Udara Kotor Yang Terhirup Ibu Hamil Juga Berefek Pada Bayinya

DokterSehat.Com – Setiap harinya, secara tidak sadar ibu hamil yang menjalani aktivitas sehari-hari, pasti akan terpapar berbagai dengan berbagai jenis unsur yang ada didalam.
Bentukanyapun beraneka ragam ada yang berbentuk zat kimia, radiasi gelombang elektromagnetik serta berbagai jenis microorganisme baik maupun jahat yang terbawa di udara. Perlu diketahui, sebagian besar unsur-unsur tersebut diatas, memiliki resiko yang cukup tinggi terhadap kesehatan, serta proses tumbuh kembang janin yang sedang berlangsung.
Bukti menunjukkan bahwa beberapa komponen pada udara kotor berdampak pada perilaku dan kognitif saat anak terlahir di dunia.

8479006257_90a09b7f02_b

Dalam studi terakhir yang dipublikasikan JAMA Psychiatry, para peneliti untuk pertama kali menunjukkan area otak yang terpengaruh jika ibu hamil terkena asap knalpot kendaraaan bermotor jenis polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH). Paparan PAH terkait dengan keterlambatan perkembangan secara fisik, IQ verbal yang lebih rendah, kecemasan, dan masalah perhatian.

Kajian ini dilakukan dengan meneliti 40 ibu dan anak-anak yang tinggal di tengah kota. Berdasarkan penghitungan PAH di sekitar tempat tinggal mereka, sekitar setengah partisipan memiliki paparan PAH rendah, sementara sisanya tinggi.
Dampaknya sangat kuat. Semakin tinggi paparan PAH saat hamil, semakin besar masalah white matter pada anak-anak.

Hal ini memperbesar risiko anak menjadi agresif dan lambat perkembangan kognitifnya, terang pemimpin penelitian sekaligus direktur Institute for the Developing Mind at Children’s Hospital Los Angeles, dr. Bradley Peterson.
White matter merupakan salah satu bagian di otak yang terdiri dari saraf-saraf yang menghubungkan bagian dalam otak seperti dilansir laman Time, Kamis (26/3/2015).

Paparan polusi udara ini masuk dalam darah dan beredar ke otak. Tertangkap, bahwa paparan polusi lebih banyak berpengaruh terhadap otak sebelah kiri.

Baca Juga:  Ibu Hamil Akan Cenderung Lebih Sering Berkeringat

BACA JUGA : Menyusui Belum Tentu Bebas Dari Kanker Payudara