Tuberkulosis (TBC) Pada Anak – Sekilas Info, Prevalensi di Dunia dan di Indonesia

Tuberkulosis (yang lebih sering dikenal dengan nama plek paru) merupakan penyakit multisistemik dengan bentuk klinis yang bermacam-macam. Tuberkulosis adalah penyebab paling umum kematian di seluruh dunia terkait dengan penyakit menular. Penyakit ini menjadi lebih semakin meningkat di seluruh belahan dunia khususnya di negara berkembang. Selain itu, prevalensi TB resistan (tidak mempan) terhadap obat juga meningkat di seluruh dunia. Ketidakmempanan obat antibiotik terhadap TBC diakibatkan adanya koinfeksi dengan virus human immunodeficiency (HIV) yang kini semakin menyebar luas. Maka, rejimen deteksi dini HIV dan TBC saling silang, yaitu, pasien yang terkena TBC wajib dicek HIV, dan pasien yang terkena HIV wajib untuk dicek TBC.

doktersehat-tbc-pada-anak-batuk-tuberkulosis-tersedak

Setiap hari, 200 anak meninggal karena tuberkulosis (TB). Padahal, TB adalah penyakit yang dapat dicegah dan dapat diobati. Sekitar setengah juta anak di dunia jatuh sakit karena TB setiap tahun dan berjuang dengan obat-obatan antituberkulosis di mana obat-obatan tersebut tidak bersahabat dengan anak-anak.

TB pada anak seringkali terlewatkan untuk didiagnosis karena gejalanya tidak seperti orang dewasa yang batuk selama 2 minggu. Pada anak-anak, gejalanya tidak spesifik. Hal inilah yang menjadikan TB pada anak suatu epidemik, yaitu di mana jumlah yang tercatat tidak sebanyak kenyataan yang terjadi di kehidupan realita.

Hal ini merupakan suatu masalah yang perlu diprioritaskan dan memerlukan komitmen di berbagai bidang dari segi pendanaan, kebersihan, dan kepedulian terhadap nyawa anak-anak agar tidak meninggal karena hanya penyakit plek paru ini.

Berapa banyak anak yang terkena TB?
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan pada tahun 2015 sebanyak 1 juta anak-anak di seluruh dunia menderita TB (anak-anak berusia <15 tahun), dan lebih dari 136.000 meninggal setiap tahun. Ini adalah perhitungan untuk anak-anak yang tidak memiliki HIV, karena anak-anak yang menderita TB dan juga menderita HIV positif lalu meninggal, akan diklasifikasikan meninggal bukan karena TB-nya, tetapi karena HIV-nya.

Baca Juga:  Gangguan Kepribadian Skizoid - Penyebab, Diagnosis, Pengobatan, dan Komplikasi

Banyak orang percaya bahwa angka di atas lebih sedikir dari jumlah sebenarnya di dunia nyata. Sekitar 70 – 80% anak-anak dengan TB memiliki jenis TB di paru (TB pulmoner). Sisanya memiliki TB di organ tubuh lainnya (TB ekstrapulmoner).

Dalam manajemen TB berat telah tercatat bahwa 15-20% dari semua kasus TB berat di antaranya adalah anak-anak, sedangkan pada manajemen TB ringan diperkirakan 2-7% dari semua kasus TB ringan adalah anak-anak.

Obat TB yang resistan juga merupakan masalah pada anak-anak. Diperkirakan lebih dari 30.000 anak-anak menjadi sakit TB setiap tahun dengan strain TB yang resisten multi-obat (MDR-TB). Juga, sebuah survei RNTCP di India, menemukan bahwa 9% dari anak-anak dengan TB yang sudah resisten terhadap rifampisin, sebelum mereka memulai pengobatan. Ini berarti bahwa mereka telah terinfeksi TB pada bakteri yang resisten terhadap obat

Di Indonesia, proporsi kasus TB anak di antara semua kasus yang diobati pada tahun 2007–2013 berkisar pada angka 7,9–12%. Angka ini masih berada pada batas normal proporsi kasus TB anak. Tiap propinsi, kabupaten/kota, dan tiap fasilitas pelayanan kesehatan memiliki proporsi yang berbeda.