Waspada Gangguan Psikologis Akibat Kafein

DokterSehat.Com – Kafein, kandungan utama kopi, merupakan zat psikoaktif yang termasuk dalam golongan alkaloid metilxantin. Kopi bukanlah satu-satunya yang mengandung kafein. Banyak minuman lain, makanan, dan obat-obatan yang mengandung kafein. Coklat dan minuman bersoda pun mengandung kafein dalam kadar yang cukup tinggi.

doktersehat-kopi-demensia

Waktu paruh kafein dalam tubuh adalah tiga hingga sepuluh jam dan mencapai kadar maksimalnya tiga puluh hingga enam puluh menit setelah konsumsi. Kafein bekerja dengan mempengaruhi sejumlah neurotransmiter di otak. Kafein dosis rendah hingga sedang (20-200 mg) mampu meningkatkan energi, konsentrasi, dan motivasi untuk bekerja serta mengurangi rasa lelah dan mengantuk. Kafein dengan dosis lebih tinggi yaitu 300-800 mg atau setara dengan beberapa cangkir kopi seduhan sekali minum memberikan efek cemas dan gugup.

Sebagai zat psikoaktif, tentunya kafein mempunyai efek yang signifikan terhadap psikologis peminumnya. Konsumsi kafein secara terus menerus dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan gangguan psikologis mulai dari yang paling ringan yaitu intoksikasi hingga yang berat seperti gangguan tidur dan gangguan cemas.

  1. Intoksikasi Kafein/ Keracunan Kafein

Konsumsi lebih dari 250 mg kafein dapat menimbulkan intoksikasi atau keracunan kafein dalam waktu tidak lama setelah konsumsi. Gejalanya menyerupai gangguan cemas, yaitu gelisah, mudah tersinggung, keluhan fisik berupa kedutan, wajah terasa panas, mual, sering kencing, kesemutan, dan kesulitan tidur. Konsumsi lebih dari 1 gram kafein dapat menyebabkan gangguan berbicara, kebingungan, berdebar-debar, gangguan pendengaran dan penglihatan. Lebih parah lagi, konsumsi lebih dari 10 gram kafein dapat menyebabkan kejang, gagal napas, hingga kematian.

  1. Ketergantungan Kafein

Konsumsi kafein dalam jangka waktu lama dan terus menerus dapat menyebabkan gejala ketergantungan berupa nyeri kepala dan rasa lemas yang disertai gejala lain seperti cemas, mudah marah, depresi, mual, muntah, keinginan untuk mengkonsumsi kafein, nyeri otot, dan kekakuan. Gejala ini umumnya muncul 12 hingga 24 jam setelah konsumsi kafein terakhir, puncaknya pada 24 hingga 48 jam, dan membaik dalam satu minggu.

  1. Gangguan Cemas Akibat Kafein
Baca Juga:  Sikap Hidup Optimis Baik Untuk Kesehatan dan Mencegah Penyakit Stroke

Gejala yang disebutkan hampir sama dengan yang di atas, hanya saja gejala ini menetap hingga waktu yang lebih lama.

  1. Gangguan Tidur Akibat Kafein

Gangguan ini meliputi kesulitan untuk memulai tidur, mempertahankan tidur, dan biasanya penderita bangun pagi-pagi sekali.

Di samping berpengaruh terhadap psikologis, kafein juga memiliki berbagai efek fisiologis. Kemampuan vasokontriktornya dianggap sebagai faktor risiko untuk terjadinya hipertensi dan penyakit jantung. Kafein juga tidak disarankan untuk dikonsumsi oleh penderita GERD dan wanita hamil. Dosis kafein yang tinggi diduga berhubungan dengan berat bayi lahir rendah (BBLR).

Nah, mulai sekarang batasi dosis kafein harian Anda. Kurangi dosis kafein hingga sepuluh persen setiap beberapa hari. Bila Anda mengalami gejala-gejala di atas segera periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan pertolongan dan pengobatan yang tepat.

Sumber:

Kaplan & Saddock’s Synopsis of Psychiatry Behavioral Sciences/ Clinical Psychiatry.