ini dapat terjadi karena rangsangan terus-menerus oleh pengaruh dari luar termasuk asap rokok. Batuk bagi perokok acap dianggap kebanyakan merokok. Jika gejala diremehkan bisa fatal akibatnya. Kalanya juga dijumpai darah dalam dahak. Si “ehem” ini ternyata juga bisa dipicu oleh faktor diluar paru-paru misalnya karena gangguan pada lambung dan saluran makanan dekat lambung.

Anehnya lagi, pembesaran jantung kiri dapat mengundang gejala batuk. Yang tidak disadari oleh banyak orang, gangguan emosi pun bisa mengakibatkan batuk. Batuk sebagai penyakit punya tiga sebab yakni virus, kuman dan alergi. Batuk karena virus itulah yang umum diderita. Batuk karena kuman misalnya TBC dan bronchitis. Batuk karena alergi contohnya asma, batuk ini disertai dengan sesak nafas. Jenis batuk ada 2 yakni batuk basah (berdahak) dan batuk kering (tidak berdahak). Batuk rejan atau dikenal dengan batuk 100 hari masuk dalam kelompok batuk kering. Batuk jenis ini menyerang balita yang diberikan imunisasi DPT, jarang terjadi pada orang dewasa.

Bisa bikin pikun
Jika batuk sudah kronis, mastinya segera dibawa ke dokter. Batuk disebabkan virus,cukup diobati dengan obat batuk yang dijual bebas, tapi perlu hati-hati sebab setiap obat batuk ada efek sampingnya. Selain itu, dosis juga mesti ditepati. Soalnya, kalo pemakaiannya melebihi dosis, akan berakibat pada ginjal. Tak kalah penting adalah memperhatikan kandungan obat bagi penderita tertentu, misalnya sakit maag karena obat batuk yang beredar mencapai ratusan merek.

Baca Juga:  Apa itu Kista?

Bahkan seperti yang diutarakan pada acara ilmiah tentang infeksi saluran nafas di Semarang (29 April 1994) ada obat yang bisa menyebabkan orang tua menjadi pikun, atau mempercepat orang menjadi pikun. Bromida, yang dikandung sebuah obat batuk yang beredar di pasaran bisa mempengaruhi sistem saraf di otak, terutama fungsi daya ingat dan kognitif. Obat batuk biasanya terdiri atas zat pereda batuk dan expectorant. Zat pereda batuk ini tidak dapat menghalau lendir tapi menekan saraf batuk. Efeknya menimbulkan kantuk ringan dan mual. Sedangkan ekspectorant berfungsi mendorong zat-zat asing dari paru-paru dengan mengeluarkan lendir dan mudah dikeluarkan melalui batuk. Zat ini bekerja dengan merangsang permukaan lambung yang mengakibatkan rasa mual dan muntah. Anti tusif ada yang bersifat narkotik seperti codein, biasanya pemakaian jangka lama menyebabkan ketergantungan, dan non narkotik seperti noskapin, dextrometorphan. Anti histamin merupakan anti alergi yang dipromosikan bisa membantu mengeringkan hidung dan melegakan pernafasan, ternyata bisa mengakibatkan saluran nafas menjadi kering dan nafsu makan berkurang.

Faktor resiko
Efektivitas obat sangat banyak faktor. Dalam hal batuk karena virus, bisa jadi penyebabnya adalah daya tahan tubuh yang sedang menurun. Ketika daya tahan tubuh berangsur membaik, batuk bisa lenyap tanpa obat, tapi kalau disertai panas (berarti infeksi) maka perlu obat. Dengan begitu memilih obat pun sangat tergantung pada beberapa faktor antara lain usia, berat badan, kadar obat dalam darah, jenis kelamin, beratnya penyakit dan keadaan penderita.

Pengobatan batuk rasional adalah menggunakan satu ekspektoran/ antitusif, hanya pada kondisi tertentu kombinasi atau penambahan obat lain sesuai penyakit penertanya. Hati-hati masih adanya obat batuk yang tidak menyantumkan kontra indikasi serta hal-hal yang masyarakat harus ketahui dalam penggunaan obat tersebutkarena memiliki faktor resiko terutama pada bayi, wanita hamil dan menyusui serta manula. Oleh karena itu indikasi, kontra indikasi, maupun dosisnya harus ditulis dengan jelas dan tepat.