Wanita Bertubuh Tinggi Lebih Berisiko Kena Kanker

DokterSehat.Com – Bagi wanita, punya tubuh tinggi memang lebih menjanjikan bila ingin berkarir di bidang modeling hingga pramugari. Namun, harus waspada, peneliti menemukan wanita bertubuh tinggi berisiko lebih besar terkena kanker.

7

Saat usia di atas 50-an atau pasca-menopouse, segala jenis kanker yang menyerang payudara, usus besar, endometrium, ginjal, ovarium, rektum, dan tiroid, serta multiple myeloma dan melanoma lebih mudah menyerang.

Peneliti memilih 20.928 wanita yang telah melewati masa menopause dan berusia antara 50 – 79 tahun. Mereka telah terkena satu jenis kanker atau lebih selama 12 tahun masa penelitian. Bahkan setelah peneliti menghitung faktor lain seperti usia, berat badan, kebiasaan merokok dan minum alkohol, serta terapi hormon, hasilnya masih menunjukkan bahwa wanita tinggi lebih berisiko terkena kanker.

Setiap tambahan 10 cm tinggi bawah, risiko kanker wanita bertambah 13 persen. Secara spesifik, terdapat peningkatan risiko kanker darah, ginjal, anus, serta tiroid hingga 23 – 29 persen untuk setiap penambahan berat badan empat inci. Untuk kanker payudara, ovarium, usus besar, dan melanoma terdapat penambahan risiko hingga 13 – 17 persen.

Penelitian sebelumnya telah mengungkap bahwa wanita bertubuh tinggi lebih berisiko kena kanker ovarium. setiap penambahan dua inci tinggi badan, wanita memiliki risiko 7 persen lebih tinggi. Menurut penulis penelitian Dr Thomas Rohan dari Albert Einstein College of Medicine, terdapat dua faktor yang mempengaruhi hal ini. Pertama adalah faktor genetis, dan kedua berkaitan dengan pengaruh lingkungan.

Meski begitu, Rohan berpendapat bahwa wanita tinggi tak harus khawatir dan panik karena hasil penelitian ini. Menurutnya, risiko kanker masih bisa diturunkan dengan mengurangi faktor risiko lainnya seperti menjaga gaya hidup sehat dan mengurangi kebiasaan buruk, seperti dilansir oleh CBS News (25/07).

Meski penelitian ini hanya dilakukan pada wanita yang sudah mengalami menopause, namun peneliti berpendapat bahwa hal ini juga bisa berlaku pada wanita yang belum mengalami menopause atau bahkan pada pria. Selanjutnya peneliti akan melakukan penelitian pada populasi lainnya.